The Wildcard Reshufle your Destiny

Widia ayu amelia
Chapter #9

9: ALL IN (TARUHAN TERAKHIR)





Broodmother memekik, suara yang bergetar jauh di dalam tulang Kai. Dia mengangkat tubuh bagian depannya tinggi-tinggi, memperlihatkan paku-paku hitam bergerigi di bagian perutnya.




Dia tidak hanya akan menggigitnya. Dia akan menusuknya hingga tembus.




Tangan Kai menutup di sekitar [The Wildcard].




"Ayo," bisik Kai, suaranya gemetar karena campuran rasa takut dan kegilaan. "Jangan beri aku sendok. Jangan beri aku confetti. Beri aku keajaiban."




Dia menghancurkan kartu itu.




[Aether: 9/12 -> 0/12]




Kartu itu mengonsumsi semua sisa energinya. Efek glitch yang familiar meledak dalam penglihatannya, tapi kali ini, itu ganas. Warna-warnanya tidak hanya berputar; mereka menjerit. Emas. Merah. Hitam.




Waktu seakan melambat. Laba-laba yang turun itu bergerak dalam gerakan lambat (slow motion). Tetesan racun yang jatuh dari rahangnya tergantung di udara.




Roulette yang berputar di visi Kai melambat.




Tik... Tik... Tik...




Berhenti.




Kartu itu bukan Emas (Legendary). Itu bahkan bukan Merah (Destructive).




Itu berwarna Biru transparan yang pucat.




--------------------------------------------------




[Kartu Tercipta: Spatial Transposition]




[Rarity: Rare (Utility)]




[Efek: Menukar lokasi fisik Pengguna dan satu Target dalam jarak pandang.]




[Durasi: Instan]




--------------------------------------------------




Kai menatap deskripsi itu dengan mata terbelalak.




"Tukar?"




Dia tidak mendapatkan senjata. Dia tidak mendapatkan perisai. Dia mendapatkan mantra perpindahan.




Broodmother memulai penurunannya. Lima ton kitin lapis baja dan otot jatuh ke arahnya, gravitasi mempercepatnya menjadi tombak hidup.




Jika Kai menukar posisi sekarang, dia hanya akan muncul di udara dan jatuh, sementara laba-laba itu akan muncul di tanah. Dia hanya akan berbalik dan memakannya.




"Berpikir!" teriak Kai dalam hati. "Bagaimana cara membunuh tank dengan teleportasi?"




Matanya menyapu sekeliling gua dengan panik.




Lantainya batu halus. Dindingnya jaring.




Tunggu.




Tepat di belakangnya, mencuat dari lantai seperti gigi batu, ada stalagmit. Tingginya sekitar satu meter, bergerigi, dan diasah tajam oleh tetesan air selama berabad-abad.




Kai menyadari posisinya. Dia terpojok di dinding. Stalagmit itu tepat di kakinya.




Lihat selengkapnya