The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #27

26. Kehidupan Baru

Hari-hari setelah Arga keluar dari rumah sakit berjalan perlahan. Arga merasa seperti hidup di dunianya yang baru, sebab tidak ada lagi obrolan panjang antara dirinya dan Kirana seperti dulu, tidak ada lagi canda tawa yang selalu ia tunggu-tunggu. Arga tidak marah pada Kirana. Ia justru belajar, tidak semua cinta pertama harus selalu saling memiliki. 

Kirana sendiri juga mulai menjalani hari-harinya. Raka berada di dekatnya, tapi masih sebagai teman. Bukan sebagai pengganti Arga. Dari hubungan yang lalu, Kirana belajar satu hal. Cinta yang sebenarnya tidak selalu mendebarkan, justru cinta yang sebenarnya terkadang selalu membuat nyaman dan merasa seperti "pulang". 

Raka tau apa yang terjadi pada hubungan Kirana dan Arga, tapi ia sama sekali tidak ada pikiran untuk mengambil kesempatan merebut Kirana. Ia hanya akan selalu ada untuk Kirana di saat membutuhkan bantuan. Tidak banyak berubah tentang mereka, interaksinya masih sama seperti dulu. 

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Arga mulai berdamai dengan masa lalunya, sedangkan Kirana mulai terbiasa mencari Raka kala ingin bercerita. Kirana tidak lagi bingung pada siapa sebenarnya hatinya berlabuh. Ia mulai lebih sering tersenyum. 

Naira yang selalu memperhatikan Kirana pun ikut bahagia. Bunda tidak lagi memilih karena keadaan yang mendukung, tapi benar-benar memilih dari hati, tanpa ada penyesalan. 

Januari 1999

Sore yang teduh di taman kampus, dua sejoli berjalan berdampingan. 

"Kirana."

"Hm?" 

"Belakangan ini sadar nggak kalau kita hampir tiap hari selalu bareng?"

Kirana hanya tertawa kecil. "Kenapa memangnya?" Ia melirik Raka yang tersenyum menatap jalan.

"Kalau bareng terus aja, bagaimana?" tanya Rak, ia berhenti, membuat Kirana refleks ikut menghentikan langkah.

"Maksudnya?"

"Iya ... jadi pacarku saja." 

Kirana menunduk menahan senyuman. 

"Aku suka kamu, Kir."

"Aku juga," balas Kirana malu-malu.

"Kita jadian?" tanya Raka mencoba mencari semburat merah yang disembunyikan Kirana.

Gadis itu hanya mengangguk. 

***

Bumi berputar dengan waktu yang tidak terasa. Calon mahasiswa yang empat tahun lalu berbondong-bondong mendaftar di universitas impian masing-masing, kini telah menjadi wisudawan. Toga hitam, bunga-bunga, dan suara tawa memenuhi angkasa. 

Naira, Kirana, Sasa, Raka, dan Arga berada di halaman kampus. Mereka sedang merapikan toga masing-masing yang berada beberapa meter di depan kamera. Mereka mengambil posisi masing-masing dan bergaya ke arah kamera. Senyuman merekah sempurna di wajah mereka. 

Mereka menyayangkan Wawan dan Adhi yang seharusnya bergabung bersama mereka, tapi karena memang beda kampus, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Paling-paling memakai toga bersama di luar hari kululusan. Seperti waktu foto bersama menggunakan jas almamater dulu.

Sampai akhirnya, mereka melempar topi toga bersamaan ke udara saat hitungan ketiga dari kameramen. Tawa pecah. 

Naira berdiri di antara mereka. Memandangi teman-temannya dengan senyuman tipis. Setidaknya sampai detik itu, semuanya terasa seperti akhir yang bahagia. Namun, Naira tau, ini belum akhir dari segalanya. 

Ini ambang menuju kehidupan baru.

Dan masa depan Naira dan Kirana dipertaruhkan pada misi terakhirnya.

***

Seragam toga sudah tersimpan rapi di dalam lemari. Foto-foto wisuda memenuhi album maupun figura yang terpajang di beberapa tempat. Kehidupan baru mulai berjalan.

Raka menghabiskan sebagian besar waktunya di toko bahan bangunan bersama ayahnya. Kegiatannya tak lain adalah memeriksa barang, melayani pelanggan, dan menghitung pemasukan. 

Naira tau tahun itu Adhi menawarkan proyek pada Raka, tapi ia tidak tau kapan tepatnya. Jadi, Naira memutuskan untuk sering ke toko membantu Raka. 

Hingga suatu hari, Naira lihat Raka semakin sering menerima telepon dan mereka membicarakan proyek. Beberapa kali juga ia melihat Raka membaca proposal di balik meja kasir. 

Mencegah kerja sama proyek yang akan ditawarkan Adhi ke Raka memang tidak sebahaya menyelamatkan nyawa Arga di tragedi Mei 1998 beberapa waktu lalu, tapi justru lebih mengerikan. Naira cukup takut untuk menghadapinya. 

***

Lihat selengkapnya