Perjalananmu menuju masa depan di mana mimpi-mimpi kau sematkan, tak akan pernah mudah. Sayangnya, hanya akan ada jalan-jalan bercabang tanpa ada jalan memutar. Maka yakinlah dengan pilihan yang telah kau ambil atau jalanmu akan semakin sulit hingga kau tersesat.
Grogol Petamburan – Jakarta Barat. Senin, 25 Agustus 1997.
Semua usaha kerasku terbayar sudah. Sejak tiba di Jakarta untuk pertama kalinya, berkilo-kilo meter menyusuri jalanan kota Jakarta hingga kulit semakin legam tersengat matahari dan telapak kaki mengapal. Sampai akhirnya tiba di Universitas Trisakti dan menemukan kos untuk tempat tinggal tak jauh dari kampus. Mengikuti serangkaian seleksi penerimaan mahasiswa baru yang terbagi menjadi beberapa tahapan. Hari ini, aku dan Amir, seorang kawan yang sama-sama datang dari daerah dan berjuang bersama telah dinyatakan lolos sebagai mahasiswa di Universitas Trisakti jurusan Jurnalistik. Nomor tes dan namaku terpampang jelas di tengah-tengah barisan nama-nama calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos. Kami berteriak melompat dan saling memberi selamat satu sama lain meski belum saling mengenal.
Setelah perayaan kecil di depan papan pengumuman, aku mempercepat langkahku untuk segera menelepon Bapak di Solo, melalui toko Ko-Aping tentu saja. Kabar gembira ini tak bisa ditunda-tunda sampai besok. Lagi pula, mereka sudah menunggu kabar dariku cukup lama.
“Halo, Mas Sariman atau Pak Sarwo ada? Ini Sarmidi anaknya.” Kataku setelah telepon terangkat. Aku tak bisa berlama-lama karena tarif telepon wartel terus bertambah setiap satu menit.
“Halo. Bapak lagi narik, ada apa?” Suara Mas Iman terdengar masih ketus semenjak aku memutuskan kuliah di Jakarta. Itu membuat rasa gembira di hatiku hilang sesaat setelah mendengar suaranya.
“Anu mas. Aku lulus.” Nada bicaraku merendah tanpa kata-kata panjang.
“Yowes syukur. Nanti tak sampaikan ke Bapak sama Ibu.” Reaksi yang terlalu biasa untuk sebuah kabar besar yang sangat menggembirakan dari adik yang paling dia sayangi.
“Iya, mas. Kabarku sehat mas. Di rumah, sehat semua kan?” Ingin sekali bercerita banyak padanya. Tentang Jakarta dan pengalaman baruku. Tapi, rasanya tidak mungkin.
“Iya. Semua sehat. Wes sek yo.” Mas Iman mengakhiri teleponnya tanpa salam. Dia benar-benar masih marah padaku.
Aku yakin, suatu saat Kakak akan memaafkanku dan hubungan kami kembali dekat seperti dulu. Apa pun yang terjadi, langkahku sudah terlalu jauh dan aku tak akan pernah kembali atau menyesal sekali pun.
Perjalananku menjadi mahasiswa diawali dengan menghabisi rambut lurus poni kuda kesayanganku. Berbaris di tengah lapangan dengan bola terbelah yang dijadikan topi sama sekali tak menghalau panas sedikit pun, lengkap dengan rompi dari karung beras dan papan nama dari bekas kardus air mineral yang dikalungkan di leher. Para senior berlagak di depan barisan sambil teriak seolah kami tuli. Fisik dan mental kami sedang di tempa untuk menjadi penerus bangsa, begitu kata salah seorang senior dengan suara keras hingga membuat urat di lehernya keluar seperti akar pohon.
Tak akan pernah ada petunjuk arah memutar dalam perjalanan hidup. Saat tersesat, kau harus membuat jalanmu dan membebaskan dirimu sendiri. Saat disudutkan, kau sendiri juga yang harus mendorong dan mencari jalan keluar. Semua akan menjadi rumit, bahkan sangat rumit. Dan kau tak bisa menghindari jalanmu sendiri.