THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #3

Sisi Baik

Isi dari sebuah kisah yang sedang kau jalani, terdapat bagian-bagian yang menjadi akibat dari kepingan kisah di masa lalu, hal itu yang mengaitkan dan menjadi satu kesatuan sebuah perjalanan hidup. Maka berusahalah untuk selalu berada di sisi yang baik, agar kau mendapat akibat yang baik pula di masa depan.

 

Rumah Kos Ibu Bambang – Jakarta Barat. Sabtu, 8 Januari 2000.

Hujan mendera bumi tiada henti sejak semalam. Pikiranku sangat kalut. Seandainya Bapak masih ada, aku tak akan se-menderita ini pastinya. Biaya kuliah menunggak semakin banyak dan aku tak sanggup lagi untuk melunasi. Sudah kucoba memohon berkali-kali untuk meminta keringanan sampai aku bisa melunasi meski entah kapan, tapi sia-sia. Rintihanku bahkan tak didengar oleh pihak kampus. Beberapa percobaan tes beasiswa pun sudah kucoba dan gagal. Tentu saja karena aku bukan anak siapa-siapa. Politik di negeri ini bukan main-main menyeramkan.

Biaya sewa kos tiga bulan juga belum aku bayar. Bu Bambang memberiku keringanan sampai akhir bulan ini. Bekerja paruh waktu di beberapa tempat masih tak cukup untuk melunasi semuanya. Belum lagi tubuhku semakin terasa sakit karena tak bisa membagi antara waktu bekerja, belajar, dan istirahat. Bahkan tulang rahangku semakin tegas terlihat karena aku semakin kurus.

Siapa yang harus kuhubungi sekarang? Aku sudah hilang kontak selama dua tahun dengan kakak dan ibuku di Solo. Bahkan mereka tak pernah ada yang membalas suratku. Entah ibu membaca atau tidak, entah kakakku masih memendam amarahnya atau tidak. Mungkin saja mereka benar-benar membenciku dan menyalahkanku atas kematian Bapak saat itu.

Aku mengurai nama-nama satu persatu dalam pikiran. Membuat kemungkinan-kemungkinan di antara nama-nama yang terlintas, siapa yang kira-kira bisa menolong keadaanku sekarang. Sampai pada sebuah nama seorang gadis malang yang menjadi korban penjarahan menyeramkan dua tahun lalu. Gao Ling, entah apa alasannya tapi namanya muncul begitu saja. Bahkan kami baru kenal dan hanya bertemu beberapa hari saat kejadian tersebut. Aku segera mencari catatan lama di mana aku menulis alamat emailnya di dalam buku itu. Membuka halaman demi halaman mengeja satu persatu tulisanku yang sulit dibaca. Akhirnya aku menemukan tulisan alamat emailnya di sebuah halaman yang kelam.

Hujan mereda menjadi gerimis menyisakan genangan dan udara sejuk malam ini. Tanpa menunggu esok, aku segera pergi menuju warnet langgananku yang biasanya masih buka sampai jam sebelas malam.

“Bang, saya boleh buka email sebentar, Bang? Saya mohon bang, sebentar saja. Saya harus kirim email malam ini juga.” Setelah sampai di warnet tak jauh dari tempat kos, aku memohon pada penjaga yang hendak menutup pintu-pintunya.

“Mana bisa, sudah jam sebelas lewat ini. Cari yang lain saja.” Katanya logat batak ketus namun aku tak peduli dan tetap memohon.

“Saya mohon bang. Lima menit saja bang.”

“Ya sudah cepetan” Kata penjaga warnet setelah berpikir beberapa detik karena kasihan atau memang aku terlihat seperti seorang mahasiswa malas yang sering mengumpulkan tugas di akhir waktu.

Aku segera berlari menyalakan kembali salah satu komputer, membuka akun email kemudian segera membuka halaman ‘Pesan Baru’ untuk mengirim pesan pada Gao Ling.

“Selamat malam, Gao Ling. Apa kabarmu? Semoga kau sehat selalu.

Masihkah kau ingat denganku? Aku Sarmidi mahasiswa yang membawamu pergi ke penampungan di Jakarta Barat dua tahun yang lalu. Saat ini, aku sedang dalam keadaan susah. Aku tak mampu lagi membayar uang kuliah dan melanjutkan hidup di Jakarta saat ini. Apa aku bisa ikut denganmu ke Singapura dan mendapatkan pekerjaan di sana? Aku menunggu balasan pesan darimu segera.

Terima kasih.

Sarmidi.”

Lihat selengkapnya