The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #13

BAB XIII Suksesi di Balik Bayang-Bayang

  Langit senja yang perlahan membusuk menjadi rona keunguan pekat mulai menghiasi cakrawala Kota Askara. Di balik dinding kaca berfilter radiasi Markas Pusat Kepolisian, Baskara melirik sekilas ke arah jam tangan taktisnya yang berkedip digital di angka 17.30. Jam pulang dinas resmi. Sebagai seorang detektif senior dengan rekam jejak operasi yang bersih dan kontribusi luar biasa di Divisi Investigasi, Baskara memiliki privilese tak tertulis untuk meninggalkan kubikelnya lebih awal, sebuah kelonggaran birokrasi yang selalu ia manfaatkan dengan cermat demi membagi waktu dengan dapur operasi bawah tanahnya.

Baskara mengemas sisa berkas fisik ke dalam tas kerja polimer miliknya, lalu meraih mantel wol hitam yang tersampir di sandaran kursi. Namun, tepat saat tubuh tegapnya baru saja beranjak berdiri, sebuah tepukan bertenaga mendarat mendadak di pundak kirinya.

Baskara menoleh secara refleks. Sepasang matanya langsung bertumpu pada sosok Yuda Prasetya yang tengah berdiri tegak dengan senyuman ramah khasnya yang sulit dibaca.

“Bas, sudah mau pulang?” tanya Yuda. Nada suaranya terdengar kasual, namun ada intonasi serius yang samar di balik ketenangannya. “Inspektur Jenderal meminta lu menghadap sekarang juga ke kantornya. Katanya ada hal krusial yang harus dibahas segera.”

Jantung Baskara berdesir tajam di balik seragam dinasnya, memicu insting detektifnya untuk langsung menghitung segala kemungkinan terburuk. Apakah jejak enkripsi W-Ring semalam di Gedung Pengadilan telah bocor sampai ke meja tertinggi? Ataukah Yuda diam-diam telah menyetorkan log distorsi radio yang ia bahas tadi pagi di pantri?

Namun, topeng ketenangan Baskara tidak bergeser satu milimeter pun. Ia mengulas senyum santai, lalu menepuk pundak Yuda balik dengan keakraban seorang sahabat lama. “Inspektur Jenderal? Tembakan yang tidak biasa di hari Senin. Ya sudah, gua bakal langsung ke sana sekarang. Makasih infonya, Yud.”

Yuda hanya mengangguk pelan, melangkah mundur untuk memberikan jalan. Sepasang mata Pakar Forensik Digital itu menatap lekat punggung Baskara yang mulai menjauh membelah koridor. Di bawah temaram lampu linier kantor, sudut bibir Yuda terangkat tipis, menyiratkan bauran ekspresi misterius yang tenggelam bersama riuh kesibukan personel lain.

Sembari melangkah mantap menuju lift privat yang mengarah ke lantai teratas gedung monolitik tersebut, Baskara menyelipkan tangan kanan ke saku celana. Dengan gerakan motorik yang teramat halus, jemarinya mengetikkan barisan perintah terenkripsi via gawai taktis sekunder, mengirimkan pesan subvokal berbasis teks langsung ke pelayan siber rumahnya.

“Sayang, aku akan pulang sedikit terlambat karena ada panggilan mendadak dari atasan. Ingat, tetap matikan semua aktivitas siber di server kota. Jangan menyentuh perimeter luar sampai aku tiba di rumah.”

Jauh di seberang kota, di dalam ruang rahasia bawah tanah kediaman Wiranata, sebuah bunyi ding! pendek bergema dari panel kontrol nirkabel milik Kirana.

Saat itu, Kirana, Arkan, dan Tara tengah berkumpul di depan meja taktis, sibuk menyisir lembar demi lembar buku arsip fisik peninggalan kakek mereka. Mereka memilah bagan arsitektur bangunan kolonial dan mengunggahnya satu per satu ke dalam basis data internal keluarga, sebuah jaringan server independen yang sepenuhnya steril dan mustahil terendus oleh sistem sensor optik negara karena tidak menggunakan jalur satelit publik.

“Pesan dari ayahmu,” cetus Kirana, membuat Arkan yang jemarinya sedang menari di atas papan ketik virtual serta Tara yang sedang memeriksa tali zirah taktisnya langsung menoleh serempak. “Ayah bilang dia akan terlambat pulang. Dia menegaskan lagi agar kita jangan sekali-kali menyentuh jaringan siber kota sampai dia kembali ke sini.”

Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi, mengembuskan napas panjang sembari menatap grafik topografi Sektor Utara yang kini sudah terpetakan sempurna di layarnya. “Oke, tidak masalah. Lagipula, seluruh data sekuritas internal Sektor Utara hasil catatan Kakek sudah selesai kuunggah ke basis data mandiri kita. Begitu Ayah tiba, kita dan Tara bisa langsung bergerak ke lapangan.”

Tara yang duduk di sebelah Arkan hanya mengangguk samar. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan taktis tampak meremas pelan ujung meja beton, memperlihatkan gurat ketegangan yang coba ia sembunyikan di balik sepasang mata emerald-nya. Sejak Baskara mengabarkan bahwa forensik markas mulai mengendus distorsi frekuensi mereka semalam, kecemasan konstan perlahan merayap di dadanya.

Kirana yang menyadari perubahan mikro-ekspresi putri bungsu itu segera bangkit dari kursi kendali. Ia melangkah mendekat, lalu mengusap lembut punggung Tara, menyalurkan kehangatan seorang ibu ke tengah saraf-saraf putrinya yang menegang.

“Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Kirana lembut.

Tara tersentak kecil dari lamunannya, lalu buru-buru menegakkan kepala dan mengangguk cepat. “Ah, ya... aku baik-baik saja, Bu. Cuma sedikit memikirkan rute penyusupan nanti.”

“Jangan khawatir. Percayalah pada insting dan kemampuan ayahmu di lapangan,” ucap Kirana dengan binar mata yang meneduhkan, sukses mengikis separuh beban kecemasan yang sempat mengunci dada Tara. Gadis remaja itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengulas senyum tipis yang mulai kembali dipenuhi determinasi.

Tok! Tok!

Baskara mengetuk pintu mahoni tebal di lantai dua puluh Markas Besar. Pintu itu memisahkan dunia luar dengan ruang komando tertinggi kepolisian negara, wilayah kekuasaan Jenderal Chandra. Seorang perwira tinggi berusia lima puluh tahun yang bertubuh masif, tegap, dan memiliki wibawa militer kaku yang disegani di seluruh Marcapada.

“Masuklah, Inspektur Baskara,” sahut sebuah suara bariton yang berat dan bergaung dari dalam.

Baskara mendorong daun pintu kayu tersebut dengan satu dorongan tegas namun sopan. Begitu melangkah masuk, ia mendapati sosok Jenderal Chandra sedang berdiri membelakangi ruangan, menghadap ke arah jendela kaca raksasa yang menampilkan pendar lampu neon kota Askara yang mulai menyala satu per satu. Kedua tangan sang jenderal saling berpangku erat di balik punggung tegapnya yang dipenuhi lencana kehormatan.

Baskara segera mengambil posisi sempurna tiga langkah di depan meja kerja luas berbahan marmer hitam. Ia menegakkan tubuhnya, lalu mengangkat tangan kanan untuk memberi hormat militer dengan presisi tinggi.

Lihat selengkapnya