The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #9

BAB IX - Menyisir Jejak yang Berdebu

Klek.

Sebuah pintu rahasia yang strukturnya menyatu sempurna dengan dinding batu perlahan bergeser terbuka, tepat di bawah pahatan pilar kedua.

“Pintunya sudah terbuka. Aku akan masuk dan memeriksa isinya,” bisik Baskara lewat jalur komunikasi subvokal.

Baskara menarik lembut telapak tangannya dari ceruk kotak tersembunyi di pilar ketiga, lalu bergerak mendekati celah yang baru saja terbuka. Ia mendorong daun pintu itu sedikit lebih lebar agar tubuh tegapnya bisa masuk dengan mudah. Begitu tangannya menyentuh material tersebut, barulah ia menyadari sebuah detail mekanis yang cerdas: pintu itu rupanya terbuat dari kayu jati tebal yang dipahat dan dicat sedemikian rupa hingga menyerupai tekstur batu, sengaja didesain khusus untuk berkamuflase dengan dinding semen di sekitarnya.

Sang detektif senior melangkah pasti menembus ambang pintu. Di balik pendar hijau monokrom dari mode night-vision lensanya, sebuah ruangan berukuran masif dengan struktur dua lantai langsung terhampar di hadapannya. Tata letak ruangan rahasia ini sekilas mengingatkan Baskara pada perpustakaan modern, lengkap dengan deretan rak-rak tinggi yang berjejer rapi. Namun, alih-alih berisi buku literatur, isi rak-rak raksasa tersebut adalah tumpukan dokumen lama dan berkas arsip hasil pengadilan dari masa kejayaan distrik kota tua.

Baskara melangkah lebih dalam sembari mengangkat sedikit punggung tangannya untuk menghalau hidung. Gerakan pintu yang mendadak tadi sudah pasti membuat partikel debu tebal yang telah mengendap selama puluhan tahun di area pintu masuk beterbangan ke udara, mengusik indra penciumannya di dalam keheningan yang pengap.“Banyak sekali dokumen lama di sini. Sepertinya aku harus menyisir setiap sudut untuk mencari benda yang sengaja ditinggalkan oleh orang itu,” ucap Baskara tenang lewat jalur subvokal. Ia menurunkan kembali punggung tangannya dari hidung begitu partikel debu di area tersebut mulai tenang dan tidak lagi mengusik napasnya.

Baskara melangkah lebih jauh, memilih untuk memulai pencarian dari deretan rak di sisi kanan pintu masuk. Sembari berjalan lambat, sepasang matanya sekilas membaca label-label pada bundel berkas usang yang berjejer. Di sana tersimpan rekam jejak persidangan kasus-kasus masa lalu; mulai dari penculikan, pencurian, hingga skandal besar korporasi yang sempat mengguncang Marcapada pada masanya. Semuanya tersusun rapi, membeku sebagai sejarah. Melihat aset data fisik berharga ini, Baskara tidak heran mengapa otoritas kota masih repot-repot mempertahankan kamera pengawas aktif di luar gedung. Namun, ia sendiri tetap takjub; tidak menyangka bahwa kompleks ruang arsip sebesar ini disembunyikan di balik mekanisme pintu rahasia kuno yang usianya sudah puluhan tahun.

Sesekali, jemari taktisnya menarik satu berkas, membacanya sekilas, lalu mengembalikannya ke posisi semula, menyimpan informasi-informasi acak tersebut ke dalam memorinya, berpikir siapa tahu ia akan membutuhkannya di masa depan.

Karena ukuran ruangan yang masif dan luas, proses pencarian ini memakan waktu yang jauh lebih lama dari perkiraan. Ditambah lagi, pendar hijau monokrom dari lensa night-vision-nya meratakan kontras warna di dalam kegelapan, membuat kotak polimer hitam yang ia cari seolah melebur sempurna dengan bayang-bayang rak besi. Baskara harus memeriksa celah demi celah secara manual dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara gaduh.

Setelah hampir empat puluh lima menit berputar-putar hingga naik ke lantai dua, Baskara tiba di sudut paling belakang ruangan. Di sana, di antara tumpukan kotak dokumen yang kondisinya sudah ringsek digerogoti waktu, matanya menangkap sebuah siluet yang familier.

Langkah kaki Baskara bergegas mendekat. Ekspektasinya terbukti. Itu adalah Kotak Hitam Ketiga, memiliki material polimer pekat yang persis sama dengan dua kotak sebelumnya.

“Aku sudah menemukan kotaknya. Sial, benda ini benar-benar tersembunyi dengan baik,” gumam Baskara rendah sambil menghela napas lelah.Baskara mengulurkan kedua tangannya, mengangkat Kotak Hitam Ketiga itu dengan hati-hati. Namun, gerakannya mendadak terkunci tepat saat jemarinya hendak menyentuh panel pemindai biometrik di atas penutup kotak. Sebuah kilasan analisis taktis melintasi benaknya, memicu alarm kewaspadaan di dalam kepala.

“Tunggu dulu,” bisik Baskara teramat pelan lewat jalur subvokal. Matanya melirik ke arah sudut kanan visual lensa pintarnya, mengunci barisan angka merah darah yang berkedip tepat di kombinasi kembar: [10:00:00]. Jam dinding siber di sudut kiri lensanya juga menunjukkan waktu dunia nyata: 20:40.

“Jika aku membuka kotak ini sekarang, Sang Dalang pasti akan memicu pola logaritma yang sama. Waktu akan direset kembali ke dua puluh empat jam dari titik ini, dan itu akan sangat merepotkan,” gumamnya sembari menghela napas panjang.

Baskara menimbang ulang segala risiko. Jika siklus waktu baru berjalan dari pukul 20.40 malam ini, artinya batas akhir permainan babak berikutnya adalah pukul 20.40 besok malam. Masalahnya, dua hari ini adalah akhir pekan di mana ia bisa mengambil waktu libur pasif. Besok adalah hari kerja, dan sebagai detektif kepolisian senior, ia mutlak harus kembali berdinas di markas. Memecahkan teka-teki rumit di tengah kepungan tugas resmi adalah hal yang mustahil.

Sembari terus mendekap kotak polimer hitam yang masih terkunci itu, Baskara berbalik arah menuju undakan tangga besi di tengah ruangan. Ia memilih duduk di salah satu anak tangga, mengistirahatkan fisiknya sejenak sembari mengumpulkan benang pikiran. Ia tahu, langkah krusial ini tidak boleh diputuskan sendiri.

“Arkan, Kirana. Aku sengaja menahan diri untuk tidak memicu sensor kotak ketiga ini,” lapor Baskara dengan nada serius. “Jika bajingan ini menggunakan pola reset yang sama, kita harus menyelesaikan babak baru sebelum jam delapan malam lewat empat puluh menit besok. Masalahnya, besok aku sudah harus masuk dinas dan tidak bisa mengambil cuti mendadak. Bagaimana analisis kalian?”

Di seberang jaringan komunikasi ruang siber rumah Wiranata, Arkan dan Kirana saling bertukar pandang dalam keheningan yang tegang. Logika Baskara tidak terbantahkan. Berdasarkan kronologi sebelumnya, durasi hitung mundur baru akan aktif begitu kotak disentuh. Jika Baskara mengaktifkan pesan siber itu detik ini, mereka akan dipaksa berkejaran dengan waktu di saat sang kepala keluarga sedang berada di bawah pengawasan ketat mata publik di markas kepolisian. Situasi itu jelas akan memojokkan posisi tim bayangan mereka ke titik paling berbahaya.

Sebelum sempat Arkan atau Kirana memberikan analisis balasan, kesunyian di dalam ruang siber Wiranata mendadak pecah. Pintu baja di balik tangga berdesis terbuka secara tiba-tiba.

Lihat selengkapnya