Cahaya itu terasa kejam.
Itu bukan cahaya lembut dari lumut atau kilatan mantra yang keras. Itu adalah kecemerlangan matahari yang menyilaukan dan membakar.
Kai tersandung keluar dari celah tebing, melindungi matanya dengan lengan yang gemetar. Air mata mengalir di wajahnya saat pupil matanya, yang melebar karena bertahun-tahun dalam kegelapan, dengan panik mencoba menyesuaikan diri.
Dia jatuh berlutut. Dia tidak merasakan batu dingin. Dia merasakan rumput. Rumput asli yang hidup.
Dia menarik napas dalam-dalam. Udara tidak berbau busuk atau belerang. Baunya seperti angin, pinus, dan asap kayu di kejauhan.
"Aku berhasil," bisik Kai, suaranya pecah. "Aku benar-benar berhasil."
Dia menunggu penglihatannya jernih. Perlahan, kabur putih itu berubah menjadi bentuk dan warna.
Kai berdiri di punggung bukit berbatu yang menghadap ke lembah luas. Di bawahnya terhampar pinggiran Sektor 7—sebuah kota kumuh yang luas, terdiri dari gubuk kayu dan tenda kanvas yang menampung kelas bawah.
Tapi di luar daerah kumuh itu, menjulang dari pusat dunia seperti jarum yang menusuk surga, berdiri The Spire (Menara).
Itu adalah monolit marmer putih dan emas, begitu tinggi hingga puncaknya menghilang ke dalam awan. Pulau-pulau terapung melayang di sekitar bagian tengahnya, terikat oleh rantai-rantai raksasa. Di sanalah para High Deckholders tinggal. Di sanalah para Dewa menonton.
Kai mengepalkan tinjunya. "Suatu hari nanti," janjinya.
Dia memeriksa statusnya untuk terakhir kalinya sebelum memasuki peradaban.
--------------------------------------------------
[Nama: Kai]
[Level: 5 (Awakened)]
[HP: 100/100]
[Aether: 25/25]
[Deck: 4/10]
[Kartu: Rusted Dagger (Hancur), Scavenger Rat, Flashbang, Silk Binding, The Wildcard]
--------------------------------------------------
Dia bukan lagi warga sipil. Dia Level 5. Dia adalah seorang Player.