Layar monitor berukuran dua puluh empat inci di sudut kamar itu memancarkan pendar cahaya kebiruan yang redup, membelah kegelapan malam yang hanya diterangi lampu gantung remang-remang. Suara ketukan es batu yang berdenting menghantam dinding gelas kaca terdengar berulang kali saat Irato menggoyangkan minuman kopinya dengan malas. Sedotan plastik di mulutnya mengalirkan cairan hitam bercampur susu yang kini sudah hampir tawar karena lelehan es.
Mata hitamnya yang kusam menatap datar pada daftar anime rilis musim ini yang berderet di layar situs *streaming*. Jemarinya yang menempel pada *mouse* terus bergulir ke bawah, melewati puluhan judul dengan gambar sampul yang nyaris serupa: karakter pria berambut hitam dengan pedang besar, atau gadis-gadis bergaun sihir dengan latar belakang kerajaan fantasi.
"Anime *di-kick* dari *party* lagi," kata aku dengan bosan.
Suaraku terdengar serak di tengah heningnya kamar. Dengusan napas kecewa lolos dari hidungku saat melihat judul deskriptif sepanjang dua baris yang baru saja lewat di baris rekomendasi. Tropus pengusiran dari kelompok pahlawan seolah sudah menjadi *template* wajib yang diproduksi secara massal tiap tiga bulan sekali. Namun, tepat saat jemariku hendak mengklik tombol silang di sudut tab browser, mataku menangkap detail visual pada poster anime tersebut—seorang petualang bertubuh pendek dengan penutup mata kain hitam yang berdiri di samping kesatria berambut putih kekriman.
Kedua mataku melebar secara instan. Posisi dudukku yang tadinya membongkok malas langsung tegak lurus.
"Kesukaanku!" seruku dengan girang.
Rasa bosan yang tadi menggelayuti pikiranku mendadak menguap tanpa sisa. Ini adalah jenis tropus *guilty pleasure* yang selalu berhasil memancing dopamin di otakku. Dengan penuh semangat, aku menyedot sisa kopi dingin di gelasku dengan kuat, bermaksud menghabiskannya dalam satu tarikan napas agar bisa fokus menonton.
Namun, kegembiraan yang terlalu mendadak itu terbukti menjadi keputusan fatal.
Sebongkah es batu berukuran sedang meluncur cepat melewati sedotan, menerobos tenggorokanku sebelum sempat aku kunyah. Udara di paru-paruku terkunci secara mendadak. Rasa tersumbat yang hebat menghantam bagian dalam tenggorokanku, memicu reaksi panik yang luar biasa. Gelas kaca di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai karpet dan menumpahkan sisa cairan hitam ke mana-mana.
Aku memegangi leherku dengan kedua tangan, berusaha memuntahkan es maut tersebut atau menghirup oksigen. Namun, rasa dingin yang membeku di saluran napasku justru membuat otot-otot leherku makin terkunci rapat. Penglihatanku di hadapan monitor yang masih menyala perlahan mulai kabur. Garis-garis cahaya kebiruan itu pecah menjadi titik-titik hitam yang menyebar luas. Suara detak jantungku yang berpacu gila-gilaan berangsur meredup, hingga akhirnya... hanya ada kegelapan total dan kesunyian yang menghampiriku.
"Lucian! Lihat, Lucian! *Skill*-ku sudah keluar!"
Sebuah teriakan melengking khas anak-anak diiringi tarikan kasar di lengan bajuku memotong sensasi dingin yang tadi membelenggu tenggorokanku.
Rasa sesak itu hilang sepenuhnya, berganti dengan kehangatan sinar matahari sore yang menembus celah-celah daun pohon ek raksasa. Bau tanah basah, aroma rumput liar, dan hembusan angin pedesaan yang sejuk mendadak memenuhi indra penciumanku. Pemandangan kamar tidur berlampu remang-remang telah lenyap, digantikan oleh hamparan padang rumput hijau di pinggir Desa Oakhaven—sebuah desa awal yang sangat kurenali dari komik fantasi yang pernah kubaca.
Aku mengedipkan mata berulang kali, menatap jemari tanganku sendiri. Tangan itu bukan lagi milik pria dewasa penikmat kopi dingin, melainkan jemari mungil berumur sekitar sepuluh tahun dengan sedikit bekas goresan kayu di kulitnya. Bajuku hanyalah kemeja kain linen sederhana bertali yang agak kebesaran.