Jam makan siang telah berlalu. Baskara melangkah kembali ke meja kerjanya sembari membawa secangkir kopi hitam yang baru saja ia seduh di dapur kantor. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi, lalu membuka kembali beberapa map dokumen kasus yang sedang ditanganinya.
Di tengah keheningan itu, derap langkah kaki yang pelan dan nyaris tanpa suara mendekat ke arah meja Baskara, lalu berhenti di sana dengan gestur santai.
“Woi, Bas! Ngopi terus, entar kecanduan lu,” tegur Yuda tiba-tiba sembari terkekeh pelan.
Baskara hanya mengembuskan napas panjang lalu menyesap kopinya tenang, tanpa memalingkan pandangan dari lembaran berkas. Pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang sikap dingin Kirana di rumah.
“Biarlah. Kopi sudah jadi sahabat kita dari zaman akademi dulu, kan?” sahut Baskara datar.
“Ya, betul juga,” Yuda menyandarkan pinggulnya di tepi meja Baskara. “Omong-omong, lu sudah dengar belum? Katanya Komandan lagi merancang investigasi besar-besaran buat menangkap orang yang membobol server pusat kota beberapa hari lalu... plus penyusup yang bikin geger di Distrik Kota Tua kemarin malam.”
Mata Yuda menatap lurus ke arah Baskara, seolah sedang memindai setiap ekspresi mikro di wajah sang detektif senior.
Gerakan tangan Baskara yang hendak menaruh cangkir terhenti sejenak. “Kemarin malam? Oh... penyusup yang dicari oleh tiga petugas regu patroli semalam?” tanya Baskara dengan intonasi terjaga.
“Iya. Mereka sempat ketemu lu di sana, kan? Lu nggak ikut nyisir perimeter?” tanya Yuda santai.
“Nggak. Udah larut malam banget, jadi gue perintahkan mereka buat balik kanan dan bubar. Paling-paling itu cuma berandalan yang nyari tempat sembunyi buat tidur,” jelas Baskara tenang, meminum kembali kopinya. “Lu tahu sendiri bangunan tua di sana sering dijadikan markas liar sama preman lokal.”
“Oh, benar juga,” Yuda mengangguk-angguk kecil. “Komandan nggak minta bantuan lu buat turun tangan?”
“Enggak. Selagi bukan kasus kriminalitas tingkat tinggi atau terorisme, Beliau nggak bakal melibatkan divisi gue,” balas Baskara santai.
“Hm... kalau begitu, kenapa gue sering melacak ada pemancar sinyal khusus yang aktif dari arah rumah lu?” cetus Yuda tiba-tiba, tatapannya mendadak mengunci sepasang mata Baskara. “Gue kira lu lagi bantu Komandan buat menganalisis lalu lintas data kasus itu dari rumah.”
Pertanyaan santai namun menghantam tepat di sasaran itu seketika membuat Baskara membeku. Aliran darahnya terasa berhenti mengalir selama sekelibat detik.
Baskara perlahan meletakkan cangkir kopinya ke atas meja, lalu menatap Yuda dengan pandangan penuh kewaspadaan yang terselubung.
“Apa maksud lu?” tanya Baskara dengan nada amat hati-hati.
Yuda menyeringai tipis, lalu mengangkat kedua telapak tangannya ke udara dengan gestur menyerah yang dibuat-buat.
“Wah, wah... Santai, Bas. Gue cuma nanya,” sahut Yuda santai, tak menggeser posisi berdirinya. “Soalnya beberapa hari belakangan ini, sensor pelacak di divisi gue sempet mendeteksi sinyal pemancar khusus yang memancar dari area rumah lu. Makanya gue kira lu lagi ada proyek rahasia.”
Baskara menyipitkan mata, lalu menyandarkan punggung sembari menyilangkan tangan. Helaan napas pendek lolos dari hidungnya.
“Itu Arkan. Dia lagi eksperimen belajar eksplorasi jaringan internet yang lebih dalam,” jawab Baskara santai, mengunci emosinya rapat-rapat. “Sudahlah, gue mau lanjut kerja. Lu juga masih punya tumpukan tugas di divisi lu, sana balik.”
“Haha... Iya, iya,” Yuda terkekeh pelan sembari melangkah mundur. Namun, sebelum berbalik sepenuhnya menuju divisinya, ia sempat melirik Baskara dari sudut mata. “Ingatkan anak lu, Bas... Jangan terlalu menyelam terlalu dalam.”
Peringatan terselubung yang dilontarkan dengan nada ringan itu menggantung dingin di udara saat langkah kaki Yuda perlahan menghilang di balik pintu koridor.
Baskara memijat pelan batang hidungnya yang terasa pening. Pertemuan singkat itu jelas menyuntikkan beban pikiran baru yang cukup berat. Ini terasa seperti peringatan kedua agar mereka tidak terus-menerus menggali informasi, setelah sebelumnya Yuda sempat menyinggung soal kasus peretasan server publik. Aktivitas Arkan makin riskan terendus radar kepolisian. Mereka harus jauh lebih berhati-hati dan rapi mulai sekarang.
Namun, mundur bukan lagi opsi bagi Keluarga Wiranata.
Baskara mengembuskan napas panjang, bersandar di kursi kerjanya, lalu kembali memaksa fokusnya meneliti dokumen kasus di meja. Ia menghabiskan sisa jam dinasnya hingga petang menjelang, menghitung detik menuju eksekusi misi malam bersama Tara untuk membongkar rahasia di balik teka-teki berikutnya.
Sementara itu di kediaman Wiranata, Kirana masih belum banyak bersuara. Kendati demikian, wanita itu tetap menjalankan perannya tanpa cela, membantu Arkan memantau data, memasak makan siang, hingga menyiapkan pakaian taktis serta perlengkapan lapangan yang akan digunakan Baskara dan Tara nanti malam.
“Ibu belum bangunkan Tara? Sudah jam enam sore ini, sebentar lagi Ayah pulang,” tanya Arkan sembari menyandarkan punggung untuk beristirahat sejenak dari layar komputernya.
Saat itu, Kirana tengah merapikan tumpukan pakaian taktis Baskara dan Tara di atas meja analisis ruang bawah tanah, lengkap dengan kotak bekal berisi cadangan bola air untuk mengembalikan cairan tubuh mereka berdua.
“Oh, iya... Ibu lupa,” sahut Kirana lembut. Ia menghentikan kegiatannya dan berbalik hendak menaiki undakan tangga menuju lantai atas, namun Arkan dengan sigap menyela.
“Biar aku saja, Bu. Ibu istirahat saja di sini, lagipula ada beberapa hal taktis yang mau kudiskusikan dengan Tara,” ujar Arkan sembari bangkit dari kursinya. Ia melangkah keluar dari ruang bawah tanah menuju kamar tidur adiknya yang kemungkinan besar masih terlelap.
Kirana hanya bisa mengembuskan napas panjang, lalu perlahan duduk kembali di kursi analisisnya dalam keheningan.
Arkan tiba di depan kamar Tara dan mengetuk daun pintu kayu itu dengan pelan. “Dek... sudah bangun belum?” panggil Arkan tenang.