The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #12

BAB XII - Arus yang Terendus

Pada saat yang sama, riuh kesibukan Senin pagi telah membakar atmosfer Markas Pusat Kepolisian Kota Askara. Gedung monolitik bertingkat dua puluh itu berdiri pongah di tengah pusat metropolitan, bertindak sebagai jantung dari seluruh komando penegakan hukum di Negara Marcapada. Di dalam labirin beton bertulang komposit tersebut, ribuan personel dari berbagai divisi dan pangkat bergerak dinamis di bawah kepungan pendar layar hologram publik dan sensor pengawas internal. Di sinilah Baskara Wiranata mengubur identitas rahasianya setiap hari.

Baskara duduk bergeming di balik meja kerjanya yang tersisih di sudut Biro Investigasi. Sepasang matanya menatap tajam, meneliti satu per satu berkas fisik dan log digital kasus kuno yang telah menumpuk sejak hari terakhir ia berdinas pekan lalu. Sebagai seorang detektif senior dengan pangkat setara Inspektur Utama, wibawanya diakui di divisi ini, membuat area kubikelnya jarang diusik oleh perwira muda jika tidak ada urusan darurat.

Jarum jam dinding digital di sudut ruangan tepat merayap ke angka 07:30 pagi. Tepat saat Baskara sedang memilah dokumen terkait laporan kriminalitas urban yang baru masuk, sebuah getaran taktil berirama frekuensi rendah mendadak berdenyut di jari manisnya.

Itu adalah W-Ring.

Sensor biometrik di cincinnya berdesir samar, mengirimkan kode senyap bahwa Kirana dan Arkan di rumah baru saja berhasil mengunggah pembaruan data atau temuan awal terkait teka-teki Sang Dalang. Baskara mengembuskan napas pendek, mengunci rahangnya rapat-rapat. Ia terpaksa mengabaikan sinyal darurat tersebut dan membiarkan W-Ring-nya kembali tidur. Di tempat di mana setiap jengkal sudut ruangan diawasi oleh pemindai siber internal seperti ini, pergerakan mencurigakan sekecil apa pun dari seorang detektif senior bisa memicu alarm kecurigaan yang fatal.

Baskara menutup map dokumen di hadapannya dengan ketukan pelan, lalu bangkit berdiri dari kursi kerja. Ia melangkah keluar dari kubikelnya, berjalan menyusuri koridor korporat menuju pantri kantor. Otaknya yang penat butuh kafein hitam kuat untuk membilas sisa-sisa kantuk dan menyegarkan kembali fokus taktisnya.

Saat ia sedang menunggu mesin kopi induksi meneteskan cairannya ke dalam cangkir, sebuah tepukan bertenaga mendarat mendadak di pundaknya. Baskara menoleh reflek. Sepasang matanya langsung menangkap sosok Yuda Prasetya yang tengah berdiri sembari mengulas senyum lebar. Yuda adalah Pakar Forensik Digital Utama di markas ini, sekaligus sahabat dekat yang meniti karier di kepolisian Marcapada dalam angkatan yang sama dengannya.

“Oh. Pagi, Yud,” sapa Baskara tenang. Nada suaranya diatur sebarat dan serileks mungkin, sembari tangannya terangkat membawa cangkir kopi yang baru terisi penuh untuk disesap sedikit.

“Pagi, Bas. Lu kenapa, sih?” goda Yuda parau sembari melangkah melewatinya untuk meraih gelas kosong di atas rak, berniat meracik kopinya sendiri. Pria itu terkekeh pelan, melirik tajam ke arah sudut mata Baskara. “Muka lu kusut banget pagi-pagi begini. Kayak orang lagi dikejar utang, atau... mirip detektif yang habis begadang semalaman nyari berkas usang.”

Baskara tetap mempertahankan riak wajahnya yang tenang saat mendengar godaan santai sahabatnya itu. Ia mengembusen napas panjang, lalu terkekeh pendek guna mencairkan suasana.

“Cuma kurang tidur saja, Yud. Biasalah, Tara dan Arkan mendadak rewel minta ditemani main kartu sampai tengah malam. Mentang-mentang mereka sedang libur panjang minggu ini,” ucap Baskara dengan nada santai yang teramat luwes.

Alasan domestik seperti itu sudah menjadi tameng otomatis bagi Baskara. Tiap kali ia menghabiskan malam berdarah-darah di lapangan, ia akan selalu melempar narasi tentang kehangatan keluarga kecilnya sebagai alasan di depan publik, sebuah topeng yang terbukti tidak pernah memicu curiga.

Yuda tertawa lepas mendengar keluhan jenaka Baskara. Namun, tepat di sela-sela tawa itu, sepasang mata Yuda mendadak meredup, menyisakan seberkas pandangan hampa yang dilingkupi rasa iri yang teramat pekat.

Baskara menangkap jelas perubahan ekspresi tersebut, dan hatinya seketika merasa simpati. Sebagai sahabat yang meniti karier bersama sejak awal, Baskara tahu betul badai macam apa yang telah menghancurkan hidup pria di sebelahnya ini. Keluarga kecil Yuda telah berantakan; hancur lebur dalam sebuah tragedi kelam beberapa tahun lalu.

“Enak ya, Bas. Rumah lu selalu ramai,” balas Yuda santai, mengalihkan pandangannya kembali ke arah cangkir kopi yang mengepul di tangan. Senyumnya kembali terkembang, seolah-olah gumpalan duka yang sempat melintas tadi berhasil ia sembunyikan lagi dengan rapi. “Kapan-kapan, ajak gua lah. Bosan juga melewatkan malam sendirian terus di rumah.”

“Boleh. Datang saja hari Minggu depan kalau lu senggang,” jawab Baskara tulus. embari menyesap kembali kopi hitamnya, Baskara menatap siluet samping tubuh Yuda dengan rasa iba yang mendalam. Di mata sang detektif senior, Yuda hanyalah seorang rekan kerja sekaligus sahabat lama yang kesepian, seorang pria yang jiwanya ikut rapuh pasca-kehilangan anak dan istri tercintanya akibat kecelakaan maut beberapa tahun lalu.

Sementara itu, di dalam ruang rahasia bawah tanah kediaman Wiranata, atmosfer taktis kembali menyelimuti Arkan, Tara, dan Kirana yang sedang memeras otak demi menguliti arti dari bait petunjuk selanjutnya.

Lihat selengkapnya