THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #5

Perubahan

Waktu tidak hanya mengubah hidupmu, tapi semua hal yang ada di dunia dan seisinya berubah karena waktu. Tak akan pernah ada yang sama ketika kau kembali dari perjalanan panjangmu. Maka teguh – kan – lah hati agar rasa cintamu pada orang-orang yang kau tinggalkan tak pernah berubah dan dikalahkan oleh waktu.

 

Bandara Soekarno-Hatta – Jakarta. Minggu, 17 Juli 2005

Aku telah kembali, tapi jalan menuju pulang masih belum bisa kutemukan. Benar apa yang dikatakan Galing. Ke mana arah dan tujuanku saja aku belum tahu, bagaimana bisa aku mengajaknya pulang. Cukup lama aku duduk di ruang tunggu bandara memikirkan satu tempat untuk kudatangi sambil menunggu fajar. Sepertinya, Jakarta telah banyak berubah dibanding lima tahun yang lalu.

Azan subuh pertama kali kudengar lagi setelah lima tahun. Meski samar-samar bersaing dengan suara riuh manusia dengan kesibukan paginya di tengah bandara. Aku menghentikan taksi untuk menuju suatu tempat yang ingin kulihat meski hatiku terluka karenanya.

“Pak, tidak usah berhenti. Kita memutar saja lalu berhenti di gang yang tadi saya tunjuk.” Kataku pada sopir taksi tepat di depan kampus. Almamaternya masih menempel kokoh meski mimpi Bapak telah hancur di sana. Entah akan jadi apa aku jika berhasil lulus dari tempat itu, dulu. Entah bagaimana situasinya seandainya Bapak masih ada. Tak ada salahnya mengenang kejadian buruk, bukan? Meski getir kembali tumbuh dalam hati setelah sekian lama terkubur.

“Turun di sini saja pak.” Taksi berhenti di depan gang tempat kosku dulu, Rumah Kos Bu Bambang. Tapi tentu saja bukan itu tujuanku. Aku berjalan melewati rumah besar dua lantai itu yang juga telah berubah menjadi lebih bagus. Langkahku tak berhenti di sana. Aku mengarah pada warnet yang membantuku untuk pergi ke Singapura dulu. Semoga penjaga warnet masih ada di sana dalam keadaan sehat.

“Permisi.” Kataku dengan mata menyusur penjuru warnet yang juga telah berubah.

“Iya bang?” Jawab penjaganya tak kukenali.

“Oh, maaf. Saya mencari penjaga warnet yang agak gemuk.”

“Bang Rino?”

“Saya juga kurang tahu namanya, bang. Tapi panggilannya Bimbo.”

“Iya bang, Rino. Dia buka warnet sendiri bang.”

“Di mana, bang?”

“Persis di sebelah utara kampus bang.”

“Oh, baik bang. Terima kasih banyak.”

Lihat selengkapnya