THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #10

Putus Asa

Akan ada hari-hari panjang yang melelahkan dalam suatu perjalananmu. Di dalamnya penuh dengan pelik dan menguras air mata. Hingga pada titik terendah dan kau telah putus asa, itulah batas akhir dari hari-hari panjangmu. Namun pada hari berikutnya, kau telah kehilangan banyak dari apa yang kau miliki sebelumnya.

 

Jl. Raya Daan Mogot – Jakarta Barat. Kamis, 14 Mei 1998.

Atap Kota Jakarta tertutup kepulan asap dari sisa pembakaran di mana-mana. Gerimis turun memadamkan amarah para pendosa yang mengamuk. Seandainya akan terjadi seperti ini, aku tak akan pernah pergi ke Jakarta dan berdamai dengan kakakku di rumah. Banyak kata seandainya setelah semua terjadi. Bagaimana masa depanku jika seperti ini terus?

Aku memperlambat langkahku mulai kehausan bahkan kelaparan. Entah kapan terakhir aku makan, rasanya aku lupa. Terdengar suara rintihan mengalihkan perhatianku. Suara seorang perempuan menahan tangisan, terisak-isak lirih menahan rasa sakit. Aku mencarinya di balik halte bus, melihat ke dalam rumah kosong yang hancur, dan menemukan suara tersebut berasal dari balik mobil terbalik dan hangus tak berbentuk. Aku mengendap-endap ingin memastikan benar ada seseorang di balik mobil tersebut tanpa membuatnya terkejut.

Benar saja. Seorang perempuan duduk memeluk kedua kakinya dalam keadaan mengenaskan. Lengan bajunya sobek, darah kering mengotori hampir seluruh pakaian yang berwarna putih atau abu-abu, aku tidak yakin.

“Hah, ampun, ampun, ampuni saya.” Tiba-tiba dia berbalik menyadari kehadiranku. Memohon ampun merangkak mundur menjauh ketakutan. Apa yang terjadi dengannya?

“Sst.” Aku membungkukkan tubuhku, meletakkan jari telunjuk di depan mulut, memberi isyarat padanya untuk diam.

“Tenang, aku akan menolongmu.” Aku berbisik. Bibir, mata, dan hidungnya berdarah, dia sangat mengenaskan. Entah apa yang orang-orang lakukan padanya, aku hanya ingin menolongnya agar dia tetap selamat. Jika massa menemukan perempuan itu, habislah dia.

“Ayo… Ayo sini.” Aku meraih tangannya dan memastikan bahwa aku benar-benar akan membantunya. Perempuan itu masih bergeming di tempatnya terus merintih. Aku mendekat, meraih tangannya dan mengajaknya untuk berdiri. Akhirnya perempuan itu bersedia mengikutiku seraya menahan rasa sakit di kakinya juga. Kaki kirinya tak bisa menapak, lututnya juga dipenuhi darah kering.

“Tenang, aku akan membawamu ke tempat aman. Aku tinggal di dekat sini.” Aku terus menenangkannya meski sebenarnya tak tahu ke mana akan kubawa dia. Rumah kos terkunci rapat dan aku belum menemukan Amir. Yang jelas, perempuan itu harus segera diselamatkan.

“Tunggu di sini. Rumah kos ku terkunci, aku akan mencari cara untuk masuk.” Aku menyuruh perempuan itu berdiri di balik tiang listrik agar tak membuat curiga siapa pun yang melintas. Aku kembali meraba-raba pintu gerbang rumah kos dan ternyata masih terkunci rapat.

“Bu… Bu Bambang… Bu…” Entah ke mana janda tua itu pergi. Dia meninggalkan rumah ini begitu saja. Aku harus melompat dan mengambil kunci di dalam. Perempuan itu tak boleh berlama-lama di luar. Akhirnya aku memanjat pagar, merangkak melewati tembok pembatas menuju kamarku di lantai dua. Aku tak pernah mengunci kamarku bahkan membawa kuncinya, apa lagi kunci pintu gerbang yang biasanya terbuka dua puluh empat jam.

“Ayo masuk. Ayo. Kau tidak aman di luar.” Setelah berhasil membuka pintunya, aku membawa perempuan itu masuk ke dalam kamarku. Tak ada tempat lain yang lebih aman dari sini sekarang.

“Ini handuk, ini baju ganti.” Aku memberikan handuk rombeng dan setelan kaos dan celana kolor milikku. Itu lebih baik dari bajunya yang tak berbentuk lagi.

“Bersihkan dirimu, aku beli obat sebentar. Kunci saja dari dalam jika kau takut.” Aku meninggalkannya di dalam kamarku seakan percaya penuh padanya.

Lihat selengkapnya