THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #12

Perjalanan Pulang

Terlampau jauh. Pulanglah jika dalam pengembaraanmu kau telah menemukan tujuan akhir. Jangan sampai kau menyesal karena jalan pulangmu telah tertutup bahkan hilang. Kembalilah pada seseorang yang pertama kali menuntunmu untuk berjalan sebelum akhirnya kau berjalan terlalu jauh. Kembalilah pada seseorang yang mengajarimu bicara sebelum akhirnya kau bicara terlalu banyak.

 

Pasar Bandungan – Kab. Semarang.  Selasa, 19 Juli 2005.

Aku duduk di sebuah warung makan di pinggir jalan, sebelah tukang bunga tentu saja. Karena memang pasar ini lebih banyak penjual bunga dari pada penjual makanan. Pandanganku melihat ke kanan dan ke kiri, memperhatikan lalu lalang manusia yang memenuhi pasar hingga tak terasa semakin sepi. Suara tak lagi riuh dan cahaya semakin meredup.

“Mas ini mau ke mana kalau boleh tahu?” Tanya pemilik warung juga memperhatikanku sedari siang hingga sore.

“Emm. Tidak tahu juga Bu. Saya sedang mencari ibu dan saudara saya. Barangkali lewat.” Mengapa tak kutanyakan saja pada pemilik warung? Barangkali dia mengenal bibi atau bahkan ibuku.

“Bu, kenal sama Bu Watmi? Atau Bu Sri?”

“Hmm ndak tahu ee mas. Mereka jualan apa?” Tanya pemilik warung terlalu banyak orang di pasar yang dia kenal. Biasanya dia menandai dengan dagangan orang tersebut.

“Kurang tahu juga. Saya juga lupa Bu.” Percuma, tak akan ada hasilnya. Aku membayar makananku dan lekas pergi dari warung tersebut. Mencari penginapan dekat dengan pasar karena sebentar lagi gelap.

“Ling, aku di Semarang sekarang. Entah bagaimana cara memulai mencari keberadaan ibuku. Tak ada petunjuk sama sekali.” Galing masih menjadi teman ceritaku satu-satunya. Benar katanya, aku akan mengingatnya ketika aku melihat jam tangan.

“Ibumu berjualan nasi dan lauk-pauk kan? Mungkin saja dia juga berjualan itu di sana. Coba ingat-ingat bibi mu jualan apa, dulu?” Galing memberiku kemungkinan-kemungkinan melalui pesannya. Aku tak pernah dibawa ke pasar ketika kami mengunjungi bude kemari. Tapi di rumah bude selalu ada bunga yang dia bawa pulang dari pasar. Mungkin saja dia berjualan bunga. Tapi akan sulit mencarinya. Di sini hampir semua orang berjualan bunga.

Pagi masih gelap. Matahari baru saja mengintip dari balik awan kelabu di ujung timur. Aku sudah berjalan menyusuri jalanan di pasar yang sebenarnya tak terlalu luas ini. Hanya terdiri dari tiga baris pedagang yang panjangnya kira-kira tak sampai seratus meter. Seharusnya aku bisa menemukan mereka dengan mudah. Atau mereka tak ada di sini sebenarnya.

Aku masih belum putus asa. Kuulangi sekali lagi memutar, lalu ke jalanan di mana para pedagang tumpah ruah.

“Pak, Bubur ayam satu.” Perutku mulai keroncongan dan keringat dingin. Aku berhenti di tukang bubur ayam pinggir jalan. Bahkan barangkali tukang bubur itu mengenal ibu atau bibiku. Hari ini pencarian hari ke empatku.

“Pak di sini ndak ada yang jualan makanan nasi gudeg gitu ya pak.” Setelah tukang bubur memberikan pesananku, aku mencoba mencari tahu.

“Ndak ada mas kalau yang mangkal. Kalau yang keliling ada. Biasanya lewat jam sembilan.” Jawab tukang bubur sambil mengelap mangkok yang baru saja dia cuci.

Lihat selengkapnya