The Wildcard Reshufle your Destiny

Widia ayu amelia
Chapter #1

1 Tangan Mati

Kai terbatuk kering, namun tangannya tetap bergerak. Dia mengayunkan beliung berkarat itu sekali lagi, menghantam dinding batu hitam yang keras.


Trang!


Suara logam beradu dengan batu bergema di sepanjang lorong sempit Sektor 4. Itu adalah irama keputusasaan yang tidak pernah berubah selama tiga tahun terakhir.


Kai menyeka keringat bercampur lumpur dari alisnya, lalu melirik sekilas ke arah udara kosong di depannya.


Di sana, sebuah jendela transparan melayang—sebuah antarmuka sistem yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.


--------------------------------------------------


[Nama: Kai]


[Level: 1 (Belum Bangkit)]


[HP: 45/50 (Lelah)]


[Aether: 2/10]


[Current Deck: 0 Kartu]


--------------------------------------------------


"Kosong," gumam Kai, menatap notifikasi itu dengan tatapan mati. "Sialan."


Di dunia Aethelgard, seorang pria tanpa Deck posisinya lebih rendah daripada budak. Dia hanyalah sumber daya. Baterai bernyawa. Dan dilihat dari getaran halus yang mulai meretakkan dinding terowongan hari ini, Kai merasa masa kedaluwarsanya sebagai sumber daya sudah hampir habis.


"Hei, tikus tambang! Berhenti melamun!"


Sebuah cambukan angin menyambar punggungnya, menyengat kulitnya yang kotor. Kai meringis, bahunya menegang, tapi dia tidak berani berbalik untuk melawan.


Grom, sang mandor Orc, berdiri menjulang di belakangnya. Di tangan kanannya yang hijau dan berotot, sebuah kartu persegi panjang bersinar dengan cahaya merah redup yang mengancam.


Itu adalah kartu [Whip of Agony]. Rarity: Common.


Bagi para bangsawan yang hidup nyaman di Menara Spire di atas sana, kartu itu mungkin hanya sampah. Tapi di lubang tambang sedalam ini? Kartu itu adalah hukum mutlak.


"Target harianmu kurang tiga keranjang kristal Aether," geram Grom. Taring bawahnya yang kuning berkilau di bawah cahaya lentera yang redup. "Kau tahu aturannya, Nak. Tidak ada kuota, tidak ada makan malam."


"Urat nadi Aether di dinding ini sudah kering, Bos," jawab Kai pelan, mencengkeram gagang beliungnya lebih erat agar tangannya tidak gemetar. "Kami butuh izin untuk menggali lebih dalam ke Zona Merah."


Grom tertawa. Suaranya kasar, mirip gesekan dua batu gerinda. "Zona Merah? Kau mau memberi makan Tikus Tanah Raksasa dengan tubuh kurusmu itu? Terserah kau. Tapi dengar ini... kalau keranjang itu tidak penuh saat bel berbunyi..."


Si Orc mengangkat kartunya tinggi-tinggi. Cahaya merah di kartu itu memadat, membentuk wujud fisik berupa cambuk energi yang mendesis panas.


"...aku akan menggunakan kulitmu untuk menggosok sepatuku."


Kai hendak membuka mulut untuk memohon, tapi kata-katanya tertelan kembali.


Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.


Itu bukan getaran gempa biasa. Itu adalah sentakan vertikal yang kasar, seolah raksasa di dalam perut bumi sedang meninju langit-langit. Gigi Kai beradu keras.


BOOM!


Langit-langit gua di kejauhan runtuh. Ledakan debu memenuhi lorong, disusul suara gemuruh yang paling ditakuti setiap penambang—suara batu dasar yang bergeser. Ribuan ton batu sedang jatuh.


Lihat selengkapnya