The Wildcard Reshufle your Destiny

Widia ayu amelia
Chapter #16

16: THE IRON GUILD


Kedai itu mendadak sunyi.


Itu bukan keheningan tiba-tiba karena perkelahian yang akan pecah; itu adalah keheningan yang mencekik karena rasa takut.


Pria berbaju zirah baja yang dipoles itu berdiri dari bilik sudutnya. Dia tidak berjalan; dia berbaris. Sepatu bot besinya berdentang secara ritmis di atas lantai papan kayu, setiap langkah menggemakan otoritas mutlak.


Kai tidak mendongak dari supnya, tetapi tangannya bergerak perlahan ke bawah meja, mencengkeram deck-nya.


Prajurit itu berhenti di meja Kai. Dia meletakkan tangan yang terbungkus sarung tangan baja di atas kayu meja.


"Kau duduk di kursiku," kata pria itu dengan suara halus namun tajam.


Kai melihat sekeliling. Kedai itu setengah kosong. "Ada banyak meja kosong."


"Tapi aku suka yang ini. Meja ini punya pemandangan bagus ke arah pintu."


Prajurit itu tersenyum, tapi senyum itu tidak mencapai matanya. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Kai, tanpa diundang.


Dari jarak dekat, Kai bisa melihat detail baju zirahnya. Pelat dada itu menyandang lambang Palu dan Paron—simbol dari Iron Guild.


Kai menggunakan [Inspect].


--------------------------------------------------


[Target: Letnan Kaelen]


[Afiliasi: Iron Guild]


[Level: 12 (Warrior)]


[Tingkat Ancaman: Tinggi]


--------------------------------------------------


"Level 12," batin Kai, jantungnya berdetak lebih cepat. "Dia dua kali lipat lebih levelku. Jika aku melawannya di sini, aku mati."


Kaelen bersandar, menopang sikunya di atas meja. "Kau membuat kekacauan yang cukup besar di gang tadi malam, Kai. Atau kau lebih suka dipanggil 'Manusia Laba-laba'?"


"Aku membela diri," kata Kai hati-hati.


"Tentu saja. Grogan dan anak buahnya itu idiot," Kaelen mengibaskan tangannya, seolah mengusir lalat. "Sampah membersihkan sampah. Kami tidak peduli pada mereka."

Lihat selengkapnya