The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #17

XVII - Keraguan

Tepat pukul enam pagi, Baskara terbangun di atas kasur kamar utama. Meski semalam mereka tidur di ranjang yang sama, tidak ada lagi pelukan hangat Kirana maupun ucapan selamat malam yang biasa meneduhkan jiwanya. Pagi ini, Kirana bahkan sudah lebih dulu beranjak dari peraduan dan turun ke dapur tanpa membangunkan Baskara seperti biasanya.

Di sudut ruangan, seragam dinas kepolisian milik Baskara sudah tergantung rapi dan licin. Terlepas dari badai ketegangan yang meletup semalam, Kirana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri tanpa cela. Kenyataan itu justru membuat dada Baskara kian sesak; ia tahu betul betapa hebat dan tulus wanita yang telah mendampinginya selama puluhan tahun ini, dan melihat benteng kepercayaan itu retak adalah siksaan yang jauh lebih menyakitkan daripada luka di buku-buku jarinya.

Baskara bangkit perlahan, merindukan kehangatan sang istri yang kini menguap akibat manipulasi keji Sang Dalang.

Dengan langkah berat, ia menuruni tangga menuju dapur. Di sana, pendar fajar menyorot siluet punggung Kirana yang tengah sibuk memasak sarapan untuk keluarga mereka. Tidak ada sapaan ceria maupun senyuman hangat yang biasanya menyambut langkahnya setiap pagi. Keheningan yang dingin itu seketika merenggut separuh semangat Baskara sebelum pertempuran harinya dimulai.

Baskara mengembuskan napas panjang, melangkah perlahan menuju meja makan lalu mendaratkan tubuhnya di sana dengan badai yang berkecamuk di dalam dada. Di satu sisi, ia ingin seketika bangkit, merengkuh tubuh istrinya, dan merasakan kembali kehangatan yang setiap hari menyirami jiwanya. Namun di sisi lain, Baskara tahu Kirana membutuhkan ruang dan waktu untuk mencerna goncangan emosi yang sengaja dirancang oleh musuh mereka.

Tak lama kemudian, derap langkah Arkan dan Tara menyusul masuk ke area dapur. Kedua remaja itu seketika menghentikan pijakan, menangkap atmosfer dingin dan kaku yang tak biasa mengudara di ruang makan. Mereka saling melempar pandang penuh keprihatinan, lalu mengangguk samar—menyepakati komando senyap untuk mencairkan ketegangan, kendati sadar hal itu tak serta-merta menghapus gumpalan badai di antara kedua orang tua mereka.

“Wah! Ibu masak apa?” tanya Tara bersemangat, sengaja berlari kecil menghampiri Kirana yang masih mengaduk masakan dalam diam.

Mendengar letupan suara ceria putri bungsunya, ketegangan di pundak Kirana perlahan agak mereda.

“Selamat pagi, Nak. Ibu sedang memasak nasi uduk,” sahut Kirana lembut, meski nada suaranya belum sehangat biasanya. “Tunggulah di meja makan bersama Kakakmu, sebentar lagi matang.”

Tara menggelengkan kepala cepat. Dengan sigap, jemarinya mengambil alih spatula dari tangan sang ibu yang sedang mengaduk bihun goreng untuk pelengkap nasi uduk. Tara mengambil posisi di depan kompor, lalu memberi sinyal mata pada Arkan.

“Biar aku saja yang mengurus sisanya, Bu! Ibu istirahat saja di meja makan sama Ayah!” seru Tara riang.

Sebelum Kirana sempat memprotes, Arkan sudah melangkah mendekat. Dengan gerakan yang teramat lembut namun mantap, Arkan merangkul bahu ibunya dan memandu langkah Kirana menuju meja makan, tepat ke arah kursi di sebelah Baskara yang sejak tadi duduk termenung kehilangan separuh pijakan semangatnya.

Melihat istrinya akhirnya duduk di sebelahnya, seberkas binar semangat mendadak menyala di mata Baskara. Dengan gerakan pelan, tangannya terulur di atas meja, berniat meraih dan menggenggam jemari Kirana guna menyalurkan penyesalan dan ketulusannya. Namun, Kirana tetap mempertahankan dinding dinginnya; wanita itu menarik tangannya dengan halus untuk mengelak, membiarkan jemari Baskara mengudara kaku.

Sentuhan yang terputus itu seketika mengiris ulu hati Baskara.

Pria tegap itu mengembuskan napas pendek, lalu menundukkan kepala. Ia menatap nanar telapak tangannya sendiri yang terasa dingin, merindukan kehangatan sang istri yang kini membeku akibat manipulasi keji Sang Dalang.

Di depan kompor, Arkan menyibukkan diri membantu adiknya menyajikan masakan. Dari balik kepulan uap makanan, kedua remaja itu sesekali melirik diam-diam ke arah meja makan. Ketegangan memang belum meleleh sepenuhnya, namun Arkan dan Tara bisa menangkap seberkas kilat rasa iba di sudut mata Kirana saat menyaksikan keputusasaan Baskara pagi ini, kendati Kirana memilih untuk belum mengalah pada emosinya.

Setelah seluruh sajian siap, Arkan dan Tara membawa piring-piring berisi nasi uduk hangat yang lengkap dengan topping bihun goreng, irisan telur dadar, dan sambal tempe gurih. Mereka menata piring tersebut dengan rapi di hadapan kedua orang tua mereka, sebelum akhirnya berputar mengambil posisi di kursi masing-masing.

“Selamat makan!” seru Tara riang, mencoba menghembuskan energi ceria ke tengah ruangan.

“Selamat makan,” sambung Arkan tenang, mengimbangi kehebohan adiknya.

Baskara dan Kirana mengangguk pelan, menyahut dengan suara lirih yang nyaris tenggelam dalam denting sendok. “Selamat makan...”

Suasana kembali hening, hanya dipenuhi oleh denting halus sendok yang beradu dengan porselen. Sesekali, Arkan dan Tara melayangkan lirikan prihatin ke arah kedua orang tua mereka yang masih bungkam hingga sarapan berakhir.

Begitu makanan di piringnya kandas, Kirana segera bangkit dan mengumpulkan tumpukan piring kotor. Ia sengaja menyibukkan diri mencuci piring satu per satu di wastafel, sebuah ritual manual yang tak biasa, mengingat rumah mereka dilengkapi mesin pencuci piring otomatis demi kepraktisan.

Baskara menatap punggung istrinya dari meja makan. Silent treatment ini benar-benar menyiksa batinnya, merenggut habis gairah hidup yang biasanya membakar jiwanya setiap pagi. Mengembuskan napas panjang yang berat, sang detektif senior perlahan bangkit berdiri.

“Arkan, Tara. Lakukan seperti biasa, ya? Unggah ke basis data keluarga saja kalau kalian menemukan sesuatu,” ujar Baskara. Suaranya diusahakan tetap tegas, kendati rona keletihan dan ketidakbersemangatan terpancar jelas dari gestur tubuhnya.

Baskara melangkah meninggalkan dapur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengenakan seragam dinas.

Arkan dan Tara saling melempar pandang, lalu ikut bangkit dari kursi. “Kami turun ke ruang bawah tanah dulu, Bu,” pamit Arkan pelan pada ibunya.

Kirana hanya mengangguk tanpa memalingkan wajah dari kucuran air wastafel, terus menenggelamkan diri dalam kesibukan buatan.

Kedua buah hati mereka melangkah turun menuju ruang rahasia di bawah tanah, bersiap menguliti lembar teka-teki keempat. Operasi hari itu resmi dimulai di bawah naungan badai ketegangan yang masih menggulung rumah tangga Keluarga Wiranata.

Lihat selengkapnya