THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #9

Kemanusiaan

Hari-hari panjang nan pelik akan dikenang sebagai sejarah di masa depan. Saat tanah air tempat kau tumbuh sedang dalam keadaan sakit, maka jadilah penawar yang paling jujur untuknya. Karena negeri yang sakit ini bukan sedang krisis ekonomi, tetapi sedang krisis kejujuran dari manusianya.

 

Kampus Trisakti – Jakarta. Selasa, 12 Mei 1998.

Hidupku sudah terlalu rumit untuk memikirkan bagaimana dan apa yang akan terjadi dengan negara ini, bahkan dengan apa yang sedang terjadi saja, rasanya aku tak peduli. Sebenarnya aku tak tertarik sama sekali dengan demonstrasi karena krisis ekonomi tak berpengaruh apa pun untuk seorang anak tukang becak yang sedang mengejar mimpi sepertiku. Tapi hari ini, aku terus mencoba menumbuhkan rasa nasionalisme-ku, bersama ratusan mahasiswa lain yang berada di aula sedang menunggu aba-aba dari koordinator untuk berunjuk rasa.

“Yang mau reformasi, yang mau reformasi, yang mau reformasi tunjuk tangan.” Seorang senior memimpin yel-yel lalu kami mengikutinya. Semuanya berdiri dan mulai bergerak siap turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Beberapa kelompok membentangkan spanduk entah bertuliskan apa aku tak pernah menyimaknya dengan baik. Yang lain membawa bendera dengan kepala terikat kain bertuliskan “Reformasi Harga Mati”. Begitu juga denganku sudah terlihat layaknya pejuang reformasi.

Rasanya melelahkan bukan? Seandainya dengan digantinya presiden menjadikan gratisnya uang kuliah, aku pasti akan berdiri paling depan dan berteriak paling kencang. Agar Bapak dan Kakak tak perlu bekerja keras lagi.

“Sar, sebagai calon Jurnalis, apa yang mau kamu tulis jika melihat kejadian hari ini?” Di tengah padatnya mahasiswa yang mulai turun ke jalan, Amir tetap serius belajar, meski sambil bergurau.

“Halah, Mir. Kita ini baru semester dua. Nantilah belajar analisa begitu, masih tahun depan.” Aku selalu merasa bodoh jika sedang bicara dengan Amir. Tentu saja karena dia tak pernah keluar dari tiga besar peringkat atas selama sekolah. Bahkan nilainya yang paling tinggi di angkatan kami saat ujian saringan masuk.

“Kenapa harus nunggu tahun depan. Kamu harus siap kapan pun. Kamu kan penerus bangsa. Hahaha.” Kata Amir berteriak padaku. Suara semakin bising dan gaduh ketika koordinator memimpin kami menyanyikan lagu-lagu nasionalisme. Padamu Negeri salah satunya.

“Kamu tahu lagu itu?” Amir tak berhenti mengejekku di tengah gaduh bersaut-saut membuat bising telinga.

Lihat selengkapnya