The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #20

BAB XX - Akhir?

Setelah rekaman itu mati, Baskara mengambil kertas itu dan menginspeksi kertas tersebut. Tidak ada yang mencurigakan di kertas itu selain tulisan berisi teka-teki.

“singgasana Anggun yang terbuat dari Material emas, Bangunan di mana teknologi Inovatif berkembang pesat. di sana aku berada, di Lantai ketiga dari gedung lima belas lantai, Area di mana Mereka menyimpan Petunjuk dan Lembaran sejarah. Orang-orang yang Paham bilamana rahasia Disimpan, akan tahu Ujung dari Arah tujuan ini.”

Baskara membacakan itu dengan suara lantang. Alisnya terangkat ketika melihat ada yang aneh dari tulisan di sana, namun dia tidak bisa mengetahui apa yang aneh di sana. Terlalu lelah untuk berpikir saat ini.

“Ayah merasa ada yang aneh. Tapi Ayah tidak tahu apa itu. Sebaiknya kita tidur dulu saja, kita semua sudah lelah dan ini sudah larut malam,” ucap Baskara dengan lelah, menghela napasnya.

Arkan memperhatikan Baskara dan melihat sebuah pola yang mirip barcode di kemasan di balik kertas itu, tepat di ujung kertas. Hanya saja itu terlihat lebih pendek daripada yang biasa dia lihat.

“Ayah, sepertinya ada sesuatu di belakang kertas,” ucap Arkan dengan tenang.

Baskara mendengar ucapan putranya dan membalik kertas itu untuk melihat apa yang ditemukan putranya. “Ini barcode? Kelihatannya tidak sepanjang biasanya. Coba kau pindai ini,” ucap Baskara sambil memberikan kertas itu ke Arkan.

Arkan mengangguk dan mencoba memindai dengan pemindai barcode, namun ternyata gagal karena tidak muncul apa pun setelah dipindai.

“Gagal, Yah. Sepertinya ini belum lengkap, Yah. Biasanya kan garisnya lebih panjang dan ini terlihat seperti dibagi dua,” ucap Arkan dengan tenang sambil mengembalikan kertas itu ke Baskara.

Baskara menghela napasnya dan mengangguk. Ia memijat batang hidungnya yang terasa pening akibat kelelahan. “Ya sudah, besok Ayah minta bantuan kalian seperti biasa, ya. Sekarang istirahat saja dulu,” ucap Baskara lelah.

Arkan mengangguk. Pemuda itu mematikan komputernya setelah membesihkan log peretasan dan menyimpan salinan cadangannya di arsip basis data rahasia mereka. Arkan berdiri lalu meregangkan tubuhnya yang kaku. Matanya melirik ke arah sang adik yang masih berbaring di atas lantai beton dan tertidur sangat lelap, bahkan belum sempat mengganti pakaian taktisnya.

“Bocah ini bisa tidur di mana saja. Sepertinya kalau disuruh berbaring di tempat sampah pun dia bakal tetap bisa tidur di sana,” gumam Arkan sembari menggelengkan kepala.

Celetukan itu membuat Baskara dan Kirana serempak menoleh ke arah Tara. Tatapan kedua orang tua itu seketika melembut.

“Biar Ayah yang menggendongnya ke kamar. Kalian kembali ke kamar duluan saja,” ucap Baskara sembari bangkit berdiri lalu melangkah mendekati putrinya. Ia mengangkat tubuh Tara menggunakan kedua lengannya dengan gaya bridal carry, seperti menggendong seorang tuan putri.

Melihat pemandangan itu, Arkan refleks mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto diam-diam. Pemuda itu tersenyum jahat, berniat menunjukkan foto tersebut kepada Tara saat adiknya terbangun nanti, jelas untuk mengejeknya habis-habisan.

“Hush. Sudah, sana tidur,” tegur Baskara lembut pada Arkan yang terkekeh puas usai memotret.

Arkan menyeringai, lalu melangkah menaiki tangga ruang bawah tanah menuju kamar tidurnya. Baskara kemudian menatap Kirana. Wanita itu juga berdiri, melangkah melewati Baskara begitu saja tanpa menguarkan sepatah kata pun, kembali menyuntikkan rasa gelisah yang pekat ke dalam dada Baskara.

Baskara menghela napas panjang. Ia akhirnya menggendong putrinya menaiki tangga ruang bawah tanah, membawa Tara menuju kamar tidurnya. Di sepanjang langkahnya, pikiran sang detektif senior masih dipenuhi oleh bayang-bayang sang istri. Baskara merasa benar-benar tak kuat lagi menghadapi sikap dingin wanita yang dicintainya itu.

Setelah meletakkan putrinya di kamar tidur, Baskara langsung menuju ke kamar tidur dia dan Kirana. Ia membuka pintu perlahan dan melihat istrinya sedang duduk di tepi tempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu. Melihat itu, ia langsung mendekati istrinya, tidak tahan lagi dengan sikap dingin sang istri. Ia langsung merengkuh tubuh istrinya dari belakang, membenamkan wajahnya di pundak Kirana.

“Sayang... tolong jangan seperti ini,” bisik Baskara parau, suaranya terdengar begitu rapuh dan sarat akan keletihan murni. Lengannya memeluk erat tubuh Kirana, takut istrinya akan menghilang jika ia melepaskannya kali ini. “Hukum saja aku dengan cara apa pun... omeli aku, pukul aku... tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini. Aku tidak sanggup.”

Baskara menghela napas panjang saat membelai kehangatan tubuh istrinya di dalam pelukan. Namun Kirana tetap diam, menahan diri meskipun hatinya sebenarnya sudah mulai luluh.

“Demi Tuhan, Kirana... wanita di foto itu bukan siapa-siapa dalam hidupku. Hatiku, dari dulu sampai detik ini, cuma milikmu. Aku tidak pernah menyembunyikan wanita mana pun dari kamu,” lanjut Baskara dengan intonasi rendah yang gemetar.

Lengannya mendekap istrinya kian erat, bergeser membenamkan wajahnya di balik helaian rambut Kirana dari belakang. “Permainan bajingan itu sudah menguras fisikku... tapi sikap dingin kamu yang benar-benar membunuhku dari dalam,” bisiknya lagi dengan pelan dan memelas.

Kirana mengembuskan napas panjang yang bergetar. Kehangatan napas Baskara di lehernya dan getaran suara suaminya yang begitu tulus tak sanggup lagi ia lawan.

Perlahan, Kirana memutar tubuhnya menghadap Baskara. Sebelum wanita itu sempat mengucapkan sepatah kata pun, Baskara langsung menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Kirana, memeluk pinggang istrinya erat-erat seperti anak kecil yang takut kehilangan pegangan.

Kirana menatap pria tegap yang menjadi pelindung keluarga mereka kini memlas pasrah di pangkuannya. Rasa iba dan cinta yang membendung puluhan tahun akhirnya melelehkan seluruh sisa kemarahannya.

Jemari lentik Kirana perlahan terangkat, menyusup ke sela-sela rambut cokelat Baskara lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut.

“Ayah ini... sudah tua tapi masih saja manja,” bisik Kirana lirih, suara lembutnya kembali diwarnai nada keibuan yang menenangkan.

Baskara seketika membeku. Mendengar panggilan "Ayah" dan sentuhan hangat di rambutnya, pria itu mendongak cepat. Ada pendar lega yang luar biasa di sepasang matanya.

“Sayang... sudah tidak marah?” tanya Baskara penuh harap.

Kirana menatap Baskara lekat-lekat, menyapu gurat kelelahan di wajah tegap suaminya, lalu mengulas senyum tipis. “Aku masih kesal karena foto itu. Tapi... Aku lebih percaya pada janji dan rasa cinta Ayah selama dua puluh tahun ini dibanding jebakan musuh,” ucap Kirana lembut. Jemarinya mengusap pipi Baskara. “Bangunlah. Masa detektif senior berlutut di lantai begitu.”

Baskara menyunggingkan senyum lebar yang jujur. Ia langsung bangkit naik ke atas tempat tidur, merengkuh tubuh Kirana ke dalam pelukan hangat yang teramat erat, menyembunyikan wajahnya di balik leher sang istri.

“Terima kasih, Sayang... Terima kasih sudah percaya sama Ayah,” bisik Baskara lega.

Keesokan paginya, Baskara dan Kirana sudah kembali seperti biasa. Kini mereka berdua berada di dapur dengan Baskara yang membantu istrinya memasak, sesekali merengkuh dan memeluk istrinya dari belakang.

Saat Arkan turun dan menuju ke dapur, alisnya seketika berkedut sewaktu melihat ayah dan ibunya bertingkah seperti pasangan muda yang sedang kasmaran. Baskara tampak santai memeluk Kirana dari belakang, sementara Kirana memasak sembari sesekali mengusap lembut rambut Baskara saat sang suami menyandarkan dagunya di pundaknya.

Tak lama kemudian disusul oleh Tara yang baru saja bangun. Wajahnya terlihat jauh lebih segar karena tadi malam tidur paling awal. Melihat kakaknya mendadak berhenti di ambang pintu dapur dengan ekspresi yang terlihat muak, namun terselip rasa senang karena orang tua mereka sudah berbaikan, Tara mengangkat sebelah alisnya heran.

“Kenapa, Kak?” tanya Tara santai. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, namun ia sudah menukar pakaian taktis semalam dengan kaos santai sebelum turun.

Gadis itu berhenti di sebelah Arkan lalu menyapu pandangan ke dalam dapur. Matanya menangkap sang ayah yang menempel seperti perangko pada ibunya, membuat Tara berkedip pelan.

“Mereka sudah baikan?” bisik Tara pada Arkan.

Arkan hanya mengangkat bahu lalu menghembuskan napas panjang. “Ya, sepertinya. Lihat saja mereka, sudah mirip remaja puber,” cetus Arkan sembari melangkah masuk ke dalam dapur, disusul oleh Tara di belakangnya.

Baskara mendengar langkah kaki kedua buah hatinya dan menyeringai lebar. Ia memeluk istrinya makin erat dari belakang.

“Kenapa ekspresimu seperti itu, Arkan? Tidak suka melihat Ayah bermesraan seperti ini dengan Ibu?” tanya Baskara dengan nada sombong, seolah-olah baru saja memenangkan pertaruhan, meskipun mereka tidak pernah bertaruh apa pun.

Arkan memutar bola matanya lalu mendaratkan tubuhnya di kursi meja makan. “Nggak sih, baguslah. Beberapa hari ini Ayah sudah seperti mayat hidup,” ejek Arkan, disusul kekehan geli dari Tara yang ikut duduk di tempatnya, tak ingin mengganggu kedekatan kedua orang tua mereka.

Baskara terkekeh santai. “Ya gimana dong. Oksigen Ayah kan lagi ngambek kemarin, makanya Ayah jadi kayak mayat hidup,” sahut Baskara tanpa berniat melepaskan pelukannya dari Kirana.

“Duh, Ayah. Sudah ah, malu dilihat anak-anak. Ayah kan juga harus siap-siap kerja. Ibu tidak bisa bergerak kalau Ayah memeluk seperti ini terus,” oceh Kirana sembari perlahan melepaskan lengan Baskara dari pinggangnya, membuat Baskara berpura-pura cemberut.

“Iya deh...” ucap Baskara dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

Mendengar itu, Arkan memperlihatkan ekspresi jijik nan muak melihat sikap ayahnya. Namun di dalam hati, Arkan lega luar biasa karena atmosfer rumah tangga mereka telah kembali normal. Perang dingin resmi berakhir. Di sebelahnya, Tara hanya terkekeh geli melihat kelakuan sang ayah.

Baskara akhirnya melangkah dan duduk bergabung dengan kedua anaknya, sementara Kirana menyajikan masakan hangat yang baru matang ke atas piring masing-masing di meja makan.

Mereka menikmati sarapan dalam suasana hangat. Sesekali candaan dan tawa renyah terdengar meramaikan dapur, bersahut-sahutan dengan suara dentang sendok yang menyentuh piring.

Lihat selengkapnya