Jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.
Di lantai sepuluh Gedung Empat Lima Tower, suasana kantor M Consulting & Legal Advisory sudah seperti biasanya—tegang.
“Revisi kontrak ini siapa yang kerjakan?”
Suara perempuan itu tidak keras.
Sama sekali tidak perlu. Sebab satu kalimat yang keluar dari mulutnya sudah cukup membuat seluruh ruangan membeku.
Seorang staf junior mengangkat tangan dengan wajah pucat. “S-saya, Bu Kei.”
Kei Maharani menutup map di tangannya pelan.
Tatapannya berpindah dari satu halaman ke halaman berikutnya.
“Lalu kenapa nominal pada Pasal 8 berbeda dengan lampiran?”
Ruangan hening.
“Kenapa klausul kerahasiaan hilang?”
Tidak ada jawaban.
“Dan…” Kei menghela napas panjang. “Kenapa nama klien bisa salah ketik?”
Kening seluruh tim langsung berkeringat.
Kei memang seperti itu.
Tidak pernah berteriak.
Tidak pernah membanting meja.
Tetapi setiap pertanyaannya terasa seperti sidang terakhir sebelum hukuman dijatuhkan.
“Aku kasih waktu tiga puluh menit.”
Ia menutup map.
“Kalau masih salah…” Kei tersenyum tipis. “…saya yang revisi. Tapi setelah itu kalian yang cari klien baru untuk mengganti reputasi kantor ini.”
Tidak ada yang berani membalas.
“Meeting selesai.”
Begitu Kei melangkah menuju ruang kerjanya, seluruh ruangan langsung mengembuskan napas lega.
“Astaga…”
“Aku pikir tadi udah tamat.”
“Bu Kei lagi mode dewi keadilan.”
“Aku hampir lupa cara bernapas.”
Embusan napas lega mulai terdengar setelah dari balik tembok kaca, memastikan ruang direktur telah benar-benar tertutup.
Kei meletakkan tablet dan map di atas mejanya.
Ruangannya rapi.
Terlalu rapi.
Setiap benda berada tepat pada tempatnya.
Pulpen sejajar.
Laptop tepat di tengah.
Bahkan tanaman kecil di sudut meja menghadap ke arah yang sama setiap hari.
Namun pagi itu…
Ada satu benda asing. Sebuah amplop berwarna merah gelap. Dengan pita emas yang melingkar di tengahnya.
Kei mengernyit.
“Ini apa?”
Ia menekan tombol interkom.
“Alea.”
“Iya, Bu.”
“Siapa yang taruh amplop aneh di ruangan saya?”
“Saya, Bu.
“Dari siapa?”
”Tadi ada kurir kirim kesini. Katanya undangan.”
Kei mengangkat amplop itu.
Tidak ada logo perusahaan.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya satu tulisan yang dicetak menggunakan tinta emas.
Untuk Kei Maharani.
Entah kenapa…
Dadanya mendadak terasa tidak nyaman. Ia bahkan meneguk liurnya sendiri. Ia membuka pita itu perlahan, lalu menarik kartu tebal bertekstur linen dari dalamnya. Dan perasaannya semakin tidak enak.
Matanya langsung tertuju pada dua nama yang dicetak besar di bagian tengah.
FERDINAND ADIE
dan
DIANA PRAMESWARI