The Villain's Last Choice (Teaming Up With Abandoned Companions To Avoid The Bad Ending)-悪役キャラの最終選択 (追放された相棒と組んでバッドエンドを回避します): first half (series 1) edison novel

Pikri YAnor
Chapter #2

RETAKNYA IKATAN LIMA TAHUN DAN KEPUTUSAN TERBAIK

Selama lima tahun itu, aku—Irato yang kini hidup dalam wujud Lucian—telah menguras seluruh energiku untuk menahan laju takdir. Aku mencoba menjadi benteng moral bagi kelompok ini. Setiap kali Valerius terbuai oleh pujian para warga, aku mengingatkannya untuk tetap menapak tanah. Setiap kali Elaria menyombongkan keagungan sihir akademisnya, aku memintanya menghargai perhitungan logis. Dan setiap kali Balthazar menindas Ren karena fisik pendeknya, aku berdiri di tengah-tengah mereka sebagai penengah.

Namun, kepopuleran adalah racun yang sangat memabukkan bagi remaja yang tak matang.

Begitu kami mulai menaklukkan *dungeon-dungeon* tingkat menengah dan nama *Party Pahlawan Oakhaven* digaungkan di aula-aula serikat petualang ibu kota, benteng moral yang kubangun runtuh tanpa sisa. Pujian dari para bangsawan, limpahan keping emas, dan sorak-sorai publik mengubah benih kesombongan masa kecil mereka menjadi pohon angkuh berakar kuat yang tak lagi bisa kupangkas.

Mereka tidak lagi melihat saran Ren sebagai bentuk kewaspadaan, melainkan sebagai "kekangan dari seorang penakut". Dan aku menyadari satu hal pahit: beberapa orang memang tidak bisa diselamatkan dari kejatuhan mereka sendiri.

Lilin-lilin aromaterapi bernilai tinggi membakar aroma lavender di dalam ruang privat kedai kelas atas Kota Centralis. Di atas meja jati berlapis kain beludru merah, deretan keping emas dan gulungan misi tingkat tinggi berserakan di antara cangkir-cangkir anggur impor.

Valerius, yang kini tumbuh menjadi pemuda berusia lima belas tahun dengan zirah emas yang berkilau sempurna, duduk bersandar di kursi ukirnya. Beras keemasan dari rambutnya tertata rapi, memantulkan pendar cahaya lilin. Di sampingnya, Elaria mengenakan jubah sutra bermotif mahkota sihir, sibuk memoles tongkat permata besarnya dengan kain wol halus. Sementara Balthazar yang bertubuh sebesar beruang armor membenturkan dua gelas bir berbusa ke meja hingga cairan keemasannya terciprat ke lantai.

Di sudut ruangan yang paling gelap, jauh dari kehangatan meja utama, Ren duduk sendirian di atas bangku kayu berkaki tiga.

Postur tubuhnya masih yang paling pendek di antara kami semua. Pakaian kulit sederhananya berdebu, dipenuhi noda getah monster dari *dungeon* yang baru kami selesaikan tadi siang. Poni hitam kebiruannya terkulai menutupi penutup kain hitam di mata kirinya. Tangan mungil yang terbungkus sarung tangan aus itu sibuk merapikan lembaran peta taktis dan catatan akumulasi *experience points* yang baru saja ia selesaikan.

"Ren," suara Valerius memotong keheningan ruangan dengan nada dingin yang dipaksakan agar terdengar agung.

Ren mendongak pelan, mata kanannya yang kelabu menatap lurus ke arah ketua kelompok masa kecilnya. "Ada apa, Valerius? Kalau untuk rute *dungeon* besok pagi, aku sudah menghitung rasio kemunculan monster dan titik aman untuk menghemat sihir Elaria—"

"Tidak perlu," potong Valerius seraya melambaikan tangannya di udara dengan gestur meremehkan.

Ia menarik selembar kertas perkamen tebal berstempel lilin merah dari balik zirahnya, lalu menggesernya ke tengah meja beludru.

"Kami sudah mendiskusikan hal ini saat kamu sibuk mencatat angka-angka tidak berguna itu di belakang," ujar Valerius dengan dagu terangkat bangga. "Mulai detik ini, kamu resmi dikeluarkan dari *Party Pahlawan*."

Keheningan yang dingin mendadak menyergap ruangan tersebut.

Ren terpaku di tempatnya. Jarinya yang memegang pena bulu berhenti di udara. "Dikeluarkan...?" bisiknya pelan, seolah kata itu terlalu asing untuk diproses oleh pikirannya.

Lihat selengkapnya