"Ini dia!" seru Baskara tertahan, sebuah senyuman taktis mendadak terkembang di wajah letihnya beberapa saat lalu di ruang rahasia. "Ini maksud dari pilar dan matahari yang tertulis di surat itu!"
Kirana dan Arkan serentak tersentak. Mereka menatap Baskara dengan bauran rasa bingung yang amat sangat, terkejut melihat perubahan ekspresi sang kepala keluarga yang mendadak dipenuhi binar taktis.
Arkan menghentikan kunyahannya, memajukan posisi duduk demi menatap sang ayah. “Apa maksud Ayah?” tanya Arkan, suaranya sarat akan rasa penasaran yang mendesak. Di sebelahnya, Kirana ikut mengangguk cepat, sepasang matanya menuntut penjelasan instan atas ketiba-tibaan ini.
“Lihat ini,” ucap Baskara dengan suara rendah yang bergetar penuh determinasi. Telunjuk tegapnya mengetuk keras di atas permukaan foto cetak yang menampilkan area dinding beton ruang staf pengadilan lama. “Perhatikan bentuk reliefnya. Variabel visualnya sama persis dengan baris petunjuk yang ditulis bajingan itu di atas kertas surat. Ada tiga pilar klasik, dan ada siluet matahari terbit di latar belakangnya.”
Arkan dan Kirana langsung mencondongkan tubuh, mengunci pandangan mereka pada titik yang ditunjuk oleh jemari Baskara. Begitu jalinan visual itu tercerna oleh otak mereka, ekspresi letih di wajah ibu dan anak itu seketika berganti menjadi keterkejutan yang nyata.
“Wah, kau benar, Sayang... itu lambang lama Pengadilan Tinggi Askara sebelum reformasi tata kota,” bisik Kirana lirih, suaranya tercekat menyadari potongan teka-teki itu akhirnya beradu pas. “Pemerintah modern sudah mengganti logo instansi itu puluhan tahun lalu, makanya ingatan kita sempat mengecoh ke arah pilar beton di lobi depan.”
Sesuatu di dalam kepala sang detektif senior kini telah terhubung seutuhnya. Kilasan demi kilasan manipulasi Sang Dalang berputar cepat, hingga sebuah kesadaran instan mengunci target operasinya malam ini.
Arkan dan Kirana saling bertukar pandang. Kirana sempat mengulas senyum puas karena teka-teki besar itu perlahan mulai terpecahkan atau setidaknya, itulah yang ada di dalam benak mereka saat itu.
“Tapi...” ucap Baskara dengan suara tertahan. Ia menghela napas panjang yang berat sambil menyapu rambutnya ke belakang dengan jemari kasar. “Aku masih belum tahu apa arti sebenarnya dari kalimat ‘tersimpan di balik pilar ketiga yang menghadap matahari terbit’,” sambungnya dengan nada suara yang kembali merosot agak frustrasi.
Kirana yang menyadari perubahan ekspresi suaminya kembali dilingkupi rasa frustrasi, segera mengulas senyum teduh sembari mengusap lembut lengan Baskara.
“Kurasa itu sudah sebuah kemajuan yang sangat baik, Sayang. Kita bisa memikirkan mekanismenya nanti. Setidaknya kita sudah tahu ke mana kaki kita harus melangkah, kan? Hanya tersisa satu hal yang belum terjawab, dan aku pikir kita akan menemukan jawabannya saat sudah berada di sana nanti,” ucap Kirana, berusaha menenangkan badai di kepala Baskara.
Arkan mengangguk mantap, menyetujui ucapan sang ibu demi menyuntikkan kembali keyakinan pada ayahnya. “Itu benar, Ayah. Setidaknya variabel lokasinya sudah terkunci,” ucapnya dengan nada tenang, berusaha meredam kecemasan sang ayah.
“Sebaiknya kamu beristirahat, mandi, dan ganti ke pakaian taktis yang baru, Sayang. Aku akan menyiapkan semua keperluanmu,” ucap Kirana dengan nada lembut, sepasang matanya menatap lekat gurat keletihan yang mengunci ekspresi sang suami. “Apakah aku perlu membangunkan Tara untuk ikut denganmu nanti?”
“Tidak perlu. Biarkan Tara beristirahat total,” balas Baskara dengan nada serius, langsung mengunci keputusannya. “Malam ini biar aku yang pergi sendirian. Jam setengah tujuh malam aku akan berangkat.”
Kirana mengangguk pelan, mematuhi keputusan sang suami tanpa banyak membantah. “Baiklah, Sayang. Istirahat saja dulu di kamar. Ini masih jam setengah empat sore,” pinta Kirana sembari mengulas senyum lembut, mencoba menyalurkan ketenangan yang meneduhkan.
Baskara menghela napas panjang, membiarkan beban di pundaknya sedikit melonggar sewaktu ia kembali menyandarkan tubuh di kursi. Ia melirik ke arah istrinya, dan seulas senyuman tulus akhirnya terukir di wajah sang detektif senior. “Terima kasih, Sayang.”
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran yang nyaris terkuras habis. Sebelum beranjak, Arkan bergerak cepat membersihkan area meja taktis. Dengan satu tekanan mantap pada tombol merah, sistem enkripsi yang sama seperti yang digunakan Baskara kemarin malam, seluruh grafik digital dan jejak pelacakan siber mereka langsung terhapus tanpa sisa, mengembalikan layar ke mode steril.
Tanpa banyak suara lagi, mereka bertiga pun melangkah masuk ke dalam kamar masing-masing demi menjemput beberapa jam istirahat yang amat berharga sebelum malam yang panjang dimulai.Beberapa jam kemudian, atmosfer di dalam kediaman Wiranata telah berubah total. Sejak pukul 18.00 sore, Baskara, Arkan, dan Kirana sudah kembali berkumpul, bersiap sepenuhnya untuk menuntaskan misi pencarian teka-teki kedua malam ini.
Tepat pukul 18.30 malam, sebaris angka digital berwarna merah darah berkedip aktif di sudut visi Baskara: [12:10:00].
Sang detektif senior berdiri di tengah ruang siber sembari mengancingkan rompi taktis hitamnya yang baru. Di depannya, Arkan sedang fokus melakukan kalibrasi akhir pada sistem pemantauan jarak jauh, sementara Kirana memastikan jalur komunikasi siber mereka berada di frekuensi paling aman.
Baskara tiba-tiba teringat sesuatu saat melihat beberapa informasi dan sisa indikator data yang berjalan di lensanya.
"Arkan," panggil Baskara, suaranya yang berat memecah keheningan ruang siber. "Tara tidur masih memakai lensanya sejak siang, kan? Apa tidak apa-apa jika dibiarkan menempel selama itu?"