[16:28:19]
Baskara dan Tara melangkah keluar rumah. Baru setapak-dua langkah kaki mereka menapak jalanan, Baskara spontan menghentikan gerakannya sesaat. Ia berkedip beberapa kali, mencoba membiasakan kedua matanya yang mendadak terasa sedikit perih saat sepasang lensa The Eye-Sync mulai menyatu dengan retinanya.
Perlahan, pendar cahaya hijau zamrud yang asing mulai memapar pupil Baskara. Pandangan visualnya yang semula biasa saja langsung dilapisi oleh jalinan teks digital transparan dan peta topografi Kota Askara yang super detail. Di sebelahnya, Tara tampak jauh lebih rileks, mengingat sang putri bungsu sudah terbiasa menggunakan mahakarya buatan kakaknya tersebut di lapangan.
Melalui lensa pintar itu, rute perjalanan malam ini sudah terlihat jelas di masing-masing pandangan mereka. Arkan rupanya telah memetakan jalur evakuasi digital yang bersinar tipis, lengkap dengan sebuah titik lokasi dinamis berwarna biru yang merepresentasikan posisi Baskara dan Tara secara real-time. Begitu mereka kembali melangkah, titik di peta hologram itu pun ikut bergeser, cara kerjanya persis seperti GPS pintar.
“Saya sudah menambahkan fitur posisi real-time agar bisa mengetahui titik lokasi kalian masing-masing. Jika kalian berdua terpisah, kalian tetap bisa melihat posisi satu sama lain di denah,” ucap Arkan melalui The Phantom Ear milik Baskara dan Tara.
“Oke, Nak. Itu bagus. Tetap pantau rute perjalanan dan segera lakukan update di basis data jika terjadi perubahan,” bisik Baskara sambil berjalan menyusuri kabut subuh bersama Tara, mengikuti rute yang bersinar transparan di lensa mata mereka.
Jalanan masih sangat sepi. Hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat karena hari masih menunjukkan pukul 05:07 pagi. Langkah kaki mereka berdua terdengar sangat tenang; mereka sudah terlatih untuk bergerak tanpa banyak suara saat menjalankan misi. Mereka menyusuri trotoar jalan utama yang diterangi lampu jalanan redup, berjalan konstan menuju sebuah toko sepatu di ujung blok kluster.
Begitu tiba di persimpangan dekat toko sepatu tersebut, keduanya langsung membelokkan langkah, menyelinap masuk ke dalam mulut gang gelap yang menjadi blind spot atau titik buta dari jaringan CCTV publik kota Askara.
Mereka berjalan menyusuri jalan gang yang sempit dengan langkah tenang namun pasti, sengaja memanfaatkan kegelapan subuh guna menghindari kamera pengawas kota untuk menuju ke stasiun trem tua, lokasi terdekat untuk memasuki labirin bawah tanah yang tersembunyi.
Sekitar lima menit berjalan di dalam kesunyian gang tersebut, mereka berdua hampir tiba di ujung sisi lain gang yang berbatasan dengan dunia luar.
“Seratus lima puluh meter lagi di depan, kalian akan melihat penyeberangan jalur trem aktif distrik bawah. Jam segini jalurnya memang masih sepi, tapi tetap berhati-hati karena beberapa petugas keamanan terkadang masih berkeliaran untuk patroli subuh,” suara Kirana terdengar melalui The Phantom Ear, memperingatkan mereka berdua dari balik layar markas.
Kirana menjeda kalimatnya sejenak, beralih menatap visual denah digital yang berkedip merah. "Dan ingat, tepat sepuluh meter dari ujung gang, kalian akan tiba di batas penyeberangan distrik bawah yang dijaga satu sensor pemindai retina milik otoritas Kota Askara. Jangan melangkah keluar dari bayangan gang sebelum jalur itu aman."
Mendengar peringatan Kirana, Baskara langsung memberi isyarat tangan agar Tara berhenti. Mereka berdua merapat ke dinding gang yang lembap, tertahan tepat sepuluh meter sebelum ujung gang. Di depan mereka, sebuah perangkat berbentuk bola metal dengan pendar lampu neon biru tipis, sensor pemindai retina milik otoritas Kota Askara, sedang berputar lambat, menyapu area penyeberangan dengan sinar laser pemindai.
“Biar saya yang urus pemindai itu,” sahut suara Arkan, memecah kesunyian melalui The Phantom Ear. Jemari pemuda sembilan belas tahun itu terdengar bergerak lincah di atas papan ketik virtualnya di markas.
“Sistem keamanan distrik bawah ini menggunakan protokol enkripsi lama. Tiap kali kalian hendak melewati sensor, saya akan menyusup ke feed kamera mereka dan membuat video looping selama tiga puluh detik. Jadi, kalian punya jendela waktu yang sangat sempit untuk menyeberang tanpa terekam.”
Layar The Eye-Sync di mata Tara tiba-tiba memunculkan jam digital mini berwarna kuning yang berkedip, bersanding dengan sisa waktu utama mereka.
“Looping video pertama siap dalam tiga... dua... satu... masuk!” komando Arkan tegas. Sinar laser biru pada sensor di ujung gang mendadak redup sesaat, tanda bahwa sistemnya sedang memutar rekaman kosong buatan Arkan. “Tiga puluh detik kalian berjalan dari sekarang. Lari!”
Begitu komando Arkan menggema di balik The Phantom Ear, Baskara dan Tara melesat tanpa suara. Di bawah kawalan zirah taktis yang melekat ketat di balik pakaian kasual mereka, keduanya melompati batas bayangan gang tepat ketika sinar laser biru pada pemindai meredup digantikan kedipan indikator pembajakan.