The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #11

BAB XI - Kendali dari Balik Layar

Beberapa jam berlalu dengan cepat, digantikan oleh pendar fajar matahari pagi yang perlahan menyembul dari balik cakrawala Kota Askara Modern. Sinar keemasan mulai menembus celah-celah gorden jendela, mengusir kabut tipis yang sempat menggantung di halaman rumah.

[17:45:36]

Pukul 06:15 pagi, atmosfer di dalam dapur rumah Wiranata sudah kembali bergerak aktif. Bau harum tumisan bawang dan seduhan kopi hitam pekat racikan Kirana memenuhi ruangan, bertalu-talu dengan aroma gurih sayur sop hangat yang mengepul di atas kompor, menepati janjinya semalam.

Baskara melangkah masuk ke area dapur dengan langkah tegap. Penampilannya kini telah berubah total 180 derajat dari beberapa jam yang lalu. Tidak ada lagi setelan zirah taktis hitam yang ketat atau sabuk kompartemen taktis siber. Pria itu kini telah mengenakan seragam dinas kepolisian lengkap dengan atribut lengkap; tanda pangkat detektif senior terpasang kokoh di pundaknya, berkilau rapi di bawah sorot lampu dapur.

Tepat saat Baskara menarik kursi meja makan, Arkan dan Tara melangkah masuk bersamaan.

“Selamat pagi, Ayah, Ibu,” sapa Tara parau sembari sedikit menguap lebar. Kelopak matanya masih terasa berat akibat tidur terlalu larut semalam. Di sebelahnya, Arkan juga masih terlihat berantakan karena baru saja melompat dari tempat tidur; rambut tebal dan baju tidur mereka berdua tampak sedikit acak-acakan.

“Selamat pagi, Nak. Kalian berdua masih terlihat kacau,” ucap Baskara sembari tertawa pelan. Ada secercah rasa khawatir yang menyelinap di matanya melihat anak-anaknya masih didera kelelahan fisik. Ia mengambil posisi duduk di kursi utama meja makan, yang langsung diikuti oleh Arkan dan Tara di kursi mereka masing-masing.

Kirana tersenyum hangat, menyajikan empat piring nasi putih dan mangkuk sayur sop segar di tengah meja. "Selamat pagi, Sayang. Ayo sarapan dulu. Habiskan semuanya agar energi kalian penuh untuk menghadapi hari ini," ucap Kirana lembut.

Mereka berempat mulai menyantap makanan dalam keheningan yang taktis. Begitu piring-piring mulai mengosong, Baskara meletakkan sendoknya. Ia merogoh saku seragamnya, lalu mengeluarkan selembar surat kertas hitam bertuliskan tinta perak khusus semalam. Ia menggelar kertas itu di tengah meja makan, tepat di bawah sorot lampu yang benderang.

“Ayah harus berangkat ke markas besar lima belas menit lagi,” buka Baskara, nadanya kembali mengunci wibawa seorang pemimpin operasi bayangan. “Hari ini adalah hari Senin. Mata publik dan pengawasan internal kepolisian akan mengunci pergerakan Ayah sampai sore nanti. Ayah tidak akan punya kemewahan waktu untuk memegang gawai siber, apalagi memikirkan teka-teki secara terang-terangan. Tapi, Ayah akan tetap memantau perkembangan kalian dari balik The Phantom Ear dan W-Ring yang tersamar di seragam ini.”

Baskara mengetuk pelan barisan kalimat perak di atas kertas tersebut, membiarkan istri dan kedua anaknya membaca bait baru yang ditinggalkan Sang Dalang.

“Aku adalah hulu dari segala titah yang kini telah membisu, tempat di mana sang penguasa pertama memahat cetak biru kejayaan masa lalu. Berjalanlah ke utara, temukan singgasana tua yang terkunci di balik dinding tirai abu-abu. Pasang telingamu baik-baik pada detak yang tak bernyawa, sebelum fajar berikutnya merenggut napas kalian tanpa sisa. -Sang Dalang”

“Seperti yang kalian lihat, permainan katanya naik satu level lebih sulit dan sangat abstrak,” lanjut Baskara serius, sepasang mata detektifnya menatap bergantian pada Arkan dan Tara. “Selagi Ayah terjebak di markas, Ayah serahkan kendali awal teka-teki ketiga ini pada kalian bertiga dari rumah. Manfaatkan waktu libur sekolah kalian dengan bijak.”

Tara menyilangkan kedua lengannya di depan dada sembari bersandar pada sandaran kursi. Sepasang mata emerald-nya menyipit taktis, meneliti bait demi bait kalimat perak yang baru saja digelar di atas meja.

“Baik, Ayah. Aku, Kak Arkan, dan Ibu akan mencoba menguliti arti dari permainan kata ini dari rumah. Ayah fokus saja pada kedinasan di markas besar, dan kami akan langsung mengunggah setiap informasi penting ke dalam basis data keluarga kita,” ucap Tara dengan nada santai namun sarat akan kesiapan seorang rekan lapangan.

“Iya, Ayah. Jaringan enkripsi rumah akan terus memantau perimeter dan memberikan pembaruan data secara real-time ke lensa Eye-Sync milik Ayah. Ayah jangan terlalu khawatir tentang teka-teki ini,” sambung Arkan sembari mengangguk mantap, tatapannya beralih menatap sang ayah guna menyuntikkan keyakinan.

Kirana ikut mengulas senyum lembut sembari menganggukkan kepalanya dengan takzim. Sentuhan hangat di punggung tangan Baskara dan sorot mata meneduhkan dari sang istri perlahan berhasil membasuh sisa-sisa kecemasan yang sempat membayangi ekspresi wajah sang detektif senior.

Baskara menghela napas panjang, lalu menatap ke arah wajah istri dan kedua anaknya dengan sorot mata yang teramat lembut. Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya; ia selalu bersyukur karena dalam situasi serumit apa pun, keluarganya selalu siaga menjadi tim pendukung nomor satu. Namun, untuk operasi kali ini, ia harus mengesampingkan satu perangkat utamanya demi keamanan jangka panjang.

Lihat selengkapnya