THE WAY HOME

Mochamad Rozikin
Chapter #13

Isi Rumah

Meski kau menyesali banyak hal pada akhirnya, namun kau telah sampai pada tujuanmu. Kau hanya perlu memperbaiki kerusakan yang terjadi di masa lalu sebagai penebusan penyesalan. Jika rumah masa kecilmu telah runtuh atau diambil alih oleh orang lain. Kau bisa membangunnya lagi di tempat lain. Dengan membawa semua isinya tentu saja.

 

Rutan kelas I Surakarta. Kamis, 4 Agustus 2005.

Perjalananku menuju rumah tak akan lengkap tanpa adanya kakakku di antara kami. Aku berada di ruang besuk tahanan, menunggu kakakku sedang di jemput di dalam sel. Kali ini aku akan memaksanya untuk berkata jujur. Apa pun yang terjadi, dia harus bebas.

Keberanianku seketika lenyap setelah sipir membawa Mas Iman datang dengan baju tahanan nomor 98. Sekujur tubuhku melemah. Sungguh siapa yang menyangka dua orang saudara terpisah begitu lama dan bertemu kembali di sebuah rumah tahanan. Dia duduk tepat di hadapanku dengan sekat jeruji dan kaca. Hening. Hampir tiga puluh menit tak ada yang memulai bicara di antara kami. Aku sendiri kehilangan kata-kata yang sudah kusiapkan jauh sebelum datang kemari. Bahkan kami saling menunduk tanpa menatap. Sesekali aku melirik ke arahnya, dia masih menunduk sama sekali tak mengangkat dagunya.

“Kau sehat?” Dia membuka mulutnya menanyakan kabarku tiba-tiba. Sementara mulutku masih terkunci. Air mata mulai berderai tak sanggup kubendung lagi.

“Mas.” Sepatah kata saja sangat sulit kuucapkan.

“Bapak menjarah demi mendapatkan uang untuk kuliahmu.” Seakan dia tahu apa yang ingin kutanyakan. Mataku terbuka lebar mendengarnya. Benarkah bapak melakukan itu?

“Apa menurutmu itu benar?”

“Dia ingin mencelakai orang yang selama ini memberi kami pekerjaan, apa menurutmu itu benar?”

“Aku tidak sengaja mendorongnya hingga dia terjatuh begitu keras dan kepalanya terbentur kaca, apa menurutmu itu salah?”

“Aku tidak pernah sekolah dan dianggap membunuh bapaknya sendiri, apa aku salah?”

Kakak terus bicara mengutarakan semua yang selama ini dia pendam. Dia hanya ingin mengatakannya padaku. Hanya padaku. Dia telah menungguku selama ini untuk bicara dan mengatakan semuanya.

“Mas, aku akan membebaskanmu. Aku akan meminta Ko-Aping untuk bersaksi.” Kataku setelah mengusap air mata.

“Percuma. Ko-Aping pergi setelah menggadaikan rumah kita.”

“Kau sudah jadi sarjana sekarang?”

“Kenapa kau berani pulang?” Akhirnya tangisannya pecah. Ingin rasanya memecahkan kaca pembatas dan memeluk Mas Iman yang juga menderita di dalam tahanan.

“Maafkan aku, Di… Maafkan masmu ini.” Dia terus bicara dalam tangisnya. Penjaga rutan datang membawa Mas Iman, waktu kunjunganku telah habis.

“Ling, aku harus bagaimana? Mas Iman tak sengaja mendorong Bapak. Bahkan dia tak tahu orang yang didorong adalah Bapak. Siapa yang menyangka Bapak melakukan itu? Aku harus membebaskannya, Kan?” Dalam keadaan bingung, Galing menjadi tempatku bersandar, meski kami jauh. Jam tangannya masih terus menggenggam pergelangan tanganku.

“Kau harus mencari Ko-Aping untuk bersaksi di pengadilan. Kau yakin ingin membebaskannya?” Balas pesan Galing.

“Tentu saja. Seandainya Bapak masih ada, dia pasti akan menyuruhku membebaskan Mas Iman. Bapak pasti mengakui kesalahannya.” Aku membalas pesan Galing.

“Kalian berhati besar. Aku sangat bangga padamu, Sar.”

Lihat selengkapnya