The Unwritten Child

Meliyana Jia
Chapter #28

27. Akhir Yang Berbeda

Di bawah gemintang yang membentang di langit. Raka duduk di meja belajarnya ditemani lampu belajar dengan cahaya remang-remang.

Raka kembali membaca bagian keuntungan di proposal. Angkanya memang cukup untuk mengembangkan toko, membuat usaha mereka naik beberapa tingkat. Lalu pandangannya turun pada bagian pinjaman. Jumlahnya jauh lebih besar daripada modal yang mereka punya.

Ucapan Naira kembali terlintas di kepala.

"Coba bayangkan, kalau suatu hari proyek gagal, terus agunannya hilang. Siapa yang bakal tanggung jawab? Kalian sendiri, bukan? Besar risikonya, cari yang lebih kecil."

Raka menepis pikirannya. "Naira khawatir berlebihan."

Namun, beberapa detik kemudian, angka-angka itu terasa menghantuinya. Ia kembali membaca angka-angka yang tertera.

Jika sewaktu-waktu proyek terhambat, pinjaman tetap berjalanan, agunan bisa terancam hilang. Apalagi agunan yang terlintas di pikiran Raka saat itu adalah tanah belakang toko.

Raka memejam sebelum beranjak menemui ayah dan ibunya di ruang tamu.

"Yah, Bu," panggil Raka.

"Iya, Ka?" sahut ayah Raka tanpa menoleh, ia sedang fokus menonton televisi. Sementara ibu Raka sedang mengelap meja makan.

"Tadi Adhi datang tawarkan proyek ini ke aku."

Ibu Raka melirik sekilas, sebelum akhirnya ke dapur untuk mencuci kain bekas lap meja dan kembali bergabung.

Ayah Raka menyambut proposal itu. Membacanya perlahan.

"Nilainya cukup besar, ya," gumam ayah Raka.

Raka mengangguk. "Modal kita nggak cukup, kalau ambil proyek ini, kemungkinan harus pinjam, Yah, Bu."

Ayah Raka menatap putranya. "Berapa?"

"Empat ratus juta."

Suasana seketika hening. Ayah Raka kembali menatap proposal.

"Bank minta agunan, nggak?"

"Adhi bilang udah nanya, bank minta agunan."

Ayah Raka mengubah posisi menjadi bersandar.

"Agunan yang ktia punya satu-satunya cuma tanah belakang toko. Kalau dijadikan jaminan, risikonya besar, Nak."

Naira dari luar rumah masuk, langkahnya terhenti saat mendengar ayah Raka membicarakan agunan. Perlahan ia menimbrung dengan mereka.

"Proyeknya bagus?" tanya ayah Raka.

"Dari proposal, bagus."

"Kalau menurut kamu?"

"Kemungkinan bagus."

Ayah Raka mengangguk setuju, menurutnya juga bagus. "Tapi, proyek yang bagus, tidak menjamin aman, Nak."

Ibu Raka mengangguk, ia mengelus kepala putranya yang tertunduk.

Naira hanya diam memperhatikan.

"Kalau proyek ini gagal, siapa yang tanggung?" tanya ayah Raka.

"Keluarga, Yah."

"Benar, keluarga."

"Raka sendiri tau toko kita dibangun bertahun-tahun. Tanah di belakang juga bukan sekadar sebidang tanah."

Raka mendongak, tapi tidak berkata apa-apa. Hanya mencerna kalimat demi kalimat dari ayahnya.

"Kalau kehilangan semua itu hanya demi mengejar keuntungan besar ... Ayah nggak mau." Ayah Raka menggeleng.

"Jadi Ayah dan Ibu nggak setuju?"

"Ayah nggak bilang proyeknya jelek, Ka. Hanya saja keluarga kita belum ada di posisi itu untuk mempertaruhkan aset yang kita punya."

Naira tersenyum lega, kepalanya menunduk seakan ada harapan baru di masa depan.

Terdengar helaan napas dari Raka.

"Kalau gitu, aku tolak, ya."

"Menurut Ibu, itu keputusan yang tepat," celetuk Ibu Raka.

Raka mengangguk menurut, ia tidak akan memaksa karena mengerti keluarganya. Ia beranjak pamit kembali ke kamar membawa proposal tersebut. Naira menyusul dari belakang.

Lihat selengkapnya