Mereka berdua berjalan menyusuri lorong gelap yang sunyi, di mana bunyi tetesan air tanah yang bergema konstan menjadi satu-satunya melodi di tempat itu. Baskara memimpin di depan, sementara Tara membuntuti langkah sang ayah dengan waspada. Sambil melangkah, jemari tegap Baskara sempat menyentuh saku paha kanan zirah taktisnya, merasakan ganjalan sebuah kotak kecil di sana. Baskara tersenyum tipis dalam hati; ia tahu itu pasti ulah Kirana. Sang istri yang membawakan setelan pakaian taktis ini ke ruang rahasia tadi jelas tidak akan membiarkan mereka berdua turun ke lapangan tanpa persiapan.
Di belakangnya, meski zirah taktisnya mampu menyembunyikan getaran fisik, denyut jantung gadis itu perlahan meningkat akibat rasa gugup yang mulai merayap. Namun, siluet kokoh Baskara di depannya selalu berhasil menjadi jangkar yang menenangkan.
Ketukan sepatu taktis mereka berkejaran dengan gema air yang jatuh dari langit-langit beton. Sesekali, benturan sol sepatu mereka dengan genangan air dangkal menciptakan cipratan yang memantul di dinding terowongan, membelah atmosfer pekat yang memenuhi isi perut bumi tersebut. Tanpa adanya kerlip cahaya atau interaksi luar, ruang bawah tanah ini terasa kian menyempit dan menyesakkan.
Namun, keduanya tetap bergerak konstan mengikuti panduan rute digital rakitan Arkan dan Kirana. Sejauh ini belum ada hambatan berarti di bawah sana; sejauh mata memandang, hanya ada kekosongan dan pipa-pipa berkarat.
“Sekitar lima ratus meter lagi kalian akan tiba di koordinat tujuan, Yah,” suara Arkan yang mendadak mengalun lewat The Phantom Ear sempat menyentak fokus mereka berdua. Kendati demikian, Baskara dan Tara mengembuskan napas lega karena setidaknya koneksi nirkabel mereka belum terputus oleh tebalnya lapisan tanah.
“Kau mengagetkanku saja, Kak,” bisik Tara pelan, berusaha mencairkan suasana yang kaku. Di sisi lain, ketegangan di pundak Baskara tampak agak mengendur begitu mendengar transmisi dari putra sulungnya.
“Bagaimana dengan stabilitas sinyal kita, Nak? Masih aman?” tanya Baskara dengan volume subvokal, tanpa memperlambat ritme langkahnya sama sekali.
“Sejauh ini enkripsinya masih stabil, Yah. Tapi frekuensinya mulai melembab karena pengaruh air raksa lama. Tetap berhati-hatilah,” jawab Arkan serius dari balik monitor markas.
“Baguslah. Tetap awasi dan berikan indikasi taktil melalui cincin jika frekuensi kita tiba-tiba terputus,” sahut Baskara. Insting pelindungnya tetap bekerja; sesekali ia melirik ke belakang, memastikan jarak dan kondisi putri bungsunya tetap aman.
“Dimengerti, Yah,” balas Arkan serius.
Ayah dan anak itu kembali merajut langkah menembus labirin beton. Namun, setelah menempuh jarak seratus meter berikutnya, ritme jalan Tara mulai melambat. Tenggorokannya terasa kering dan terbakar. Efek klaustrofobik dari atmosfer pengap di bawah tanah rupanya menguras energi remaja itu jauh lebih cepat dari perkiraan. Tara terpaksa menyandarkan bahunya ke dinding terowongan yang lembap, berhenti sejenak untuk meraup oksigen.
Menyadari langkah putrinya tertinggal, Baskara langsung berbalik. Sorot matanya yang semula tajam seketika melembut penuh kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk pelan lengan Tara.
“Kau lelah, Nak? Kita bisa istirahat semenit,” ucap Baskara lembut.
Tanpa membuang waktu, Baskara langsung merogoh saku paha kanannya, mengambil kompartemen kecil mengganjal yang sudah ia sadari sejak awal melangkah ke terowongan ini. Sebuah kotak transparan berisi beberapa bola air minum berbasis gel hidrasi rakitan Kirana. Teknologi konsumsi praktis yang bisa langsung diemut dan ditelan untuk mengembalikan cairan tubuh secara instan tanpa perlu repot membuka pelindung wajah.
"Ibumu benar-benar tahu apa yang kita butuhkan. Minum ini dulu," sambung Baskara sembari menyodorkan kotak tersebut pada putrinya.
Tara mengangguk cepat, mengambil salah satu bola gel tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Begitu berinteraksi dengan enzim kunyah, lapisan membran tipis bola itu langsung larut seketika, melepaskan ledakan cairan hidrasi segar yang langsung membasahi kerongkongannya. Rasa kering yang menyiksa itu kini lenyap tanpa bekas.
“Ibu benar-benar yang terbaik!” seru Tara riang dengan volume tertahan.
Jauh di markas siber rumah Wiranata, Kirana yang menangkap pujian itu melalui mikrofon sensitif The Phantom Ear tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulas senyum bangga di balik deretan monitornya.
Baskara yang menyaksikan binar di mata putrinya ikut tersenyum lembut, lalu mengusap sekilas puncak kepala Tara. “Sudah siap? Kita harus melanjutkan pergerakan sebelum angkanya menyusut lebih jauh,” ujarnya sembari melirik indikator hitung mundur digital berwarna merah di sudut lensa pintarnya.
[15:35:02]
Efek formula nutrisi dari bola air tadi bekerja luar biasa cepat, membuat stamina Tara kembali pulih. “Aku sudah siap, Ayah! Ayo lanjut jalan,” ucap Tara dengan matanya yang kembali menyala taktis dan jauh lebih bersemangat kali ini.Baskara mengangguk.
Dua menit waktu istirahat dirasa sudah cukup untuk memulihkan stamina mereka. Ia memberikan isyarat tangan pada Tara agar kembali merapat di belakangnya, sebelum kemudian mengayunkan langkah mantap menuju titik tujuan yang kini hanya tersisa empat ratus meter lagi.
Tepat di menit ke-[15:33:15], pergerakan kembali dilanjutkan. Berkat suntikan energi instan dari bola air tadi, ritme berjalan mereka kini jauh lebih konstan, tenang, dan efisien. Efeknya luar biasa; kecepatan gerak kedua agen lapangan itu meningkat drastis, memotong estimasi waktu tempuh menjadi jauh lebih singkat daripada paruh pertama perjalanan.