Sudah beberapa menit yang lalu Naira pamit pada Kirana dengan mengatakan bahwa ia ingin mencari Arga sebab perasaannya tidak enak.
Asap telah bercampur dengan langit jingga. Rintik hujan perlahan turun. Naira belum tau benar rute mana yang Arga lewati, tapi ia terus mencari. Naira berlari di antara kerumunan.
Takut, tapi tetap memberanikan diri. Apa pun yang terjadi, ia harus menyelamatkan Arga, pikirnya.
"Arga!" pikik Naira memanggil nama Arga berharap lelaki itu menyahut.
"Arga, kamu di mana?!"
Naira sesekali terhuyung karena tertabrak orang-orang yang berdesakan. Entah keberanian dari mana, Naira mengikuti beberapa rombongan yang berlarian melewati gang-gang.
Sesekali Naira bertanya kepada seseorang dengan menyebutkan ciri-ciri Arga, ia sedikit frustasi sebab tidak ada ponsel canggih di zaman itu, sehingga menyulitkan perpindahan infomasi.
"Pak, maaf, lihat anak cowok seusia saya yang lewat sini? Tinggi, kulitnya cerah, rambut sedikit keriting, punya lesung pipi?"
"Nggak, Neng."
Naira berhenti di tengah jalan. Matanya mulai berkaca-kaca sambil menyapu pandangan ke sekitar. Berharap menemukan sosok Arga. Namun, berbagai asumsi mulai melintasi pikirannya.
"Nggak ... Arga harus selamat!"
Naira berpindah pada beberapa orang berikutnya. Hingga bertemu beberapa anak laki-laki yang usianya tidak jauh darinya.
"Mas, maaf, lihat anak cowok seusia saya? Tinggi, kulitnya cerah, rambut sedikit keriting, punya lesung pipi?"
Mereka saling menatap lalu menggeleng. Naira mendesah.
"Eh, bukannya yang tadi di belakang kita?" sahut lelaki paling ujung setelah mengingat-ingat.
"Oh, iya. Ciri-cirinya mirip. Tadi ada di belakang, sekarang mana, ya?"
Naira sedikit menemukan titik terang, walau samar.
"Tadi di mana, Mas?"
"Yang tadi ikut kita lewat gedung tua, bukan?"
"Iya!"
"Oh, iya, kayaknya benar. Tadi sama kita lewat gang sana," tunjuknya ke arah gang yang mereka lewati.
"Tapi nggak tau kapan pisahnya," senggol temannya.
"Iya, tapi kita nggak sadar kapan pisahnya, nggak tau sekarang di mana."
"Mas, terima kasih, ya!" Naira menunduk sopan lalu buru-buru ke arah yang mereka tunjuk.
"ARGA!" teriak Naira sambil terus melangkah.
Naira tiba di sebuah kompleks bangunan tua. Dilihatnya situasi di sekitar cukup menandakan sempat terjadinya kekacauan.
"Arga!"
"Kamu di mana?!"
"Arga, bisa dengar suara aku?"
Hingga Naira melihat bangunan tua satu-satunya di ujung sana yang telah runtuh sebagian. Entah kenapa langkah kakinya menuntun dirinya menuju tempat itu.
"Arga?" panggil Naira, ragu.
Gelap, sepi. Baru saja Naira hendak berbalik, suara batuk dari dalam menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan mata membulat.
"Arga?!"
Naira memilih masuk lebih jauh dengan hati-hati.
"Nai?"
Naira membeku, ia mengenali suara itu. Ia mencari arah sumber suara.
"Di ... sini ...," lirih Arga.
Naira menyipitkan matanya melihat kaki di balik reruntuhan.