#1—WHITE TEA & BLUE EYES

Gedung Vane Hospitality Group bukan sekedar kantor. Itu adalah monumen ambisi yang menjulang menembus awan di pusat kota. Signature scent berupa teh putih dengan sentuhan jeruk nipis mengalir melalui sistem tata udara—aroma yang sama dengan yang menyambut tamu di hotel-hotel Vane di berbagai belahan dunia.
Xavier Carly, Vice President, yang biasa dipanggil Xavy—berdiri di depan jendela kaca raksasa di lantai 51, menatap barisan mobil mewah di parkiran bawah. Jas hitam slim-fit itu jatuh sempurna di tubuhnya, memberi kesan rapi tanpa usaha. Sepasang mata birunya menatap cakrawala dengan rasa jenuh yang familiar.
Xavier menekan tombol lift lobby dengan gerakan yang tenang namun definitif. Dia tidak butuh kemarahan untuk menunjukkan kekuasaannya, cukup dengan kehadirannya, udara di lobi lantai 51 terasa menipis. Bagi Xavier, waktu adalah uang, dan menunggu adalah pemborosan yang tidak bisa ia tolerasi.
Pintu lift eksekutif berbahan stainless steel itu menutup perlahan. Ketika ruang itu bener-benar kedap suara, Xavier menghembuskan napas perlahan. “Bloody hell,” gumamnya rendah dengan aksen british-nya. Riska, asisten eksekutifnya, benar-benar tidak bisa dihubungi karena sedang mengurus tamu VIP dari luar negeri. Sebagai Vice President, Xavier tidak terbiasa menunggu.
TING.
Pintu lift terbuka. Xavier melangkah keluar dengan langkah lebar yang angkuh. Aroma teh putih dari lantai atas perlahan memudar, digantikan oleh bau kertas, lem dan sedikit aroma paint thinner dari area Creative Hub.
Ia tidak repot-repot menyapa karyawan lain yang menunduk takut ataupun curi pandang penuh kekaguman saat ia lewat. Tatapannya menyapu ruangan itu seperti radar, mencari siapa pun yang bisa memberikan apa yang ia butuhkan. Di tengah deretan meja minimalis yang rapi, meja Camila Idris—atau Mila—adalah satu-satunya pengecualian. Meja kerjanya adalah anomali di tengah deretan kubikel yang rapi. Ada tablet digital yang menyala, tumpukan sampel kain beludru, moodboard fisik, dan secangkir latte yang hampir dingin.
Mila sedang menunduk, menggoreskan pena digital ke atas tabletnya sambil menggumamkan lagu pop yang disukainya. Ia tidak menyadari bahwa suasana kantor mendadak berubah hening.
Sebuah bayangan tinggi menjulang di atas mejanya, menelan cahaya lampu meja Mila. Aroma parfum yang mahal—khas pria yang hidup di kelas atas—tiba-tiba memenuhi indra penciumannya.
“The Q3 moodboard. It’s overdue.”
Suara itu rendah, tajam, dan memiliki aksen british yang aristorat namun dingin. Mila tersentak hampir menjatuhkan tabletnya. Ia mendongak, dan napasnya seolah terputus di tenggorokan.
Xavier berdiri di sana. Dia tidak memaksakan kehadiran, namun entah bagaimana keberadaannya secara instan mendominasi seluruh ruangan. Dia bukan predator yang menderu, melainkan sosok yang tenang dan sangat terukur—tipe pria yang tahu persis apa yang ia inginkan dan tidak akan ragu untuk mengambilnya.
“P-Pak Xavier?” Mila gagap, jantungnya berdegup tidak karuan.