THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #11

Janji Yang Terkubur

Pada saat kau memilih untuk pergi. Mungkin saja kau tak akan pernah bertemu kembali dengan orang yang mengantar kepergianmu hingga janji-janji manis menjadi usang tak ada artinya lagi. Namun saat kehilangan, kehancuran akan membentuk dirimu yang lain untuk tetap memenuhi janji yang telah terkubur.

 

Masjid Al-Amin, Pluit – Jakarta. Jumat, 15 Mei 1998.

Langit masih terus mendung meski keadaan semakin mereda, seakan petaka belum berhenti menghujani negeri ini. Sebelum meninggalkan masjid tempat penampungan, perhatianku teralihkan oleh TV di pos jaga yang sedang menyiarkan berita kerusuhan yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini.

“Tiga puluh lima orang tewas di Kota Solo.” Kata-kata dari seorang pembawa berita mengingatkanku untuk segera menelepon ke rumah. Aku segera pergi membabi buta menuju rumah kos. Tak peduli apa yang ada di depan jalanku, aku harus segera memastikan keadaan keluargaku semuanya baik-baik saja.

Sampai di kosan. Aku segera berlari menuju ruang tengah. Bu Bambang sudah pulang dan aku menghiraukan sapaannya. Mengambil gagang telepon dan menekan nomor telepon Ko-Aping yang sudah kuhafalkan sejak awal aku datang ke Jakarta.

Tak ada jawaban. Mungkin saja tokonya juga telah hancur sekarang. Dia orang Cina. Bagaimana dengan bapak dan kakakku? Kucoba berkali-kali masih tak ada jawaban.

“Heh Sar. Jangan dibanting-banting begitu nanti rusak.” Kata Bu Bambang menghampiriku membuatku kaget.

“Tiga hari yang lalu bapakmu telepon berkali-kali. Titip pesan jangan ikut demo.” Lanjut Bu Bambang baru menyampaikan pesan dari bapak yang sudah basi sekarang.

“Kenapa baru bilang sekarang Bu?” Tanyaku geram sekali padanya yang telah menghilang beberapa hari ini.

“Kan baru ketemu lagi kita.” Jawabnya sangat santai seakan tidak sedang terjadi apa pun di negeri ini. “Tunggu saja. Mereka pasti telepon lagi. Hari ini kan sudah aman.”

Berjam-jam aku hanya duduk berpindah-pindah antara kursi kayu dan sofa di dekat telepon. Hampir satu hari penuh, telepon beberapa kali berdering namun bukan untukku. Aku masih menunggu. Mereka pasti meneleponku.

“Kring Kring Kr….”

“Halo…” Segera kuangkat telepon sebelum deringnya selesai. Itu sudah kuulangi lebih dari delapan kali, kalau aku tidak salah menghitung.

“Mas Sarmidi ada? Ini adiknya.” Suara Mila terdengar tergesa-gesa segera kukenali dengan baik.

“Iya Mil, gimana keadaan di rumah? Baik to?” Tanyaku begitu lega mendengar suara Mila. Tetapi tiba-tiba dia menangis. “Kenapa Mil? Mana Bapak, Mas Iman, Ibuk? Mil?”

“Anak setan jangan harap kamu kembali ke rumah pergi yang jauh beban keluarga tak ada gunanya tak tahu diuntung pergi kamu ke neraka jangan sampai kami lihat wajahmu lagi asu asu… bapak mati gara-gara kamu pergi kamu ke neraka.” Suara Mas Iman tanpa jeda sama sekali tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Dia mengatakan dengan jelas bahwa bapak telah tiada. Aku bisa mendengarnya dengan baik di bagian itu, meski setelahnya hanya berisi umpatan.

Lihat selengkapnya