Baskara segera bersiap dengan pakaian biasanya, lalu keluar dari rumah dengan terburu-buru untuk menuju kantor polisi. Meskipun di sana pasti masih ramai oleh rekan-rekan kerjanya, ia harus segera menghentikan kegilaan ini. Pikirannya berpacu memikirkan siapa sosok yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua teror ini.
Mulai dari teka-teki awal yang seharusnya membutuhkan akses khusus, hingga teka-teki terakhir saat Tara mengambil Amplop Dua dari perpustakaan gedung pemerintahan, semuanya adalah tempat yang tidak bisa dimasuki oleh orang sembarangan. Sehebat apa pun pelakunya, pasti sulit dilakukan jika mereka tidak memiliki "orang dalam" yang mampu mengakses server publik seperti yang dilakukan Arkan.
Keluarganya memiliki keterikatan dengan pemerintahan dan negara bahkan sebelum mereka lahir, sehingga mudah bagi mereka untuk menembus sistem kota dan negara. Maka, Sang Dalang seharusnya adalah seseorang yang memiliki keterikatan yang sama. Terlebih lagi, sosok itu tahu betul bahwa apa yang dilakukan Keluarga Wiranata adalah hal ilegal, terlepas dari fakta bahwa tujuannya adalah untuk membantu penyelidikan.
Hanya ada satu orang yang tahu tentang hal itu: sahabatnya. Tapi bagaimana mungkin sahabatnya tega melakukan ini? Baskara tahu betul sahabatnya itu sangat menjunjung tinggi keadilan, dan ia tahu Baskara memanfaatkan kekuatan tim bayangannya demi menegakkan keadilan tersebut.
Pukul 18.57 WIB, Baskara tiba di kantor polisi. Sebagian petugas sudah pulang, namun area Divisi Forensik terlihat sangat sepi, seolah-olah sengaja dibubarkan lebih awal. Langkahnya terengah-engah. Ia berhasil menyusup masuk tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang-orang di sekitar atas kehadirannya yang tergesa-gesa.
Ia menyusuri ruangan Divisi Forensik dan berhenti di depan meja kerja sahabatnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Baskara masih menolak untuk mencurigai Yuda. Namun, ia tetap memeriksa laci nomor dua di meja tersebut sesuai petunjuk teka-teki terakhir dari barcode tadi.
Napas Baskara seketika tercekat.
Di dalam laci itu tergeletak sebuah foto keluarga Yuda—menampilkan Yuda, istrinya, dan kedua anak mereka yang sedang tersenyum bahagia. Baskara teringat kembali. Wanita dan anak-anak di dalam foto itu adalah keluarga Yuda. Wanita itu dulu mengalami depresi berat hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya bersama kedua anaknya akibat kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh kepolisian, meninggalkan Yuda sendirian di dunia ini.
Di samping foto tersebut, terdapat sebuah tabung kecil. Saat Baskara menyentuhnya, tabung itu memancarkan proyeksi hologram Yuda yang kini tidak lagi mengenakan topeng, disertai gema suara bariton aslinya.
“Selamat malam, Baskara,” suara Yuda bergema halus. “Jika kau berdiri di mejaku, artinya kau sudah tahu siapa aku. Sepuluh tahun lalu, keluargaku hancur karena hukum yang kaku dan buta. Kau mengagungkan hukum itu, Bas... sementara aku membencinya. Permainan ini kulakukan bukan untuk membunuhmu, melainkan untuk membuktikan bahwa hukummu gagal, dan untuk memperlihatkan pada dunia bahwa keluarga idealmu pun bergerak secara ilegal di luar hukum.”
“Kau gila... Yuda...” gumam Baskara parau.
Ia mengira itu hanyalah rekaman otomatis seperti biasa, namun proyeksi Yuda mendadak membalas ucapannya dengan sinis secara real-time.
“Mungkin. Kewarasanku sudah hilang sejak kegagalanmu dalam menuntaskan kasus itu. Ingatkah kau saat aku memohon bantuanmu untuk menuntaskan kasus yang melibatkan istri dan anak-anakku? Kau malah menolakku dan berdalih bahwa hukum yang akan membalasnya! Namun sampai sekarang, pelaku itu tidak pernah tertangkap! Kasus malapraktik teknologi yang menjebak istriku membuatnya depresi karena namanya dikecam publik... semua orang memusuhinya karena kasus itu, dan kau malah menyuruhku menunggu hukum yang menentukannya! Tak lama setelah itu, istriku mengambil nyawanya sendiri, membawa serta anak-anak kami yang bahkan tidak tahu apa-apa!”
Ucap Yuda dengan nada yang bergetar hebat oleh amarah dan dendam yang membakar.
“Kau ke sini ingin menghentikan pemancaran yang akan diluncurkan nanti malam, kan? Sayang sekali, semuanya sudah diatur untuk diluncurkan tepat pada jam segitu. Tidak ada jalan bagimu untuk menghentikannya, Baskara Wiranata!” lanjut Yuda sembari tertawa jahat.
BZZZT!
Proyeksi hologram itu mendadak mati total. Tepat di saat yang sama, tabung kecil di atas meja hancur oleh ledakan mikro, memicu percikan api yang membakar habis foto keluarga Yuda yang tergeletak di dalam laci tersebut.
Baskara mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Pria itu menyentuh The Phantom Ear di telinganya dan memberi perintah dengan nada tinggi penuh desakan.
“ARKAN! KIRANA! SEGERA RETAS SERVER KOTA DAN HENTIKAN SIARAN ITU!”
Di rumah, Kirana dan Arkan yang mendengar perintah panik Baskara langsung bergerak cepat meretas server utama kota guna membatalkan siaran otomatis tersebut. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa tindakan itu adalah jebakan terakhir yang telah dirancang presisi oleh Yuda: memancing mereka melakukan intrusi langsung agar sistem mampu mencatat seluruh log peretasan ilegal Keluarga Wiranata secara real-time.
Setiap kali Kirana dan Arkan mencoba menerobos masuk ke dalam direktori siaran publik untuk membatalkan program, pertahanan siber tersebut selalu mementalkan serangan mereka. Tanpa mereka ketahui, sistem Yuda secara otomatis mengisolasi dan merekam seluruh jejak percobaan peretasan tersebut sebagai bukti kejahatan siber mutlak.
Sementara itu, di sebuah lokasi tersembunyi yang terisolasi dari dunia luar, beberapa layar lebar membentang megah di dinding. Ruangan gelap itu hanya diterangi oleh pendar cahaya biru dari jajaran monitor raksasa. Yuda berdiri di tengah ruangan, memegang segelas wine seolah tengah merayakan detik-detik menjelang kehancuran Keluarga Wiranata.
“Salahmu sendiri karena kau terlalu mempercayai hukum yang kauagungkan itu, Bas... Jika saja kau membantuku saat itu, mereka pasti masih ada di sini bersamaku,” ucap Yuda dingin sembari menatap deretan layar di depannya. “Sekarang kau malah bersenang-senang dengan keluarga kecilmu, sementara kau sendiri melakukan hal ilegal di balik bayangan. Aku tidak akan membiarkan kebahagiaanmu itu bertahan, Bas...”
Yuda mengulas senyum tipis yang kelam, lalu menyesap wine-nya dalam diam.
Kembali ke sudut kota, Baskara memacu langkah bergerak menyisir setiap lokasi untuk mencari keberadaan Yuda. Namun, sosok sahabatnya itu seolah menguap ditelan bumi. Semua tempat yang Baskara ketahui sering dikunjungi oleh Yuda telah ia satroni satu per satu, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Yuda di mana pun.
Jam dinding siber merayap menunjukkan pukul 21.30 WIB. Hanya tersisa satu setengah jam lagi sebelum siaran pemusnah itu meledak di seluruh kota.
Di ruang bawah tanah rumah, Kirana dan Arkan terus berjuang memeras otak untuk membobol dinding pertahanan lawan. Namun, Yuda tahu betul sejauh mana batas keahlian dan teknologi yang dimiliki Keluarga Wiranata. Dengan pengetahuan mendalamnya tentang "dapur" mereka, Yuda telah merancang benteng siber yang nyaris mustahil ditembus oleh teknologi rakitan Arkan.
Kirana dan Arkan terus berjuang memeras otak hingga detik terakhir. Tepat saat jam dinding siber menyentuh angka pukul 23.00 WIB, seluruh layar hologram publik, siaran televisi nasional, hingga videotron komersial di penjuru Kota Askara mendadak terputus oleh sinyal darurat BREAKING NEWS.
BZZZT!
Sebuah siaran peringatan darurat nasional menembus server kota, memancarkan sinyal pembobolan siber aktif yang berdenyut merah, lengkap dengan pelacakan titik koordinat geografis yang mengunci tepat di kediaman Keluarga Wiranata!
Di ruang tengah, Tara menyalakan televisi. Sepasang mata emerald-nya melebar dalam horor murni saat menyaksikan rahasia terbesar keluarganya dikuliti secara telanjang di hadapan publik.