The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #2

BAB II - Permainan Kata Perak

“Selamat malam, Detektif Baskara Wiranata... dan seluruh tim bayangannya.”

Suara bariton yang terdistorsi digital itu bergema dingin, memantul di dinding dapur dan membekukan aliran darah empat orang di sana. Ruang makan yang beberapa detik lalu terasa begitu hangat, kini hening total. Mereka saling melempar tatapan sarat akan kecemasan.

Di atas meja, angka merah darah pada proyeksi hologram itu terus bergerak mundur tanpa ampun.

[23:59:45]

[23:59:44]

Baskara menjadi yang pertama menguasai diri. Dengan gerakan tenang namun penuh kewaspadaan khas seorang detektif senior, ia mengulurkan tangan, meraih pucuk surat fisik berlatar hitam dari dalam kotak polimer.

Belum sempat Baskara membuka lipatannya, silinder perak di sampingnya kembali berdengung, melanjutkan rekaman suara Sang Dalang yang seolah bisa membaca setiap pergerakan mereka.

“Satu teka-teki, satu lokasi di Kota Askara,” ucap suara itu lagi, nadanya terdengar seperti seorang kakek yang sedang mendongengkan cerita pengantar tidur yang kelam. “Pecahkan dalam waktu yang ditentukan, atau seluruh rahasia 'tim bayangan' kalian akan disiarkan ke seluruh jaringan Marcapada, dan reputasi detektif kepolisianmu akan hancur total tanpa sisa.”

Bersamaan dengan berhentinya suara tersebut, lipatan surat hitam di tangan Baskara terbuka. Di atas kertas gelap itu, baris kalimat perak yang ditulis dengan tinta khusus memancarkan sebuah permainan kata, sebuah teka-teki pertama untuk memulai permainan si Sang Dalang:

“Aku memiliki sayap namun tak bisa terbang, terkubur di tempat ramai tempat sejarah diregang. Di bawah jantung kota tua Askara yang mulai usang, temukan memori yang sengaja kaubuang. -Sang Dalang”

Baskara membacakan baris kalimat perak itu dengan suara yang berat dan tenang, namun setiap katanya terdengar begitu jelas di telinga seluruh anggota keluarga.

Napas mereka sempat tercekat. Teror itu datang terlalu tiba-tiba, merengenggam kebahagiaan domestik yang baru saja mereka nikmati setelah misi yang melelahkan. Rahasia dapur Keluarga Wiranata adalah hal paling krusial yang harus mereka lindungi hidup-hidup. Bagaimana tidak? Segala bentuk penyusupan, peretasan, dan operasi senyap yang mereka lakukan selama ini jelas-jelas bertentangan dengan hukum. Jika sampai bocor, bukan hanya karier Baskara yang tamat, melainkan jeruji besi sudah pasti menanti mereka berempat.

“Ayah sudah tahu lokasi tempat ini,” ujar Baskara datar. Ia sengaja mengontrol intonasi suaranya demi menyuntikkan ketenangan ke dalam benak istri dan anak-anaknya.

Pengalaman puluhan tahun sebagai detektif polisi senior tidak membohongi instingnya. Baskara menghafal setiap sudut geografi wilayahnya dengan sangat luar biasa, termasuk labirin bawah tanah yang tersembunyi di balik sejarah usang Kota Askara.Baskara menarik napasnya dalam-dalam, menatap ke arah istri dan kedua anaknya dengan sorot mata yang menenangkan namun tak tergoyahkan.

“Sebaiknya sekarang kita ke ruang rahasia untuk memulai penyelidikan,” ujar Baskara dengan nada tegas.

Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah lebih dulu menuju ruangan bawah tanah, tempat di mana seluruh teknologi canggih dan ilegal milik Keluarga Wiranata tersimpan rapat.

Kirana, Tara, dan Arkan saling melempar pandangan sesaat, sebelum akhirnya serempak bangkit dari kursi masing-masing. Mereka melangkah cepat mengekor di belakang Baskara menuju sebuah pintu yang terletak tepat di bawah tangga rumah. Bagi siapa pun tetangga atau tamu yang berkunjung, pintu kayu itu hanyalah akses menuju gudang penyimpanan kecil yang berdebu. Namun, di balik engselnya yang tersamar, terdapat dunia yang sama sekali berbeda.

Empat piring nasi goreng yang masih mengepulkan uap hangat itu ditinggalkan begitu saja di atas meja makan. Sebuah pemandangan langka yang menjadi penanda mutlak bahwa malam ini mereka sedang berada dalam kondisi siaga satu. Prinsip Keluarga Wiranata sejak awal adalah tidak pernah meremehkan ancaman sekecil pun. Kini, ketika ada sosok asing yang berhasil mengendus rahasia dapur mereka, keseriusan di wajah masing-masing anggota keluarga meningkat berkali-kali lipat.

Begitu mereka berempat berkumpul di ruangan rahasia, Kirana dan Arkan langsung bergerak cepat menghidupkan deretan perangkat komputer canggih mereka. Detik berikutnya, proyeksi peta Kota Askara dalam bentuk hologram 2D konvensional mengembang di udara. Komputer mereka memang belum melakukan pemutakhiran menyeluruh untuk peta siber kota tersebut. Alasan utamanya sederhana: di keluarga itu, selain Baskara, tidak ada satu pun yang tahu tentang keberadaan labirin bawah tanah rahasia di Kota Askara.

“Kirana, coba kau retas basis data arsip lama Kota Askara. Pemerintah menyimpan data itu dalam bentuk file-file digital usang, sampai-sampai cetak biru tata kota yang beredar sekarang tidak lagi memperlihatkan jalur labirin bawah tanah kota tua,” perintah Baskara.

Lihat selengkapnya