The Wildcard Reshufle your Destiny

Widia ayu amelia
Chapter #2

2: LELUCON YANG MEMATIKAN



Dunia tidak hanya berhenti berputar; dunia pecah berkeping-keping menjadi kaleidoskop kode yang rusak.


Saat Kai menghancurkan kartu [The Wildcard] dalam genggamannya, dia mengharapkan lonjakan kekuatan yang agung. Dia mengharapkan sebilah pedang suci, perisai baja, atau mungkin sambaran petir yang akan menghanguskan monster di hadapannya.


Sebaliknya, dia mendapatkan kebisingan.


Suara melengking, seperti seribu paku yang digoreskan di papan tulis, meledak di dalam tengkoraknya. Udara di depannya terkoyak. Piksel berwarna ungu neon dan emas merembes ke dalam realitas, berputar kencang di sekitar tangannya seperti badai digital.


--------------------------------------------------


[Sistem Alert: Wildcard Diaktifkan!]


[Mengacak Kemungkinan...]


[Glitch Terdeteksi. Pengocokan Ulang dimulai.]


[Hasil Terkunci.]


--------------------------------------------------


Cahaya yang berputar itu memadat seketika, membentuk sebuah benda fisik di genggaman Kai.


Kai memantapkan kuda-kudanya, otot-ototnya menegang, adrenalin membanjiri nadinya. Dia menyodorkan tangannya ke depan, siap menyambut cakar Scavenger Rat dengan senjata barunya.


"Mati kau!" teriak Kai penuh amarah.


Tapi tidak ada benturan baja yang beradu. Tidak ada suara daging yang teriris. Hanya ada suara kayu yang tumpul dan menyedihkan.


Tuk.


Kai berkedip. Tikus itu berkedip.


Di tangan Kai, bersinar dengan aura samar yang seolah mengejek nasibnya, ada sebuah sendok.


Bukan tongkat sihir kuno. Bukan belati perak pembunuh naga.


Sebuah sendok. Sendok sup kayu yang tumpul.


--------------------------------------------------


[Kartu Tercipta: Sendok Sup Nenek]


[Rarity: Trash (Sampah)]


[Damage: 0.5]


[Efek: Membuat kuah terasa sedikit lebih enak.]


--------------------------------------------------


"Kau... kau pasti bercanda," bisik Kai, suaranya pecah karena ketidakpercayaan.


Scavenger Rat di depannya, yang sesaat bingung karena kurangnya ancaman, mendesis. Ia menyadari mangsanya tidak memegang senjata, melainkan alat makan. Ia menerjang lagi, rahangnya terbuka cukup lebar untuk meremukkan tengkorak Kai.


Kepanikan, dingin dan tajam, menusuk dada Kai.


"Tidak, tidak, tidak! Berubah lagi! Berubah!"

Lihat selengkapnya