Mereka saling menatap selama beberapa saat dalam keheningan, sebelum akhirnya Baskara mengambil alih situasi. Ia meraih gembok yang tak terkunci itu, meloloskannya dari lilitan rantai, lalu menarik pintu jeruji besi hingga terbuka lebar. Seperti biasa, Baskara mendorong pintu kayu tebal di balik jeruji dan menyelinap mengintip ke dalam.
Di balik pintu, sebuah tangga curam yang menembus kegelapan langsung menyambut mereka. Ruang bawah tanah itu terasa sangat sesak dan pekat karena sudah bertahun-tahun terbengkalai.
“Ayo, tetap perhatikan langkahmu,” bisik Baskara pada Tara sembari melangkah lebih dulu menuruni tangga dengan amat hati-hati.
Seketika, perangkat The Eye-Sync di mata mereka beradaptasi secara otomatis, mengaktifkan modus night vision untuk mempermudah pergerakan. Sudut pandang mereka seketika bertransformasi menjadi bernuansa hijau terang, menyingkap setiap detail yang terselimuti kegelapan pekat.
Tara menyusul rapat di belakang sang ayah. Mereka melangkah penuh kewaspadaan, menuruni anak tangga yang seolah tak berujung hingga tiba di dasar penjara bawah tanah. Bau apak tanah dan debu beton yang lembap tercium amat tajam, sebuah penanda kuat bahwa tempat ini sudah lama dilupakan zaman.
Area bawah tanah itu dipenuhi deretan sel dan lorong sempit yang kelam. Beberapa plang besi tua tampak menggantung kusam di atas setiap pintu sel. Tangga tempat mereka keluar rupanya berada tepat di antara Sel 3320 dan Sel 3321.
Mereka menyusuri lorong dingin itu sembari memindai plang nomor di setiap sel yang dilewati. Posisi mereka rupanya masih cukup jauh jika harus mencapai Sel 1321 seperti yang tertera pada petunjuk.
Pukul 20.12, mereka mulai melangkah lebih jauh menelusuri lorong-lorong gelap untuk menuju sel yang dimaksud. Baskara mencoba menyentuh The Phantom Ear untuk mengontak putranya, namun kedalaman struktur beton ruang bawah tanah ini membuat saluran komunikasi terganggu parah.
“Arkan, kau bisa memindai di mana lokasi Sel 1321? Kami keluar cukup jauh dari lokasi itu,” ucap Baskara sembari terus melangkah dengan Tara yang mengekor rapat di belakangnya.
Sayangnya, tak ada jawaban dari seberang saluran. Sinyal radio sepenuhnya terputus.
“Arkan...?” panggil Baskara sekali lagi, namun tetap hanya suara desis statis yang terdengar.
Baskara mengembuskan napas panjang, lalu menghentikan langkahnya tepat di sebuah persimpangan jalan berupa percabangan tiga. Salah satu lorong pasti membawa mereka ke tempat tujuan, sementara lorong lainnya bisa membuat mereka membuang banyak waktu karena tersesat di labirin tua ini.
“Menurutmu kita ambil jalan yang mana, Nak?” tanya Baskara sembari menoleh ke arah Tara yang berdiri di belakangnya.
“Uhh... keduanya kelihatan sama-sama nggak meyakinkan sih, Yah. Kak Arkan masih belum bisa dihubungi, dan kita nggak pegang peta juga. Tapi... menurut pepatah, pilih kanan itu kan hal yang baik,” ucap Tara agak ragu, diiringi cengiran tipis.
Baskara mengusap dagunya sembari berpikir. Ucapan Tara memang ada benarnya, mereka tidak memiliki akses cetak biru data Penjara Bawah Tanah ini selain dari catatan lama milik mendiang ayah Kirana. Sayangnya, di dalam catatan itu pun tidak ditampilkan peta tata letak sel secara terperinci.
“Ya sudah, kita pilih jalur kanan,” putus Baskara tenang, menatap sang putri.
“Eh... iya, ayo, Yah. Semoga tebakan kita benar,” balas Tara ragu-ragu, lalu bergerak menyusul Baskara berbelok menelusuri lorong sebelah kanan.
Untungnya tebakan Tara terbukti tepat. Nomor sel yang terpampang di dinding lorong kanan itu memang mengecil masuk ke deretan angka 1000-an, dimulai dari 1500-an. Tampaknya percabangan tiga di awal tadi memisahkan blok sel berdasarkan digit depan 1, 2, dan 3.
Mereka terus melangkah hingga ke ujung lorong yang berada di kisaran angka 1400-an. Karena deretan nomor sel di blok itu tidak pernah melebihi angka lima, perjalanan mereka menuju zona 1400 terasa jauh lebih cepat. Di ujung lorong, sepasang mata Baskara dan Tara mendeteksi keberadaan sebuah tangga batu yang membumbung ke atas. Tanpa ragu, keduanya menaiki anak tangga tersebut hingga tiba di koridor sel bertingkat dengan nomor kepala 1300-an.
Tiba-tiba, perangkat The Phantom Ear yang terpasang di telinga mereka kembali menangkap frekuensi radio. Suara Arkan yang diselimuti sedikit gangguan statis memecah keheningan.
“Ayah... Dek... Kalian baik-baik saja? Aku mencoba menghubungi kalian sejak lima belas menit lalu,” ucap Arkan tenang dari ruang kendali.
“Kak Arkan! Kami baik-baik saja, Kak! Ini sudah tiba di deretan sel 1300-an. Kami baru dapat sinyal lagi setelah naik tangga ke koridor atas,” sahut Tara lega sembari menyentuh perangkat komunikasi di telinganya.
Sementara sang putri berinteraksi dengan Arkan, Baskara tetap melangkah memimpin di depan. Mata tajamnya tak henti memindai plang-plang besi tua di atas pintu sel untuk menemukan angka spesifik: 1321.
“Berarti posisi kalian sudah cukup dekat dengan permukaan. Baguslah,” respons Arkan di seberang sana, nada suaranya mengembuskan rasa lega yang terselubung.
“Iya, Kak,” balas Tara lembut.
Setelah beberapa saat melangkah, mereka akhirnya melintasi pintu Sel 1325, menandakan tujuan utama mereka kini tinggal berjarak beberapa meter saja.
Di kejauhan, mereka bisa melihat pendaran cahaya remang memancar dari salah satu pintu sel. Baskara dan Tara saling menatap sejenak sebelum bergegas melangkah menuju ke sana.
Begitu mereka tiba di depan sel tersebut, pendaran cahaya remang itu rupanya berasal dari sebuah lampu portabel yang diletakkan begitu saja di atas lantai. Sang Dalang jelas sengaja meninggalkannya di sana sebagai penanda petunjuk.
Berbeda dengan sel-sel lain yang hanya berisi tempat tidur besi tak layak serta bilik toilet kotor berpengering wastafel dan cermin kusam, Sel 1321 ini tampak begitu berbeda. Di dalamnya berdiri sebuah meja kerja dan lemari kayu usang, jauh lebih mirip sebuah kantor tersembunyi ketimbang bilik tahanan.
Baskara melangkah masuk dengan amat hati-hati, memindai area meja dan lemari guna memastikan tidak ada ancaman atau jebakan berbahaya.
“Sekarang tinggal memecahkan arti R3. Kalian bilang itu kemungkinan merujuk pada ruang ketiga, rak ketiga, atau opsi lainnya, kan?” tanya Baskara tenang sembari menyapu pandangan. Di sisinya, Tara juga ikut memeriksa setiap sudut sel.
“Iya, Yah. Kami masih belum tahu kepastian pastinya sih,” sahut Tara tak kalah tenang.
“Baiklah. Berdasarkan kondisi ruangan ini, kemungkinan besar R3 yang dimaksud adalah rak ketiga. Ayo kita periksa tiap-tiap rak di lemari dan meja kerja ini,” perintah Baskara yang langsung disambut anggukan mantap dari sang putri.
Tara bergegas mengamati lemari kayu tua di sudut ruangan, sementara Baskara melangkah mendekati meja kerja untuk memeriksa deretan lacinya. Mereka membuka laci satu per satu. Tara menggeledah lemarinya namun tidak menemukan apa pun.
Di sisi lain, Baskara bersiap menarik laci ketiga di meja kerja. Kayunya terasa agak tersangkut dan sulit digerakkan. Baskara mencekat gagangnya lebih erat lalu mengerahkan tenaga untuk memosisikan laci tersebut.