The Veil of Forgotten Kings

Kiara Hanifa Anindya
Chapter #2

2

Anne masih terpaku di jendela. Matanya melebar. Eryx bangkit, berdiri di samping pacarnya.

“Ini tidak mungkin,” gumam Eryx. Ia mencoba menarik gelang itu, memutar, bahkan mengguncang tangannya, tapi benda itu seolah menyatu dengan kulitnya.

Anne mendekat. “Valen… gelang ini bukan benda biasa. Aku yakin pria tua tadi sengaja menunjukkannya padamu, tapi kau tak melihatnya.”

Eryx menoleh, menatapnya dengan tatapan bingung. “Kenapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya orang biasa, sama seperti dirimu.”

Anne menggigit bibirnya. “Mungkin bagi seseorang… kau bukan orang biasa.”

Suara dentuman tiba-tiba terdengar dari luar. Seluruh bangunan rasanya bergetar. Eryx dan Anne saling bertatapan, lalu menuju balkon. Dari atas, mereka melihat sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan: bayangan hitam merayap di jalanan, membentuk sosok-sosok dengan mata merah menyala.

“Makhluk apa itu?” bisik Anne dengan suara bergetar.

Eryx menelan ludah. “Aku… aku tidak tahu.”

Bayangan itu bergerak cepat, menembus kerumunan orang di pasar malam. Anehnya, orang-orang tampak tak menyadari. Mereka tetap berbelanja, tertawa, seolah bayangan itu tidak ada.

Anne menatap Eryx. “Valen… hanya kita yang bisa melihatnya.”

Gelang di tangan Eryx berkilau lagi, kali ini lebih terang. Cahaya itu memancar dan membentuk lingkaran tipis di udara. Bayangan di jalanan berhenti, menoleh ke arah balkon. Mata merah mereka menatap langsung ke Eryx.

“Aduh, aduh,” Eryx mencengkeram gelangnya. “Untuk apa, sih, gelang ini bersinar? Mereka jadi melihatku.”

Anne panik. “Apa yang harus kita lakukan?”

Terdengar napas Eryx terengah-engah. “Anne, aku merasakan hal buruk yang akan terjadi. Sembunyi, Anne, sembunyi!”

Bayangan itu mulai memanjat dinding menara. Anne menjerit, mundur ke dalam kamar. Gelang di tangan Eryx bergetar, lalu memancarkan cahaya dengan lebih kuat. Kakinya juga kaku, membuatnya ketakutan setengah mati dan nyaris pingsan.

Tiba-tiba, sebuah simbol muncul di udara—mirip dengan ukiran di jembatan. Simbol itu berputar, lalu meledak menjadi kilatan cahaya. Bayangan yang hampir mencapai balkon terhempas, jatuh ke jalan, lalu menghilang.

Lihat selengkapnya