Eryx Valen merasa hidupnya terlalu… biasa.
Di kota Aetherion Prime, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Jalanan dipenuhi kendaraan berdesis, lampu neon berkedip di setiap sudut, dan suara riuh pasar malam bercampur dengan musik dari restoran-restoran kecil. Kota itu seperti jantung yang berdetak tanpa henti—selalu bergerak, selalu berisik, dan selalu penuh kejutan.
Tapi bagi Eryx, semua itu hanyalah latar belakang dari rutinitas yang membosankan: sekolah, PR, dan pergi dengan pacarnya, Anne.
Hari itu, matahari baru saja tenggelam di balik menara kaca yang menjulang. Langit berubah menjadi ungu keemasan, sementara lampu jalan mulai menyala satu per satu. Eryx berjalan pulang dari sekolah, tas di punggungnya, wajahnya penuh ekspresi bosan.
“Valen!” Suara Anne memanggil dari belakang. Anak itu berlari kecil, rambut cokelatnya berantakan, napasnya terengah. “Tunggu aku!”
Eryx menoleh, mengangkat alis. Ia tidak suka dipanggil Valen. Baginya, nama itu tidak cocok dengan dirinya. Hanya Anne yang berani memanggilnya demikian.
Anne akhirnya dapat menyusul pacarnya. Ia merangkulkan lengan mungilnya ke leher Eryx, membuatnya kesulitan bernapas.
“Lain kali jangan main tinggal seperti itu, ya. Kau, kan, tahu jalanku selalu lambat.”
Eryx hanya mengangguk-angguk pasrah. Ia senang bersama Anne. Namun, ia tidak suka cara Anne mendekat padanya. Anne selalu merangkulkan lengannya pada Eryx, membuatnya merasa risih. Namun ia tak punya pilihan lain. Jika tak ingin kehilangan satu-satunya teman, Eryx harus menahan itu semua, bahkan meskipun pipinya memerah.
Mereka berdua berjalan berdampingan melewati jalan utama Aetherion Prime. Kota itu memang unik: gedung-gedung modern berdiri megah, tapi di sela-selanya masih ada reruntuhan kuno yang dibiarkan begitu saja, seperti monumen yang tak pernah dijelaskan. Orang-orang menyebutnya “sisa-sisa Aetherion Lama”, tapi tak ada yang benar-benar tahu sejarahnya.
Eryx sering bertanya-tanya, Kenapa kota ini punya begitu banyak misteri?
***
Mereka berhenti di sebuah jembatan tua yang melintasi sungai. Airnya berkilau memantulkan cahaya lampu kota. Di atas jembatan, ada ukiran aneh di batu. Setiap kali melewati tempat itu, Eryx merasa ada sesuatu yang bergetar di dadanya, seperti panggilan samar.
“Eh, Valen,” Anne menunjuk ukiran itu, “apakah kau pernah bertanya-tanya, mengapa ukiran di batu-batu ini tidak pernah dihapus? Kenapa orang membiarkannya berada di sini, meskipun diinjak banyak pejalan kaki?”
Eryx menatap ukiran itu. “Aku tidak tahu. Mungkin… mereka tidak ingin jembatan ini polos. Makanya mereka menambahi dekorasi kuno seperti simbol-simbol ini.”