Rumah tanpa seorang ibu akan terasa dingin dan gelap. Rumah tanpa seorang ayah akan terasa rapuh tak berdaya. Rumah tanpa saudara-saudaramu tak akan berwarna. Jadi, pulang bukan hanya tentang rumah, bukan? Tapi tentang isinya yang telah menautkan dan menarik kembali hatimu untuk pulang.
Kecamatan Jebres – Kota Surakarta. Senin, 18 Juli 2005.
Aku masih tak bergerak dari tempatku berdiri. Bergeming menenangkan diriku, menyiapkan hati untuk bertemu kembali dengan ibu dan saudara-saudaraku. Bersiap mendapat penolakan dari mereka terutama Kakak seandainya dia masih belum memaafkanku.
“A-. A-. Assalamualaikum.” Setelah cukup lama, meski penuh keraguan aku mengetuk pintu dan mengucap salam. Tapi rumah ini terasa sangat hening.
“Assalamualaikum.” Kuulangi sekali lagi seraya mengetuk pintu lebih keras.
“Waalaikumsalam.” Suara samar seorang wanita menjawab salam membuatku semakin gugup. Ibu pasti akan terkejut melihat aku berdiri di depan rumah.
“Waalaikumsalam.” Seorang wanita membuka pintu dan mengulangi menjawab salamku. Tapi, dia bukan ibuku. Ternyata, Aku yang terkejut.
“Waalaikumsalam, cari siapa mas?” Pikiranku melayang entah ke mana, tatapanku kosong mengabaikan wanita itu. Mengapa bukan ibuku? Rumah siapa ini?
“Mas? Cari siapa?” Dia mengulangi pertanyaannya.
“Ah, maaf. Saya cari ibu saya. Namanya Bu Sri. Beliau tinggal di sini dulu bersama suami dan anak-anaknya.” Lekas kujelaskan tujuanku agar aku segera mendapat jawaban atas kekagetanku baru saja.
“Walah. Ndak tahu saya mas. Saya sama suami saya nempatin rumah ini pas sudah kosong. Yowes ayo masuk dulu, kelihatannya capek. Barang bawaan juga banyak.” Wanita yang terlihat sebaya dengan ibuku itu mempersilakan ku sebagai tamu di rumahku sendiri. Karena lelah setelah perjalanan panjang, akhirnya aku masuk untuk beristirahat. Sekalian melihat-lihat kembali isi rumah yang ternyata telah ditinggalkan pemiliknya.
“Pak, ini ada tamu…” Wanita itu pergi ke belakang memanggil suaminya. Aku merasa sangat asing. Ini bukan rumahku lagi. Tak ada sepeda kakak, tak ada meja tempat ibu berjualan, tak ada burung, tak ada apa pun yang bisa kukenang kecuali tempat ini memang pernah menjadi rumah masa kecilku.
“Mas ini siapa dan mau ke mana?” Kata wanita tadi membawa minum untukku bersama suaminya. Nampan itu aku mengenalnya. Itu milik ibuku. Ibu biasa meletakkan makanan di ruang tengah dengan nampan itu. Pikiranku terus terbang mencari di mana keluargaku sekarang.
“Oh, saya anak penghuni lama rumah ini Bu, Pak. Maaf saya ndak tahu mereka sudah pindah.” Akhirnya aku menerima kenyataan bahwa keluargaku benar-benar tak ada di sini.
“Ini, banyak surat yang sepertinya buat penghuni lama rumah ini. Kami ndak pernah membukanya dan ndak tahu dari dan untuk siapa suratnya.” Suaminya memberikan setumpuk surat yang ternyata adalah surat-surat yang kukirimkan untuk ibu setelah bapak tiada. Pantas saja tak ada yang membalas surat atau meneleponku. Surat-surat ini tak pernah sampai pada penerimanya.