Kehidupan adalah sekumpulan rangkaian perjalanan yang saling berkaitan satu sama lain. Tanpa satu kepingan dari perjalanan, seseorang tak akan bisa memenuhi takdirnya. Sekali pun kepingan perjalanan tersebut hanya berisi luka dan duka, tidak ada yang bisa menghapusnya atau mengganti dengan yang lain. Maka lengkapi perjalananmu agar menjadi sebuah takdir kehidupan yang sempurna.
Selat Marina – Singapura. Sabtu, 16 Juli 2005.
Aku mengakhiri langkah yang membuatku semakin jauh dari rumah. Hari ini tepat tiga puluh hari setelah pengajuan pengunduran diri ke Perusahaan tempatku bekerja. Aku memutuskan untuk pulang setelah lima tahun menimbun dolar di Negeri para pendatang ini.
Matahari telah menghilang tenggelam dalam Selat Singapura se-menit yang lalu. Galing baru datang melambaikan tangan dengan senyuman renyah dari bibir manisnya. Penerbanganku masih enam jam lagi. Kami akan menghabiskan waktu bersama di Marina Bay sebelum aku pergi ke bandara nanti malam.
“Sar…” Suaranya selalu membuat hujan deras dalam hatiku. Begitu sejuk dan damai.
“Maaf agak telat. Aku menunggu kawanku dulu.” Lanjut Galing dengan napas terengah-engah tak ingin mengecewakanku lebih lama karena menunggunya.
“Sunset-nya sudah hilang.” Kataku sengaja membuatnya merasa bersalah.
“Iya, maaf. Sebagai gantinya. Biar aku yang traktir makan.” Raut wajahnya berubah. Aku menarik satu sisi bibirku tersipu. Meski pun Galing dua tahun lebih tua dariku, dia selalu terlihat muda dan menawan. Ada yang bilang, orang cina memang awet muda karena kulitnya yang putih dan mata sipit bagai bulan sabit, kan.
“Ling, kamu yakin tidak akan ikut ke Indonesia bersamaku?” Kuajukan pertanyaan yang sama untuk ke sekian kalinya. Aku masih berharap dia akan ikut bersama ke mana pun aku ingin membawanya.
“Maaf, Sar. Hatiku belum siap untuk datang lagi ke Indonesia. Lagi pula, kamu juga belum jelas akan pulang ke mana, kan? Kamu masih belum tahu keadaan rumahmu sekarang.” Alasannya masih sama. Meski aku mengerti keadaannya, tapi rasanya tak ingin meninggalkan Galing di sini sendirian. Walaupun sebenarnya dia tidak sendiri.
“Ling, Aku harap suatu saat, kamu akan mencariku seperti aku mencarimu waktu itu. Saat semua keadaan telah membaik, kita bisa bersama untuk selamanya. Di mana pun kita tinggal.” Aku tak pandai menyatakan rasa cinta, tapi sepertinya itu cukup mengisyaratkan isi hatiku padanya. Galing menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang kuucapkan, dia menatap tajam wajahku. Kakiku gemetar seketika setelah membalas tatapannya. Dia kembali memalingkan pandangannya menelan kata-kata yang sudah hampir keluar di mulut.
“Kau ingin makan apa?” Dia mengalihkan pembicaraan kami melanjutkan langkahnya menuju kedai.
“Seafood yang di depan juga boleh. Sudah lumayan lama kita tidak ke sana” Jawabanku masih kaku karena perkataanku sebelumnya.
“Baiklah, ayo. Kau tak punya banyak waktu, kan?” Galing mempercepat langkahnya. Aku mengikuti irama langkah kakinya segera.
“Pak, satu cumi-cumi bakar sambal rica, satu udang bakar hainan, dua es jeruk, dan dua nasi.” Tanpa bertanya lagi, Galing memesankan untukku juga. Tentu saja dia sudah tahu apa yang menjadi favoritku di sini.