The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #7

BAB VII- Jeda Sebelum Badai

[15:30:05]

Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang sunyi sebelum mobil otonom tanpa awak itu akhirnya merapat halus di depan pagar kediaman keluarga Wiranata. Baskara mengembuskan napas lega yang panjang, lalu menoleh ke arah putri bungsunya yang masih tertidur lelap di kursi sebelah. Tatapan sang detektif seketika melembut, menyiratkan bauran rasa sayang dan kekhawatiran yang mendalam atas kondisi fisik Tara yang ringkih akibat kelelahan ekstrem.

Enggan mengusik istirahat sang putri, Baskara bergerak seringkas mungkin. Ia membuka pintu mobil, mengalungkan kembali tas portabel kedap air ke punggungnya, lalu turun memutari moncong kendaraan menuju pintu sebelah guna menjemput Tara.

Dengan gerakan yang teramat hati-hati, Baskara menyusupkan kedua lengan kekarnya di bawah punggung dan lekuk lutut Tara. Ia mengangkat tubuh putrinya dengan lembut, memperlakukannya penuh kasih layak seorang tuan putri. Menggunakan punggung tegapnya, Baskara mendorong pintu mobil hingga tertutup senyap, lalu mulai melangkah mantap menuju pintu masuk rahasia rumah mereka. Merasakan bobot tubuh Tara yang bersandar pasrah di dadanya, sebersit rasa hangat mendadak menyusup ke lubuk hati Baskara; sudah lama sekali rasanya ia tidak menggendong putri kecilnya ini.

Begitu mereka menapak di depan ambang pintu, daun pintu pun langsung terbuka otomatis secara senyap. Kirana sudah berdiri di sana sejak tadi guna menyambut kepulangan mereka. Sepasang mata sang istri seketika berkaca-kaca saat mendapati putri bungsu mereka telah terlelap pasrah di dalam dekapan suaminya.

“Syukurlah kalian sudah tiba dengan selamat... Bawa Tara langsung ke kamarnya, Sayang. Dia pasti sudah sangat kelelahan,” bisik Kirana lirih, menyuarakan kecemasan hebat yang sejak siang tadi mengunci dadanya.

Baskara mengangguk samar, memvalidasi seluruh kecemasan yang membayang di wajah istrinya. “Aku mengerti, Sayang. Kau juga harus beristirahat. Nanti kita akan lanjutkan penyelidikan ini bersama,” ucap Baskara sembari melangkah masuk melewati ambang pintu menuju kamar tidur Tara.

Kirana hanya mampu menghela napas panjang. Ia menutup daun pintu rumah dengan rapat, menguncinya berlapis secara senyap, lalu bergegas menyusul.

Sementara itu, Baskara membuka pintu kamar Tara seringkas mungkin. Menggunakan pundaknya untuk mendorong daun pintu yang terbuka sedikit, ia membawa tubuh putrinya mendekati ranjang, lalu merebahkannya di atas kasur empuk di sana dengan gerakan yang teramat halus.

Kirana melangkah masuk ke dalam kamar tepat ketika Baskara selesai memosisikan tubuh putri bungsu mereka yang telah menjelma menjadi tawanan rasa lelah tersebut.

“Biar aku yang mengganti pakaian Tara. Kau jauh lebih lelah dibanding aku hari ini,” ucap Kirana lirih sembari mengusap lembut punggung Baskara, mencoba menyalurkan sedikit ketenangan. “Sebaiknya kau bersihkan diri dan beristirahat sejenak. Arkan juga masih berada di ruang kendali siber, sedang menyisir beberapa hal yang mencurigakan.”Baskara menganggukkan kepala, mematuhi saran sang istri. Namun, ia tidak langsung beranjak; langkahnya tertahan sejenak demi mengecup takzim dahi putri bungsunya yang masih terlelap, menyalurkan seluruh naluri pelindung seorang ayah sebelum akhirnya berbalik arah menuju pintu kamar.

“Baik, Sayang. Kau juga jangan lupa untuk beristirahat nanti,” bisik Baskara lirih sebelum melangkah keluar menuju ruang rahasia mereka untuk menemui Arkan.

Kirana mengangguk samar mengiyakan. Setelah pintu kamar Tara tertutup rapat dan senyap, ia segera berbalik untuk fokus merawat putri mereka.

Di sisi lain rumah, Baskara mendorong pintu baja ruang rahasia dan melangkah turun ke dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar redup monitor siber. Ia mendapati Arkan masih sibuk mengotak-atik papan ketik komputernya, bergerak gesit menyisir setiap anomali dan hal mencurigakan yang tertangkap oleh sistem.

“Menemukan sesuatu, Nak?” tanya Baskara dengan nada serius. Ia menarik kursi, mengambil tempat duduk tepat di sebelah Arkan sembari melemparkan pandangan tajamnya ke arah deretan layar yang menampilkan rona matriks informasi hasil selidikan putra sulungnya itu.

“Tidak, Yah. Kali ini jejak orang itu sangat bersih. Berbeda dengan kemarin malam,” jawab Arkan. Nada suaranya terdengar tenang, namun ada getaran frustrasi yang samar di sana sembari jemarinya memijat pangkal hidung yang terasa pening.

Baskara memperhatikan ekspresi letih putra sulungnya itu. Ia mengulas senyum tipis, lalu mengulurkan tangan untuk menepuk pucuk kepala Arkan dengan lembut. “Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kalau jalur digitalnya buntu, kita fokus ke petunjuk fisik saja. Ini yang kami temukan di bawah sana.”

Baskara menurunkan tas portabel kedap air dari pundaknya, lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam misterius yang ia amankan bersama Tara tadi. Ia meletakkannya di atas meja, membukanya dengan hati-hati, kemudian mengeluarkan selembar surat berisi bait teka-teki kedua.

Arkan seketika menyipitkan mata, menggeser posisi duduknya demi mengamati deretan kalimat di atas kertas tersebut. Ia melirik ke arah sang ayah dengan tatapan penasaran. “Apakah Ayah sudah tahu lokasi berikutnya?” tanya Arkan, suaranya terdengar lelah namun rasa ingin tahunya kembali terpacu.

Baskara menyandarkan punggung, menatap bait demi bait tulisan itu dengan dahi berkerut. “Ayah punya firasat kuat tentang tempat ini. Tapi, simpan dulu rasa penasaranmu. Istirahatlah sejenak dan biarkan otakmu mendingin. Satu jam lagi kita akan bedah teka-teki ini bersama-sama,” ucap Baskara sembari kembali menepuk bahu Arkan, memberikan jeda yang sangat dibutuhkan oleh putranya.

Sebelum Arkan sempat menyahut, pintu baja ruangan rahasia mendadak bergeser terbuka. Kirana melangkah masuk sembari membawa sebuah nampan berisi piring dengan enam potong sandwich besar, ditemani dua gelas kopi hitam pekat serta segelas susu hangat untuk putra sulungnya. Ia segera menghampiri Baskara dan Arkan, lalu mengulas senyum lembut yang meneduhkan.

Lihat selengkapnya