THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #4

Sebuah Pertandingan

Pada sebuah perlombaan balap lari, seseorang akan dinyatakan sebagai pemenang jika dia menjadi yang tercepat untuk sampai di garis finish. Namun pada kehidupan, kau akan dinyatakan sebagai pemenang ketika kau mampu bertahan dalam menghadapi segala kesulitanmu tanpa mengeluh. Hingga cobaan tersebut berakhir.

 

Changi Airport – Singapura. Minggu, 13 Februari 2000.

Aku baru saja merasakan bagaimana rasanya terbang, menatap arak-arakan awan menuju cakrawala tanpa batas. Aku memang meninggalkan rumah semakin jauh sekarang, tapi aku tak akan pernah melupakan tempat dari mana aku berasal. Suatu hari, aku akan menemukan jalan pulang.

Air mataku telah tumpah dan mengering selama penerbangan. Ingin sekali rasanya memenuhi cita-cita bapak namun aku sadar, aku sangat terbatas dan tak berdaya. Seandainya aku bisa bicara dengannya, aku akan bernegosiasi untuk mimpi Bapak yang lain. Semoga Bapak bisa mengerti keadaanku sekarang.

Seorang pramugari telah mempersilakan para penumpang untuk meninggalkan pesawat, perasaanku semakin gugup. Mungkin aku satu-satunya penumpang yang hanya membawa uang receh sisa jualan koran dan mencuci piring. Aku memilih menunggu antrean paling belakang untuk menyiapkan mental dan keberanianku. Perlahan langkahku membawa pada pintu pesawat yang memperlihatkan langit mendung Singapura. Rasanya ingin menangis sekali lagi namun habis sudah air mata ini.

“Sarmidi” Tulisan di atas papan kertas berhasil kutemukan dengan cepat di antara puluhan tulisan nama-nama orang lain. Tentu saja karena namaku paling singkat dan jelas. Setelah menemukannya, wajahku segera berpaling pada seseorang yang memegang papan nama tersebut. Gao Ling terlihat semakin cantik dan dewasa dari terakhir kami bertemu. Dia melempar senyum yang menawan setelah melihatku, melambaikan tangan, dan melompat memanggil namaku. Seakan dia masih mengingatku dengan baik. Seorang pemuda Jawa berkulit gelap rambut lurus poni kuda dengan rahang tegas. Kami segera berlari saling mendekat, berjabat tangan dan bertanya kabar.

“Sarmidi. Kau terlihat kurus. Sehat kan?” Bahasanya terdengar kaku di telingaku.

“Iya, aku sehat. Bagaimana kabarmu Gao – Ling – Gao Ling.” Aku bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Aku masih sangat gugup. Dia justru terbahak-bahak melihat tingkahku.

“Panggil saja Galing. Itu nama panggilanku.” Dia segera menahan tawanya setelah kutatap. Ini pertama kali aku melihat Galing tertawa. Dia gadis periang dibanding yang aku lihat dua tahun yang lalu.

“Emmm… Ke mana kita sekarang?” Aku segera mengalihkan pembicaraan.

“Oh iya! Ayo.” Kami segera meninggalkan bandara menuju tempat pemberhentian bus kota.

Aku masih tak percaya, aku pergi sangat jauh dari rumah. Di tempat asing dan bersama orang asing. Lamunanku di dalam bus memandang barisan gedung-gedung di sepanjang jalanan Singapura. Mungkin saja masa depan Kota Jakarta akan seperti ini kelak.

Lihat selengkapnya