Dentang sendok terakhir yang diletakkan di atas piring porselen menandai berakhirnya makan malam keluarga Wiranata. Nasi goreng buatan Tara sukses menuntaskan lapar fisik mereka. Namun, atmosfer hangat yang sempat tercipta di meja makan perlahan menguap, berganti kembali menjadi ketegangan yang pekat. Waktu mereka tidak banyak lagi sebelum tenggat dari Sang Dalang habis.
Tanpa membuang waktu, Baskara, Arkan, dan Tara segera bangkit untuk kembali menuruni ruang bawah tanah, sementara Kirana dengan sigap merapikan meja makan dan membereskan dapur.
“Waktu kita sisa lima jam lagi. Sebaiknya kita berangkat sekarang, Ayah tidak mau kalian begadang terlalu lama malam ini,” ujar Baskara tegas sembari memasang dan memeriksa kembali fungsi gear taktis di tubuhnya.
Tara dan Arkan mengangguk serempak. Sepuluh jemari Arkan kembali menari lincah di atas papan ketik virtual, mentransfer proyeksi rute dan Peta Sektor Utara langsung ke lensa Eye-Sync milik ayah dan adiknya.
“Semua koordinat sudah terkunci, Yah. Aku dan Ibu akan terus memandu dari meja kendali lewat The Phantom Ear,” ucap Arkan tenang. Meski riak rasa khawatir terpancar samar di matanya, Arkan memercayakan penuh keselamatan operasi ini pada kemampuan lapangan ayah dan adiknya.
“Terima kasih, Nak. Kami mengandalkan kalian berdua dari sini,” balas Baskara tulus sembari menepuk mantap pundak putra sulungnya.
Desis pintu ruang bawah tanah kembali bergeser terbuka. Kirana melangkah turun membawa sebuah kotak bekal taktis berisi bola-bola air hidrasi untuk perbekalan Baskara dan Tara.
“Kami juga mengandalkan kalian berdua, Sayang. Jangan mengambil tindakan yang terlalu gegabah di sana. Kami menunggu kalian pulang,” ucap Kirana lembut. Ia menyerahkan kotak perbekalan itu pada Baskara dengan ukiran senyum hangat yang meneduhkan dada.
Baskara melirik indikator waktu di sudut visinya. Sudah saatnya mereka meluncur. Ia menoleh ke arah Tara yang tampak mengecek kembali simpul Tali zirah taktisnya.
“Sudah siap, Nak?” tanya Baskara santai, mengunci nada suaranya serileks mungkin agar tidak menambah beban psikologis putrinya.
Tara mengangguk mantap, mengikat kembali rambut pendeknya agar tidak mengganggu pandangan. “Sudah siap, Yah. Ayo berangkat sebelum waktunya makin kritis,” jawabnya dengan binar mata yang dipenuhi antusiasme lapangan.
Baskara menegakkan punggung, memastikan kesiapan zirah serta memeriksa kalibrasi Eye-Sync dan The Phantom Ear-nya. Meskipun dua perangkat canggih itu telah melekat di tubuh mereka selama berhari-hari, bahan polimer mikronya yang teramat ringan sama sekali tidak menimbulkan rasa tidak nyaman atau iritasi pada kulit.
“Mari pergi, Tara. Arkan, Kirana... beri tahu kami secepatnya jika ada situasi darurat,” komando Baskara.
Ketiganya mengangguk serempak. Baskara mulai melangkah meninggalkan keheningan ruang bawah tanah, disusul oleh pergerakan cepat Tara di belakangnya.
Mereka menembus kegelapan malam Askara, menyusuri sudut-sudut paling gelap di balik bayang-bayang pencakar langit yang tersiram pendar neon kota. Mengikuti koordinat rute buatan Arkan dan Kirana, mereka bermanuver lincah menghindari sapuan kamera pengawas publik serta unit patroli polisi yang menjaga garis perbatasan antara Askara Modern dan Distrik Kota Tua.
Namun, perjalanan mereka tidak berjalan semulus perkiraan. Beberapa jalur patroli mendadak bergeser dari pola regulernya, memaksa Baskara dan Tara beberapa kali mengambil rute memutar yang lumayan jauh. Rasanya seolah-olah ada seseorang dari dalam markas besar yang sengaja memanipulasi jadwal penugasan personel untuk menjepit ruang gerak mereka.
“Orang ini benar-benar pandai membaca situasi,” batin Baskara sembari menyandarkan punggungnya rapat-rapat pada dinding beton yang dingin. Ia mengintip tipis dari balik sudut bangunan, menilai celah pergerakan di depannya. Dalam hati, Baskara tak bisa tidak mengakui kecerdasan taktis Sang Dalang dalam memanfaatkan birokrasi kepolisian demi kepentingannya.
Setelah memastikan perimeter benar-benar steril, Baskara memberikan isyarat tangan pada Tara untuk melanjutkan pergerakan. Mereka merayap cepat mendekati target utama: Gedung Pemerintahan Lama. Menghindari sorotan kamera pengawas di pintu masuk utama, mereka memilih memutar ke area belakang gedung dan menerobos masuk secara senyap melalui celah jendela tua yang lapuk.
Mendarat tanpa suara di lantai koridor yang berdebu, tiba-tiba suara jernih Arkan merambat masuk menembus The Phantom Ear Baskara dan Tara.
“Ayah, hati-hati. Sensor dan jaringan CCTV lokal di dalam gedung itu ternyata masih dialiri daya aktif secara mandiri. Bolehkah aku meretas dan mematikan sistem CCTV di dalam sana, Yah? Masalah laporan distorsi yang dibahas Om Yuda tadi siang... apakah aman kalau aku masuk sekarang?”
Baskara mendadak mengepalkan tangan kanan ke udara, isyarat taktis bagi Tara untuk menghentikan langkah dan mematikan pergerakan. Sepasang matanya menyisir sudut-sudut langit-langit lorong yang kusam, mengidentifikasi posisi kubah kamera CCTV kuno yang masih berdengung samar.
“Jangan diretas, Arkan,” bisik Baskara dingin melalui jaringan subvokal. “Ayah tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Jejak kita sudah mulai terendus di markas, jadi kita harus bergerak jauh lebih berhati-hati.”
Di seberang jaringan, Arkan mengembuskan napas panjang, menelan rasa cemasnya. “Baik, Yah. Diterima.”
Baskara dan Tara kembali merayap senyap, bergerak presisi memanfaatkan celah blind spot di antara sapuan lensa kamera.
“Proyeksikan kembali bait teka-tekinya, Nak,” perintah Baskara kemudian.
“Siap, Yah,” sahut Arkan. Jemarinya menari lincah di papan ketik virtual, dan detik berikutnya, deretan teks perak terenkripsi kembali melayang halus di sudut penglihatan Eye-Sync milik Baskara dan Tara.
Setelah bermanuver menghindari dua pasang kamera aktif di koridor utama, Baskara dan Tara berhasil menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan terbengkalai yang relatif aman dari jangkauan sensor. Tara menyandarkan punggungnya lalu duduk selonjor di atas lantai berdebu untuk memulihkan stamina, sementara Baskara berdiri sigap di balik kusen pintu, bersandar pada dinding beton sembari mengevaluasi kembali bait teka-teki tersebut:
“Berjalanlah ke utara, temukan singgasana tua yang terkunci di balik dinding tirai abu-abu. Pasang telingamu baik-baik pada detak yang tak bernyawa, sebelum fajar berikutnya merenggut napas kalian tanpa sisa.”
“Berdasarkan catatan arsitektur Kakek, Sektor Utara ini dulunya merupakan area ruang kerja pejabat kementerian,” gumam Baskara rendah, matanya menyipit tajam. “Dan di titik paling ujungnya, terdapat bekas kantor kepresidenan era lampau. Singgasana tua yang dimaksud mutlak ada di sana. Masalahnya, kerapatan kamera CCTV justru makin padat begitu mendekati area pusat.”