12 Mei 1998
"Sa, kamu udah sampaikan pesan aku ke Arga?" tanya Kirana sambil mengaduk minumannya yang ia pesan di kantin.
"Udah. Kenapa nggak ngomong sendiri saja? Kalian berantam?" bingung Sasa sambil melahap nasi goreng pesanannya.
"Nggak," balas Kirana.
Sudah seminggu Naira tampak gelisah, karena ia tau tanggal terjadinya tragedi semakin dekat. Ia juga tidak tau Arga akan hilang di rute mana dan jam berapa. Namun, ia sudah mulai mencari informasi lebih lanjut.
Naira juga tau, bundanya merasa bersalah atas musibah yang menimpa Arga, dan sepertinya sangat masuk akal dengan yang mereka bicarakan saat itu.
"Memangnya kamu sampaikan pesan apa ke Arga?" tanya Naira, hati-hati.
"Cuma suruh ke kafe yang sering mereka datangi," sahut Sasa duluan.
"Kafe mana?"
"Kafe Melodi," balas Kirana.
"Jam berapa?"
"Tiga sore, setelah aku ambil dokumen sama dosen."
Naira mengangguk, lalu menyeruput minumannya untuk merilekskan diri. Naira tidak tau kapan Arga menghilang, setelah bertemu Kirana atau sebelumnya?
Naira ingin menggali lebih jauh, tapi takut terlihat mencurigakan. Ia tidak bisa bertanya lebih dari itu. Ingin sekali rasanya langsung mencegah Kirana membuat perjanjian itu, tapi hanya tertahan di tenggorokan, sebab Naira tidak punya alasan yang kuat untuk menjawabnya.
Malamnya, telepon rumah berdering bergantian, teman sefakultas Raka yang masih berada di kampus meneruskan pesan dari satpam, bahwa rektorat baru saja mengeluarkan surat edaran jika besok kampus diliburkan sementara akibat situasi yang disebabkan oleh demonstrasi semakin tidak kondusif.
Malam itu mereka saling mengabari satu sama lain, sebab rata-rata mahasiswa sudah tidak berada di kampus.
***
Keesokannya, Kirana mengira janjinya akan tetap berlaku, tapi melihat situasi memburuk, ia memutuskan untuk membatalkan pertemuan. Tanpa Sasa sebagai perantara, Kirana menelepon Raka menggunakan telepon rumah.
Sambungan telepon terhubung. Suara wanita paruh bayar terdengar dari seberang.
"Halo?"
"Halo, Bi? Arga ada?" tanya Kirana, begitu menyadari suara asisten rumah tangga di rumah Arga yang mengangkat telepon.
"Arga tadi udah keluar, Non."