Begitu sepatu bot Kai menyentuh lantai putih itu, dia tahu dia dalam masalah besar.
Dia mencoba mengangkat kakinya, tetapi benang sutra tebal itu mencengkeram sol sepatunya, meregang seperti permen karet sebelum putus dengan suara plok yang basah.
--------------------------------------------------
[Efek Lingkungan: Sticky Web]
[Kecepatan Gerak berkurang 30%]
[Peringatan: Berdiam diri lebih dari 3 detik akan menyebabkan status Terikat (Root).]
--------------------------------------------------
"Terus bergerak," gumam Kai pada dirinya sendiri, memaksa kakinya untuk melangkah. "Jangan berhenti. Jangan membeku."
Terowongan itu adalah mimpi buruk berwarna putih. Jaring laba-laba ada di mana-mana—tersampir di stalaktit, melapisi dinding, dan membentang di langit-langit seperti kanopi yang mengerikan. Udara di sini kental dengan bau amonia yang menyengat mata.
Skitter. Skitter.
Suara itu datang dari atas. Bukan dari satu sumber, tapi puluhan.
Kai mendongak. Jauh di dalam bayang-bayang jaring di langit-langit, tak terhitung titik merah kecil muncul. Mereka berkedip serempak.
"Anak-anaknya," umpat Kai.
Mereka bukan bosnya. Mereka adalah anak-anaknya. Masing-masing seukuran piring makan, dengan tubuh pucat transparan dan rahang yang meneteskan cairan.
Mereka menjatuhkan diri.
Seperti hujan, laba-laba itu turun menggunakan benang sutra, mendarat di lantai di sekelilingnya dengan suara gedebuk daging yang lunak.
Hiss!
Tangan Kai secara instan bergerak ke arah deck-nya. Ibu jarinya melayang di atas [The Wildcard].
"Tidak," dia menahan dirinya. "Hemat mana. Aku membutuhkannya untuk yang besar."
Dia menggeser tangannya dan menarik dua kartu lain sebagai gantinya.
"Summon: [Scavenger Rat]!"
Tikus raksasa itu muncul di tengah kekacauan lengket itu. Segera, ia mencicit panik saat kaki-kakinya tersangkut di jaring.