Napas Tara tercekat seketika. Refleks tempurnya bekerja secepat kilat, tubuhnya berputar rendah, siap meluncurkan serangan balasan ke arah siapa pun sosok yang baru saja menyentuh bahunya. Namun, sebelum lengannya sempat terayun, sebuah telapak tangan hangat merengkuh wajahnya dan membungkam bibirnya rapat-rapat.
“Ssstt... Diam, Dek. Tunggu sampai dia lewat dulu,” bisik Arkan amat pelan di sudut telinga adiknya.
Mata emerald Tara melebar mendapati sosok kakaknya yang mendadak muncul dari balik bayangan gang samping. Arkan tak meloloskan pandangannya dari lorong utama, menatap tajam ke arah sosok asing yang kini melangkah perlahan menuju tempat sampah tua tempat Tara bersembunyi tadi, seolah-olah orang itu sudah mengendus keberadaan Tara di sana.
Tanpa membuang satu milidetik pun, Arkan merangkul bahu adiknya, menarik Tara secara senyap menyusup masuk ke dalam ceruk lorong tikus yang pekat, persis beberapa detik sebelum sosok asing itu menghentikan pijakannya di depan persembunyian awal Tara.
Tanpa membuang waktu untuk memeriksa siapa sosok asing tersebut, Arkan segera membimbing Tara bergerak menjauhi area persembunyian. Fokus utamanya saat ini hanyalah membawa adiknya pulang dengan selamat serta kembali memantau pergerakan sang ayah yang masih berada di jalur evakuasi.
“Ayah kalian sudah berhasil meloloskan diri, Nak. Segera angkat kaki dari sana untuk menghindari unit polisi yang kemungkinan akan memutar balik menyisir area sekitarmu,” petunjuk Kirana mendadak merambat jernih menembus The Phantom Ear milik Tara. Arkan tak bisa mendengarnya secara langsung karena ia bergerak tanpa sempat mengenakan perangkat transmisi tersebut.
“Oke, Bu,” jawab Tara amat pelan.
Arkan menoleh singkat, mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar adiknya bergumam sendiri. “Dari Ibu? Apa katanya?” tanya Arkan penasaran. Jemari tangannya yang hangat tetap menggenggam erat telapak tangan Tara, menuntun langkah mereka menerobos keremangan rute infiltrasi yang tadi ia lalui.
Tara mengangguk, mereka berjalan bersama dengan langkah cepat, menembus kegelapan malam untuk kembali kerumah. Perjalanan cukup memakan waktu, tapi berkat jalan tikus milik arkan membuat mereka tiba lebih cepat.
Tara dan Arkan akhirnya tiba di depan gerbang rumah mereka. Setelah memastikan perimeter aman, keduanya melangkah melintasi pintu utama lalu segera menuruni anak tangga menuju ruang rahasia bawah tanah. Mereka mengambil tempat duduk di balik konsol kendali, menanti kepulangan Baskara dalam keheningan yang sarat lega.
Indikator jam digital di sudut layar monitor menunjukkan pukul 23.00 malam, tepat dua jam sebelum tenggat waktu mereka untuk memicu biometrik kotak hitam keempat.
Satu jam telah berlalu sejak insiden dentuman beton, jebakan boneka badut per Sang Dalang, hingga aksi main kejar-kejaran Baskara dan Tara dengan unit patroli polisi di Distrik Kota Tua. Di tengah penantian sunyi keluarga Wiranata, suara desis sensor pintu ruang bawah tanah mendadak bergeser terbuka.
Indikator peringatan di layar komputer utama rahasia mendadak berkedip halus, menampilkan footage CCTV pintu depan rumah yang terbuka. Layar memperlihatkan sosok Baskara yang berjalan tenang memasuki area kediaman dan langsung melangkah menuju akses pintu ruang bawah tanah.
Melihat siluet sang ayah di layar, Tara seketika bangkit berdiri. Begitu pintu panel baja bergeser terbuka, gadis itu tanpa ragu melesat berlari menghampiri ayahnya dan memeluk erat tubuh tegap Baskara.
“Ayah! Syukurlah Ayah baik-baik saja... aku khawatir!” seru Tara dengan suara yang sedikit terisak di dada ayahnya. Rasa cemas yang membuncah sejak ia ditinggalkan sendirian di gang gelap akhirnya tumpah, menyadari betapa sang ayah rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi melindunginya.
Baskara mengusap lembut rambut putri bungsunya, mengembuskan napas panjang sarat rasa syukur karena mendapati Tara kembali ke pelukannya tanpa kurang suatu apa pun.
“Syukurlah kamu juga selamat, Nak. Kakakmu yang datang menjemputmu di sana, kan?” tanya Baskara lembut, merengkuh hangat tubuh putrinya.
Tara mengangguk dalam pelukan ayahnya, mencoba meredakan sisa isakannya. “Iya, Yah... Kakak datang tepat waktu,” bisik Tara.
“Baguslah. Kerja bagus, kalian semua,” tutur Baskara tenang.
Merasa emosinya sudah jauh lebih stabil dan menyadari masih banyak tugas krusial yang menanti mereka malam ini, Tara perlahan melepaskan dekapannya, menyapu sisa air mata di sudut matanya sembari menegakkan punggungnya kembali.
Baskara melangkah lebih dalam menembus keheningan ruang rahasia bawah tanah keluarga mereka, lalu meletakkan tas portabel berisi dua kotak target di atas meja taktis.
“Kalian istirahat saja dulu. Sebentar lagi kita buka kotak ini,” ucap Baskara tenang.
Indikator waktu masih menyisakan sekitar dua jam penantian. Baskara tak ingin membiarkan fisik keluarganya terperas habis tanpa jeda pemulihan, terlebih lagi bayang-bayang kelelahan sudah jelas terpancar dari raut wajah istri dan kedua anaknya.
Kirana, Arkan, dan Tara mengangguk serempak. Kirana segera berbalik bangkit melangkah menaiki tangga menuju dapur untuk menyiapkan kudapan malam serta minuman hangat. Tara mendaratkan tubuhnya yang letih di atas kursi empuk, menyandarkan kepala sembari melemaskan otot-ototnya. Sementara itu, sepuluh jemari Arkan tak berhenti menari lincah di atas keyboard, fokus penuh menyapu habis seluruh jejak transmisi digital pelarian mereka tanpa perlu menyusup secara berisiko ke dalam server utama kota.
Waktu bergulir cepat menembus pekatnya malam. Angka digital merah di sudut layar monitor utama merayap makin kritis, kini telah menunjukkan pukul 00:55 subuh.
Aroma harum teh hangat buatan Kirana mengisi rongga udara ruang bawah tanah. Setelah beristirahat singkat dan memulihkan fisik, Kirana, Arkan, dan Tara kini telah berkumpul kembali mengelilingi meja taktis, menatap lurus ke arah Kotak Polimer Hitam Ke-4 yang terbaring membisu di samping boneka badut per.
Baskara melangkah mendekat, melirik indikator jam di visinya yang merangkak menuju hitungan detik terakhir.
“Lima menit lagi,” bisik Baskara rendah. Suaranya memotong keheningan ruangan, mengunci pandangan seluruh anggota keluarga pada pendar lampu indikator biometrik yang bersiap mengaktifkan siklus teka-teki berikutnya.
Baskara menarik napas dalam-dalam, menguasai detak jantungnya sembari memantapkan pijakan. Indra taktisnya memperingatkan bahwa mereka kini sudah melangkah semakin jauh ke dalam pusat labirin persembunyian lawan. Mereka kian dekat dengan akhir permainan ini, kendati Sang Dalang masih enggan menampakkan wujud aslinya secara langsung.
Waktu merayap cepat. Sepuluh detik terakhir setelah lima menit penantian berlalu: