Di tengah padatnya antrean bagasi di Bandara Sydney, Gigi segera menghubungi Ressa.
To Ressa:
"Ress, gue telat dikit yaa. i just landed in sydney, but there's still some urgent business i need to handle. send me your location, i'll be there asap."
Setelah mengambil kopernya, Gigi tidak langsung menuju hotel. Wanita dengan setelan kasual itu memilih memesan Uber dan menuju sebuah kafe di kawasan kuliner Surry Hills.
Pagi itu Sydney sedang cerah.
Jalanan belum terlalu padat, namun cukup ramai oleh para pekerja yang berlalu-lalang memulai aktivitas mereka.
Begitu memasuki kafe, aroma kopi dan roti panggang segera menyambut indera penciumannya.
Suasana di dalam cukup ramai, tetapi tetap tenang dan nyaman. Sebagian besar pengunjung sibuk dengan urusan masing-masing.
Di dekat jendela yang menghadap jalan, seorang perempuan tampak tenggelam dalam novel yang dibacanya. Segelas iced matcha dan sepotong pastry menemani paginya.
Tak jauh dari sana, empat orang duduk mengelilingi meja bundar. Sesekali terdengar tawa kecil ketika mereka bergantian mengambil foto bersama.
Sementara di area dekat kasir, beberapa pengunjung terlihat bekerja dengan laptop terbuka dan tumpukan dokumen tipis yang memenuhi meja.
Gigi berjalan menuju konter pemesanan.
"Morning, can I get an iced americano and some water, please? And I'd like the mac and cheese with a little extra salt and a bit of pepper. Thanks."
Setelah pembayaran selesai, ia menerima kembali kartu debitnya dan memilih duduk di meja sudut dekat stopkontak.
Laptop segera dibuka.
Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, meski sesekali wanita itu mengembuskan napas panjang.
Hari itu seharusnya menjadi hari pertamanya menikmati waktu libur setelah berminggu-minggu disibukkan pekerjaan. Namun beberapa urusan yang belum selesai memaksanya tetap membuka laptop bahkan sesaat setelah mendarat.
Di sisi lain, ia juga telah berjanji bertemu dengan Ressa.
Membuatnya sesekali melirik jam tangan dan berharap pekerjaannya bisa selesai lebih cepat.
Di tengah kesibukannya menyelesaikan laporan, seseorang menghampiri meja Gigi.
Seorang barista meletakkan segelas iced latte dan sepiring donat tepat di samping laptopnya secara tiba-tiba.
"Excuse me, miss. Sorry for bothering you. This is for you, from a guy sitting at the bar."
Gigi mengangkat wajahnya dari layar laptop.
"Oh?"
Dengan sedikit bingung, ia menerima pesanannya yang jelas bukan miliknya itu.
"Thank you."
Pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk sang barista.
Di kursi bar yang menghadap mesin kopi, seorang pria berambut pirang tampak sedang menatap ke arahnya.
Kaos lengan panjang berwarna putih dipadukan dengan celana pendek cokelat membuat penampilannya terlihat santai.
Pria itu tersenyum.
Lalu mengangkat tangannya kecil.
Gigi membalas dengan anggukan sopan sebelum melirik secarik kertas yang terselip di bawah piring donat.
Tulisan tangan yang cukup rapi memenuhi bagian tengah kertas itu.
Kamu sangat cantik. Apalagi ekspresi kebingunganmu tadi.
It caught my attention.
@erix_jonnathan
Contact me if you're interested, miss.
Senyum kecil muncul di wajah Gigi.
Sydney memang belum genap satu hari menyambut kedatangannya, tetapi sudah ada saja kejadian yang tidak masuk dalam jadwal.
Ia mengangkat tangannya pelan ke arah pria tersebut sebagai ucapan terima kasih.
Setelah itu, fokusnya kembali pada layar laptop.
Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Beberapa menit kemudian, laporan akhirnya berhasil dikirim.
Ting!
Notifikasi dari Ressa muncul di layar ponselnya.
From Ressa:
"📍Bangaroo House.
Lo jadi kan, Gi? Gue sama Ryce baru otw
Oh iya, nanti ada temen-temen circlenya Ryce juga buat bahas trip ini
Btw, ada yang masih single tuh. Bisa lo incer. Orang have semua, Gi. Hahaha."
Gigi langsung menggeleng sambil tertawa kecil.