The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #10

BAB X - Kembali ke Titik Nol

Pukul 00:59 dini hari. Keheningan yang pekat merayap di dalam ruang arsip kuno Gedung Pengadilan Tinggi Lama, terasa kian dingin menggigit hingga ke tulang. Baskara melihat ke arah kotak hitam di pangkuannya, di sudut lensa menampilkan barisan angka berwarna merah darah yang menunjukkan sisa waktu yang terus menyusut.

[05:41:50]

“Aku akan membuka kotak ini sekarang,” ucap Baskara dengan tenang.

Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh panel biometrik di kotak itu. Klik. Penutup kotak itu terbuka secara otomatis, memancarkan desis hidrolik pendek dan menampilkan benda yang sama seperti sebelumnya. Firasat taktis Baskara terbukti benar murni. Di dalam kompartemen tersebut, tergeletak sebuah silinder perak metalik yang mungkin berisi rekaman dan mereset waktu hitung mundur, bersanding dengan sebuah surat kertas hitam bertuliskan perak dengan tinta khusus.

Jarinya bergerak menyentuh permukaan silinder perak itu. Seketika, permukaan metaliknya bercahaya dan pendar hijau tua keluar ke udara, memproyeksikan sebuah hologram yang sama seperti teka-teki sebelumnya.

Detik berikutnya, sebuah gelombang suara yang telah dimodifikasi dengan distorsi berat, suara bariton dingin milik Sang Dalang, mengalun memecah kesunyian malam di dalam ruang arsip.

“Khakhakha... Selamat malam, Detektif Senior Baskara Wiranata,” suara tawa rendah yang kering dan parau itu bergema, memantul di antara deretan rak dokumen tua yang apak. “Kecerdasan taktis dan ketenangan mentalmu dalam mengurai pilar matahari terbit benar-benar luar biasa. Selamat, kau telah resmi menyelesaikan teka-teki kedua dengan poin sempurna.”

Suara bariton distorsi itu menjeda selama beberapa detik, memberikan efek tekanan psikologis yang pekat sebelum nadanya mendadak berubah menjadi lebih dingin dan menusuk.

“Namun, jangan biarkan pundakmu rileks terlalu cepat, Detektif. Perjalananmu masih teramat panjang, dan permainan ini masih terus berjalan sesuai kehendakku. Bersiaplah untuk babak berikutnya.”

Bzzzzt!

Proyeksi hologram hijau tua itu mendadak mati total, menyisakan desis statis pendek sebelum silinder perak itu mengunci diri kembali. Tepat pada detik yang sama, jam siber di sudut kiri lensa Eye-Sync Baskara berdentang menunjukkan angka pukul 01:00 subuh pas.

Bersamaan dengan pergantian jam dunia nyata tersebut, barisan logaritma merah darah di sudut kanan lensanya mendadak mengalami glitch digital yang masif. Angka-angka tersebut berputar acak dengan kecepatan tinggi, mengikis habis sisa waktu lima jam yang lalu, sebelum akhirnya membeku dan meriset ulang sebuah siklus teror baru selama dua puluh empat jam ke depan:

[24:00:00]

[23:59:59]

[23:59:58]

Permainan babak keempat resmi dimulai dalam kesunyian dini hari yang mencekam.

Baskara mendengar itu, rahangnya mengencang. Ia menahan sekuat tenaga gejolak emosi yang membakar dada akibat untaian kata merendahkan dari Sang Dalang. Sepasang matanya melirik ke arah jam digital merah darah di sudut visual lensa yang kini telah disetel ulang tepat di pukul satu malam, persis seperti rencana penundaan yang mereka susun sebelumnya.

“Permainan? Jadi bajingan ini benar-benar mengira bisa bermain-main dengan nyawa keluarga kita? Kita harus menyelesaikan semua kegilaan ini secepatnya,” gumam Baskara dengan nada jengkel yang tertahan.

Lihat selengkapnya