The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #1

BAB I - Operasi Bayangan

Kemegahan masa depan terpampang nyata di Gedung Margasara, jantung Kota Askara, pada April 2080. Malam itu, Gala Pameran Teknologi Pemuda ke-51 resmi dibuka, mengumpulkan para politisi kelas atas dan raksasa korporasi digital Marcapada dalam satu ruangan yang sama. Di balik gemerlap hologram promosi yang memanjakan mata, uang dan kuasa sedang dipertaruhkan.

Di dalam toilet wanita VIP, seorang gadis bergaun anggun dengan rambut pirang panjang bergelombang sedang menatap cermin. Penampilannya tampak sempurna sebagai putri seorang konglomerat, namun itu semua hanyalah ilusi. Gadis itu adalah Tara Wiranata, remaja enam belas tahun sekaligus putri bungsu keluarga Wiranata. Rambut pirang itu hanyalah wig kamuflase untuk misinya malam ini: menyusup dan menyedot data rahasia milik PT Arcapada, raksasa teknologi terbesar kedua yang sedang memamerkan kuasa mereka di luar sana.

Tara meraih alat aplikator kecil dari tasnya. Dengan gerakan terlatih, ia memasang sepasang hardlens transparan ke matanya. Begitu ia berkedip, warna mata emerald aslinya perlahan berubah menjadi cokelat biasa, disusul dengan barisan teks digital hijau yang berjalan cepat di sudut pandangnya:

[SYSTEM ONLINE // CLOUD-SYNC ACTIVE].

Tara tersenyum di depan cermin. Orang awam mungkin mengira ia sedang mengagumi kecantikannya sendiri, namun kenyataannya, ia tengah takjub pada The Eye-Sync. Hardlens pintar penemuan terbaru kakak kebanggaannya yang terhubung langsung dengan basis data rahasia mereka. Sama seperti cincin hitam di jari manisnya yang tampak seperti perhiasan biasa, benda itu sebenarnya adalah W-Ring, alat komunikasi super senyap keluarga Wiranata. Kedua mahakarya tak kasatmata itu lahir dari tangan dingin putra sulung keluarga mereka: Arkan Wiranata.

Gelombang statis halus bergetar di telinga Tara, menandakan bahwa sinyal dari Arkan telah mengunci The Phantom Ear, alat komunikasi berbentuk stiker membran transparan sewarna kulit yang tertempel rapi di belakang daun telinganya. Berkat teknologi konduksi tulang dan mikrofon sub-vokal ini, Tara bisa bercakap-cakap dengan keluarganya lewat bisikan paling samar sekalipun, tanpa risiko memicu kecurigaan orang di sekitarnya.

“Tes. Sinyal aman, Dek. Ibu sudah mengunggah denah gedung ke basis data. Lensa barunya sudah aktif, kan?”

Suara Arkan mengalun jernih, hanya bergaung di dalam kepala Tara. Sudut bibir Tara terangkat tipis mendengar suara familier kakaknya.

“Tentu saja. Mahakaryamu bekerja dengan sempurna, Kak. Denah gedungnya terpampang jelas di mataku,” jawab Tara berbisik. Volume suaranya bahkan tidak lebih keras dari desah napas, namun mikrofon sensitif di balik telinganya mampu menangkap setiap suku kata dengan presisi untuk dikirim langsung ke kamar kerja Arkan.

“Baguslah. Ibu juga sudah memetakan rute pelarian kalau terjadi situasi mendesak. Informasi posisi penjaga juga sudah diunggah,” balas Arkan tenang seperti biasa. Nada bicaranya yang stabil selalu berhasil menyuntikkan rasa aman, membuat kecemasan Tara menguap begitu saja.

“Oke, Kak. Aku akan langsung mengirim datanya begitu berhasil menyalinnya,” ucap Tara dalam bisikan.

Tangannya bergerak lincah menata helaian rambut pirang palsunya, berpura-pura masih sibuk berdandan di depan cermin agar tidak memicu kecurigaan jika ada wanita lain yang tiba-tiba masuk ke dalam toilet.

“Oke, Dek. Hati-hati. Kabari kalau terjadi sesuatu, Kakak akan langsung bantu,” ucap Arkan hangat. Nada suaranya melembut, berusaha menyembunyikan secuil rasa khawatir yang selalu muncul setiap kali adiknya berada di lapangan.

Tara tidak menjawab verbal, hanya bergumam kecil sebagai tanda ia mengerti. Gadis itu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar di dadanya, lalu melangkah mantap menuju pintu toilet VIP dan membukanya. Begitu ambang pintu terlewati, ia resmi kembali bertransformasi menjadi seorang tamu undangan yang elegan.

Ketukan heels-nya berbunyi samar, langsung tenggelam di antara riuh obrolan para tamu dan denting musik latar yang elegan. Tara berbaur dengan sempurna dalam kerumunan. Saat sepasang matanya menyapu seisi aula raksasa itu, informasi nama dan detail stan langsung bermunculan secara bergantian di sudut pandang lensanya. Itu adalah hasil kerja cepat Kirana di rumah yang terus memindai dan memperbarui struktur denah pameran malam itu secara real-time.

Setelah beberapa menit berjalan sembari mengamati sekitar, lensa mata Tara berkedip cepat. Kirana baru saja berhasil mengunci koordinat target utama mereka.

Stan milik PT Arcapada berdiri megah tepat di pusat aula, berseberangan langsung dengan stan milik PT Mahacipta, raksasa teknologi nomor satu di seluruh Marcapada. Kedua korporasi raksasa itu sedang terlibat perang dingin, saling memamerkan mahakarya terbaru mereka: sebuah perangkat komunikasi pintar berbentuk kubus kaca setelapak tangan. Gadget futuristik itu mampu memproyeksikan visual objek tiga dimensi secara utuh ke udara, membuat apa pun yang ditonton penggunanya tampak nyata dan hidup di hadapan mereka, bukan lagi sekadar gambar datar di layar.

Masalahnya, kedua perusahaan mengusung konsep teknologi yang persis sama. Pihak PT Mahacipta murka, menuduh PT Arcapada telah meretas dan menjiplak mentah-mentah cetak biru teknologi kubus mereka. Konflik internal ini jugalah yang menjadi alasan mengapa Tara berada di sini malam ini. PT Mahacipta telah melayangkan laporan resmi dan meminta bantuan khusus kepada Detektif Senior Baskara Wiranata untuk menyelidikinya. Namun, karena birokrasi hukum resmi terlalu lambat dan rawan suap, protokol senyap Keluarga Wiranata terpaksa diaktifkan untuk mencuri bukti otentik langsung dari sumbernya.

Tara menyunggingkan senyum tipis, menyembunyikan intensi aslinya di balik topeng seorang gadis remaja penggemar gawai modern. Ia melangkah anggun menghampiri stan PT Arcapada dan sengaja mendekati seorang pria paruh baya necis yang tampak paling vokal di sana. Lewat informasi HUD di lensa matanya, pria itu adalah sang kepala divisi riset sekaligus sosok yang mengeklaim diri sebagai pencetus ide teknologi ini.

“Wah! Ini benar-benar luar biasa! Bagaimana cara mengoperasikan alat secanggih ini, Tuan?” tanya Tara dengan nada suara yang bersemangat namun tetap terdengar natural. Wajahnya berseri-seri, akting yang sempurna untuk meyakinkan target bahwa ia hanyalah anak konglomerat polos yang terpesona.

Tujuan Tara jelas: mengikis jarak sedekat mungkin dengan pria ini agar W-Ring di jarinya bisa menjangkau dan menyedot seluruh cetak biru proyek dari perangkat yang dipegang sang target.

“Oh! Anda memiliki selera yang luar biasa, Nona!” Pria itu langsung membusungkan dada, tampak sangat tersanjung dipuji oleh seorang gadis muda dari kalangan elite. “Ini adalah HoloPhone. Ponsel masa depan yang mampu memproyeksikan tampilan tiga dimensi secara utuh ke udara. Kau hanya perlu memutar video, mengusap layarnya ke atas, dan... boom!”

Pria itu mendemonstrasikannya dengan penuh semangat. Jika ponsel hologram standar yang beredar di pasaran tahun 2080 hanya bisa memproyeksikan layar datar dua dimensi yang melayang kaku di udara, HoloPhone ini berada di tingkatan yang berbeda. Detik itu juga, dari atas kubus kaca di tangan sang pria, visual seekor naga air digital melompat keluar dalam wujud tiga dimensi yang sempurna. Naga itu meliuk-liuk megah, memiliki volume dan kedalaman nyata, seolah benar-benar hidup dan menari di atas telapak tangan Tara.

Untuk sesaat, mata Tara berbinar takjub. Namun, di balik binar topengnya, hati Tara justru dipenuhi rasa bangga yang membuncah kepada Arkan. Meski teknologi di hadapannya ini adalah yang paling mutakhir di pasaran, ia tahu gawai buatan kakaknya di rumah selalu melangkah beberapa dekade lebih maju.

Visual naga air di atas telapak tangannya mendadak berpendar, berganti wujud menjadi seekor singa digital yang mengaum gagah tanpa suara.

“Wah! Keren sekali! Lihat, singa itu benar-benar terlihat nyata! Bagaimana cara Anda membuatnya bisa sehidup ini, Tuan?” tanya Tara dengan binar antusiasme yang sengaja ia lebih-lebihkan. Pertanyaan standar seperti itu sangat umum dilontarkan oleh pengunjung awam di pameran ini, trik sempurna untuk memancing target agar terus bicara.

“Kami menggunakan basis gelombang hologram yang sama seperti teknologi lama, Nona! Hanya saja, kami berhasil memanipulasi kedalaman dan volume dari cahaya yang dihasilkan,” jelas pria itu dengan dagu terangkat, nada suaranya sarat akan kesombongan. “Secara sederhana, konsepnya mirip seperti cara kerja kacamata tiga dimensi saat menonton film di bioskop abad lalu, tapi kali ini kami menghadirkannya langsung ke dunia nyata tanpa alat bantu apa pun!”

Lihat selengkapnya