The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #6

BAB VI - Keluar dari Kegelapan

Mereka berdua kembali menyusuri lorong gelap, berbalik arah menuju lubang vertikal tempat mereka pertama kali turun. Langkah kaki Baskara terasa berat dan kaku; amarahnya jelas masih bergolak di dalam dada meski Kirana dan Tara sudah berusaha meneduhkannya. Perjalanan terasa jauh lebih lama karena ritme gerak mereka melambat drastis. Semangat taktis yang semula menggebu-gebu kini menguap tanpa bekas, menyisakan kekecewaan setelah harapan mereka dihempas begitu saja oleh Sang Dalang.

Setengah perjalanan berlalu dalam keheningan yang pekat. Sejauh ini belum ada tanda-tanda bahaya yang mengancam, memicu dorongan di benak keduanya untuk segera tiba di rumah dan melanjutkan investigasi dari meja markas siber.

[23:44:05]

Lima belas menit telah terbuang sejak mereka meninggalkan ruangan kosong itu, memangkas jarak sekitar dua ratus meter. Ketegangan kian merayap naik saat mereka mulai mendekati titik lubang keluar stasiun. Di belakang siluet kokoh ayahnya, Tara sebenarnya mulai kelelahan. Namun, remaja itu memilih bungkam dan enggan meminta jeda karena melihat sorot emosi Baskara yang masih kelam. Meski ia tahu, sang ayah pasti akan langsung berhenti jika ia mengeluh barang sedetik saja.

Dalam keheningan yang kaku, ketukan sol sepatu mereka terus bergema konstan di antara dinding labirin. Suara tetesan air tanah masih terdengar ritmis, sama sekali tidak terpengaruh oleh gelombang frustrasi yang sedang mengalir di dalam benak kedua agen lapangan tersebut.

Tiga puluh lima menit yang melelahkan berlalu. Berkas pendar cahaya matahari fajar dari mulut lubang stasiun akhirnya kembali menyapa pandangan. Namun, tepat ketika langkah mereka mulai memburu, Baskara menangkap sesuatu yang janggal. Ada sayup suara bising, deru mesin statis dan gesekan ban dengan kerikil yang menyusup masuk dari arah permukaan.

Hanya tersisa beberapa langkah lagi sebelum mereka mencapai tangga kayu vertikal itu, ketika mendadak suara Arkan memotong tajam melalui jaringan The Phantom Ear.

“Tunggu dulu, Ayah, Tara! Berhenti!” seru Arkan. Nada suaranya tegas, dipenuhi peringatan yang kentara. “Sistem pemantau perimeter darurat mendeteksi adanya pergerakan armada otoritas tepat di atas kalian. Tiga unit mobil polisi distrik baru saja melakukan barikade total!”

Langkah Baskara dan Tara terkunci seketika. Tara menatap sang ayah dengan kilat kebingungan sekaligus cemas yang amat sangat. Polisi datang jauh lebih cepat dari estimasi media sosial yang sempat Kirana sampaikan.

“Secepat itu?” bisik Tara, suaranya bergetar rendah di bawah volume subvokal.

Baskara kembali membisu, namun sepasang matanya menyala drastis. Amarah yang sempat meredup kini kembali berkobar berapi-api. Logika detektifnya langsung merangkai benang merah: ini murni ulah Sang Dalang. Sosok misterius itu pasti telah melempar laporan darurat fiktif berskala merah yang memaksa unit Sabhara sektor barat langsung meluncur ke tempat ini untuk memblokir rute evakuasi mereka.

“Sial. Bajingan itu benar-benar memanfaatkan segalanya,” bisik Baskara geram, rahangnya mengatup rapat hingga persendiannya memutih. “Aku sedang bebas tugas akhir pekan ini, dan dia sengaja memanfaatkan status pasif gawai dinasku agar aku buta informasi!”

Tangan tegap Baskara mengepal kuat, melampiaskan gejolak emosi yang buntu. Bagaimanapun, instingnya tetap menuntut kewaspadaan mutlak; ia harus meredam suara dan menahan napas agar pergerakan mereka tidak memicu gema yang bisa terdengar sampai ke permukaan stasiun tua.

Kirana yang bisa merasakan gejolak emosi Baskara kembali memuncak melalui frekuensi audio, segera mengambil kendali situasi. Sepasang jemarinya tetap menari lincah di atas papan ketik, menembus barisan enkripsi tata kota kuno guna menganalisis jalur evakuasi darurat yang paling aman bagi suami dan putrinya.

“Sayang, tenanglah. Fokus untuk keluar dari sana, itu tujuan utama kalian sekarang,” suara Kirana mengalun lembut namun sarat akan ketegasan di dalam The Phantom Ear. “Aku sedang memetakan rute alternatif. Butuh beberapa menit untuk menembus dinding pertahanan siber jalurnya. Sekarang, menjauhlah dari radius lubang stasiun agar pergerakan kalian tidak terendus oleh sensor pemindai atau petugas di atas. Tara, Sayang... istirahatlah sejenak dan telan sisa bola hidrasi yang Ibu bawakan tadi. Tetap tenang dan fokus.”

Sekali lagi, intonasi meneduhkan dari sang istri berhasil menjadi penawar amarah Baskara.

Baskara menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya lambat, lalu memberikan isyarat tangan kode senyap kepada Tara untuk mundur menjauhi titik tangga kayu. Mereka bergerak mengendap beberapa meter ke arah kegelapan terowongan, lalu menyandarkan punggung pada dinding semen yang lembap.

Sembari mengatur napas yang memburu setelah berjalan lima puluh menit tanpa henti, mereka kembali mengulum bola gel hidrasi dengan takzim. Jeda singkat ini menjadi oksigen bagi fisik mereka yang mulai digerogoti kelelahan, meski di sudut pandang visual mereka, angka hitung mundur dari Sang Dalang tetap melorot turun tanpa secuil pun belas kasihan.

Lihat selengkapnya