00:00
Baskara mempererat pelukan zirahnya, membentengi tubuh Tara sepenuhnya dengan seluruh jiwa dan raga. Di seberang jaringan nirkabel, Arkan dan Kirana bahkan belum sempat mengedipkan mata atau merespons kepanikan yang mendadak melumpuhkan frekuensi mereka.
Brak!
Bukan dentuman ledakan yang menghancurkan beton, melainkan raungan engsel logam yang terlempar terbuka keras hingga penutupnya menghantam lantai berdebu. Detik berikutnya, sebuah rekaman tawa sintetis yang sumbang, melengking, dan penuh nada ejekan memenuhi seisi Ruang Kepresidenan.
Dari dalam rongga kotak logam tebal itu, sebuah boneka badut per (jack-in-the-box) mencuat keluar secara mendadak, bergoyang-goyang lambat sembari melontarkan suara rekaman digital yang nyaring:
“Surprise, Detective!”
Suara tawa melengking itu bergaung beberapa kali sebelum akhirnya meredup dan mati total.
Baskara dan Tara membeku di tempat. Deru napas Baskara masih memburu, tangannya tetap memeluk erat tubuh sang putri, hingga suara lembut Kirana yang dipenuhi kecemasan hebat memutus keheningan di The Phantom Ear mereka.
“Sayang! Kalian baik-baik saja?! Ada apa di sana?!” suara Kirana bergetar panik, memotong kekeheningan setelah mendengar teriakan Baskara dan ketukan detik mekanis tadi.
“Ugh... Ya, kami baik-baik saja, Kirana,” erang Baskara rendah, napasnya perlahan mulai teratur.
Dengan gerakan perlahan, ia melepaskan dekapan hangatnya dari tubuh Tara, lalu bangkit berdiri untuk mengecek kotak logam tersebut.
“Sialan... bajingan itu benar-benar mempermainkan kita,” geram Baskara sembari menahan gejolak emosi yang membakar dadanya. Ia segera menoleh pada putri bungsunya, mengesampingkan kekesalannya demi memastikan kondisi Tara terlebih dahulu. “Kamu tidak apa-apa, Nak?”
Tara mengangguk pelan sembari bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati ayahnya. “Aku baik-baik saja, Yah. Apakah benda itu... benar-benar aman?” tanya Tara lembut dengan nada khawatir, sepasang matanya menatap waspada ke arah boneka badut per yang masih bergoyang lambat di atas meja mahoni.
“Sepertinya aman. Tunggu di sini,” bisik Baskara.
Ia melangkah maju mendekati kotak logam tersebut, mengulurkan tangan hingga permukaan logam W-Ring di jarinya bersentuhan langsung dengan dinding kotak demi memicu pemindaian biometrik.
“Semuanya steril, Yah. Tidak ada kandungan peledak atau zat berbahaya. Tapi... ada satu objek lagi yang tersimpan di dalam rongga perut boneka badut itu,” sahut Arkan cepat melalui The Phantom Ear, mendahului permintaan ayahnya setelah menyelesaikan analisis data siber.
“Baguslah. Terima kasih, Arkan,” jawab Baskara.
Ia menjangkau bagian dada boneka kain tersebut dan menarik keluar sebuah kotak polimer hitam terenkripsi, benda yang sama persis seperti tiga kotak petunjuk sebelumnya.
Baskara melirik indikator waktu di sudut pandang Eye-Sync-nya. Angka digital menunjukkan pukul 21:50 malam. Masih ada jeda waktu yang lumayan panjang menuju pukul 01:00 subuh, jam yang paling ideal bagi mereka untuk memicu panel biometrik kotak tersebut agar siklus 24 jam berikutnya bisa dikontrol sepulang kerja besok.
Niat awal Baskara adalah membawa kotak hitam keempat ini pulang ke rumah. Namun, seberkas keraguan mendadak menyusup ke benaknya: bagaimana jika kotak ini mengandung pemancar sinyal aktif tersembunyi yang sengaja dirancang Sang Dalang untuk melacak keberadaan markas rahasia mereka?
Baskara mengembuskan napas panjang sembari memijat pelan pangkal hidungnya. Matanya beralih menatap putri bungsunya yang berdiri tak jauh di sebelahnya.
“Kakakmu sudah memindai boneka ini, dan hasilnya bersih, hanya ada kotak polimer hitam ini di dalam. Tapi, Ayah masih khawatir kalau-kalau ada mekanisme pemicu sekunder yang sengaja disamarkan di dalam sini. Menurutmu bagaimana, Nak?” tanya Baskara meminta pertimbangan Tara.
Tara melangkah mendekati ayahnya dengan pijakan pelan namun mantap. “Menurutku, sebaiknya kita tunggu sampai—”
Belum sempat Tara menuntaskan kalimatnya, sinyal peringatan darurat mendadak bergetar di W-Ring mereka, disusul suara Arkan yang merambat cepat menembus The Phantom Ear.
“Ayah, Dek! Segera angkat kaki dari tempat itu sekarang!” panggil Arkan. Suaranya terdengar mendesak namun tetap terkendali. “Aku mendeteksi pergerakan tiga unit patroli polisi yang mendadak berbelok masuk ke area dalam gedung! Sepertinya benturan lempengan beton tadi sempat memicu gelombang sensor getaran lokal!”
Gurat ketegangan seketika kembali melingkupi wajah Baskara dan Tara. Baskara menatap putrinya, memberikan anggukan tegas sebagai komando taktis. Tanpa membuang satu detik pun, keduanya berbalik, melangkah cepat menyisir koridor untuk mencari akses jendela terdekat. Mereka mengintip cermat ke luar melalui celah kaca kusam guna memindai perimeter sebelum melompat keluar.
“Kalian punya jendela waktu dua menit untuk lolos lewat jalur infiltrasi semula sebelum perimeter luar dikunci total,” tambah Arkan dari meja kendali rumah, jemarinya menari secepat kilat di atas papan ketik virtual untuk merancang rute evakuasi darurat bagi ayah dan adiknya.
Baskara mengangguk setuju. Setelah menyapu pandangan ke luar dan memastikan kondisi sekitar relatif kondusif, ia beralih menatap putrinya.