The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #3

BAB III - Detik yang Menguap

Enam setengah jam berlalu, alarm di gawai masing-masing anggota keluarga mulai bergetar, menandakan bahwa sudah waktunya untuk mulai bergerak sebelum waktu habis.

Baskara bangun lebih dulu. Matanya terbuka lebar sementara tangannya meraih silinder perak di atas meja kecil di sebelah kasurnya. Jarinya menyentuh permukaan silinder itu dan menunjukkan sisa waktu yang terus berjalan.

[17:30:29]

Baskara menghela napas panjang dan matanya tertuju ke langit-langit kamar tidurnya, melirik istrinya yang juga terbangun dan duduk di tepi kasur. Atmosfer hangat yang biasanya menyelimuti pagi, kini menjadi terasa tegang karena teror semalam.

Saat Kirana beranjak dari kasur untuk mempersiapkan sarapan sebagai penambah energi sebelum mereka memulai investigasi mendalam, Baskara masih berbaring di kasur. Baskara teringat kembali pergulatan batinnya semalam di sela-sela waktu 30 menit setelah anak dan istrinya naik ke kamar mereka pada angka waktu:

[23:30:00]

Dalam sela waktu 30 menit itu, Baskara sengaja tinggal di ruang rahasia untuk memastikan bahwa jejak mereka sebelumnya sudah terhapus dengan bersih seperti biasanya. Ia teringat dengan kata-kata Arkan semalam sebelum naik untuk tidur yang mengatakan, “Yah, karena malam ini kita selesai lebih cepat dan mau langsung tidur, Ayah cukup klik tombol merah ini sebelum kita naik. Aku udah pasang makro otomatis. Sekali klik, sistem kita bakal langsung menyapu bersih semua log retasan di server kota malam ini sampai tuntas, jadi kita bisa tidur tenang."

Saat itu Baskara menekan tombol itu dan melihat di layar terdapat bar persegi panjang yang perlahan terisi, lalu muncul tulisan [100% Log Cleared] yang kemudian meredup dan menyisakan kedipan angka [22:59:59] lalu [22:59:58] di dalam kegelapan.

Malam itu Baskara pergi ke kamar tidurnya setelah membersihkan sisa makanan dari meja makan di dapur, menyimpan makanan yang tidak habis ke dalam kotak, lalu memasukkannya ke kulkas. Dia mencuci piring, mengelap meja, dan menyapu lantai; memastikan semuanya bersih agar istrinya tidak lelah membersihkan dapur sebelum melakukan pekerjaan besar besok subuh.

Sekarang, Baskara menghela napasnya sekali lagi dan akhirnya bangkit untuk duduk di tepi kasur. Ia meregangkan ototnya yang kaku sebelum turun dari kasur untuk menyusul istrinya yang sudah berada di dapur.

Saat dia tiba di dapur, anak-anaknya, Arkan dan Tara, juga sudah berada di sana sambil membantu Kirana menyiapkan sarapan. Mereka bertiga sudah terlihat rapi dan siap untuk melanjutkan investigasi hari ini, meskipun terlihat jelas bahwa mereka merasa tegang dan cemas.

“Oh, Ayah sudah turun. Selamat pagi, Yah,” sapa Tara dengan ceria sambil menyusun piring-piring di atas meja. Sementara itu, Arkan mengangguk sambil mengelap gelas-gelas, lalu menuang susu ke gelas miliknya dan Tara, serta kopi ke gelas milik Baskara dan Kirana.

Setelah Kirana selesai menghangatkan kembali nasi goreng kemarin malam, lalu menuangkan porsi di masing-masing piring, mereka akhirnya duduk di kursi masing-masing. Mereka mulai makan tanpa ada kata-kata apa pun. Suasana masih tegang, hanya terdengar suara dencingan piring setiap kali mereka menyendok nasi.

Setelah beberapa menit, makanan di piring sudah habis. Tara, yang selalu mencairkan suasana, sebenarnya merasa sedikit tegang, namun kehadirannya sering kali berhasil membuat ruangan kembali ceria. Dia akhirnya angkat bicara demi memecah keheningan.

“Omong-omong, Ayah akan ikut terjun ke lapangan?” tanya Tara sebelum meminum susu dari gelasnya.

Baskara, yang baru saja hendak menyesap kopinya, berhenti sejenak. Ia melihat ke arah putrinya dengan tatapan tegas namun tetap lembut. “Tentu saja. Mana mungkin Ayah membiarkan kamu pergi sendirian ke tempat yang berbahaya. Kita masih belum tahu siapa pelakunya,” jawab Baskara dengan tegas, namun jelas menyiratkan rasa khawatir akan keselamatan keluarganya.

“Apakah kita harus menggunakan penyamaran, Yah?” tanya Tara setelah meletakkan kembali gelas susunya yang sudah kosong.

“Tidak perlu. Kita jalan biasa saja seperti sedang jalan-jalan pagi. Tapi kita tetap pakai pakaian taktis di bawah baju kita supaya kalau ada apa-apa kita bisa bergerak bebas nantinya,” jelas Baskara pada Tara dengan tenang.

“Sekarang kita bereskan ini dulu, lalu kita ke ruangan rahasia dan memulai penyelidikan. Kita cuma punya waktu 17 jam,” lanjut Baskara sambil menghela napas pelan.

Tara, Arkan, dan Kirana mengangguk setelah mereka juga menghabiskan minuman masing-masing. Tara dan Kirana beranjak dari kursi lalu mulai membereskan meja makan, mencuci piring, dan mengelap permukaan meja. Sementara itu, Arkan dan Baskara pergi lebih dulu ke ruang rahasia untuk bersiap.

Lihat selengkapnya