Ibumu adalah hujan di tengah musim kemarau panjang sebab tumbuhnya bunga-bunga yang tak pernah kau lihat sebelumnya. Ibumu adalah musim semi yang menghangatkan keluargamu dengan hati dan kelembutan. Maka hiduplah dengan sebaik mungkin jika orang yang paling mencintaimu di dunia ini telah menyempurnakan kekurangan-kekurangan.
Rumah Pak Sarwo – Kota Surakarta. Senin, 10 Maret 1997.
“Di… Sarmidi… Di… Tangi, Di…” Riuh merdu suara ibuku diiringi suara gaduh entah apa saja dari dapur telah membangunkanku. Hari ini, hari pertama EBTANAS serentak untuk jenjang Sekolah Menengah Atas. Aku keluar dari kamar dengan menutup satu bola mataku karena cahaya matahari menerangi isi rumah kami dengan baik. Bapak sedang memandikan burung di halaman. Kakak sudah duduk sarapan bersama dengan adikku di depan TV sambil melihat berita pagi ini yang terus mengabarkan tentang rusuhnya politik di negeri ini. Ibuku tentu saja sang pengendali rumah ini, sudah berada di dapur bahkan lebih dulu dari pedagang sayur berangkat ke pasar.
“Ayo Di… Cepet.” Mas Iman berteriak dari sepedanya sudah menungguku. Aku segera berlari setelah mencium tangan ibu dan bapak.
Mas Iman mengantarku ke sekolah menggunakan sepedanya. Aku berdiri menginjak jalu sepeda, mengapit roda di belakang memegang pundaknya. Kami semua sangatlah dekat. Bapak dan Ibu mendidik kami penuh kehangatan dan kepedulian satu sama lain di dalam rumah yang masih setengah permanen di tengah Kota Solo.
“Wes rono… Mugo-mugo lancar ujianmu.” Mas Iman menurunkanku tepat di depan gerbang sekolah. Dia harus segera kembali untuk bekerja di toko elektronik di jalan Kartasura-Solo tak jauh dari rumah. Bapak juga memarkir becaknya di depan toko setiap hari. Sebagai sambilan, bapak akan mengantarkan barang-barang elektronik ke rumah pembeli. Pemilik tokonya orang Cina, tapi Bapak dan kakakku sangat dekat dengannya.
Hari ini aku pulang lebih awal karena Ujian Nasional. Aku segera menyusul Mas Iman yang jaraknya lima tahun lebih tua dari umurku, perawakannya tinggi dengan otot lengan yang keras karena setiap hari memanggul barang-barang apa pun yang diperintahkan padanya. Aku tidak dibayar di sana. Tapi, bahagia rasanya bisa membantu Mas Iman bekerja.
“Sini Mas, tak rewangi…” Kataku setelah meletakkan tas di becak milik bapak dan segera membantu kakakku menurunkan barang-barang baru dari mobil bak ke toko.
“Lah… Kamu sudah selesai le?” Tanya bapak sedang bersantai di kursi penumpang becaknya yang terparkir sejajar dengan becak-becak lain.
“Sudah, pak. Hari rabu juga ujiannya kelar. Terus aku lulus.” Jawabku sibuk mengangkut TV tabung, radio, dan yang lainnya.
“Anak kebanggaanmu iku to?” Tanya teman Bapak sesama tukang becak.
“Yo jelas. Calon sarjana dia.” Jawab bapak terlihat bergurau, namun kakakku melirik sinis ke arah mereka. Setiap kali membahas pendidikan, aku selalu merasa tidak enak hati padanya. Sariman, kakakku tidak melanjutkan sekolahnya karena Bapak tak memiliki pekerjaan kala itu, setelah mengenal Ko-Aping pemilik toko elektronik ini, bapak sering menerima uang lebih bahkan mendapat pinjaman dengan sangat mudah.
Senja dari arah barat membuat bayangan kami terlihat memanjang dengan kepala besar. Aku dan Mas Iman bergurau sepanjang jalan pulang memainkan bayangan kami. Dia menuntun sepedanya di sampingku. Kata orang-orang, wajah kami mirip, dengan rahang tegas hidung mancung dan rambut lurus poni kuda yang sama, seakan kami anak kembar yang dilahirkan terpisah. Bapak mengayuh becaknya perlahan mengikuti kami dari belakang penuh kedamaian. Kami selalu pulang bersama dan saling menunggu jika tak ada keperluan lain sore hari. Kadang, adik bungsu kami, Sarmila menyusul jika dagangan ibu sudah habis sebelum kami pulang. Sarmila duduk di bangku kelas enam SD. Dia membantu ibuku berjualan nasi gudeg dan lauk-pauk lainnya di depan rumah setiap hari. Sederhana, sangat sederhana. Tapi sangat sempurna melebihi serial Keluarga Cemara yang tayang di TV setiap sore menjelang magrib.